30 Maret 2020

SERANG BALIK COVID-19 FORKOPIMCAM ABUNG SEMULI DGN MENGHIMBAU WARGA UTK TIDAK BUAT ACARA BERKUMPUL/KERAMAIAN.


GEDUNGTIGAPERS, ABUNG SEMULI.
Danramil 412-11/Ab.Sem dan Forkopimcam Abung Semuli menghimbau warga untuk tidak mengadakan hajatan (Senin 30 Maret 2020 pukul 12.30 wib).

Lampung Utara, Danramil Kapten Inf Gus Amirul bersama Camat Bpk Rohim Fauzi, Kapolsek AKP Tarwidi, Kades Bpk Miakihara , Bpk Iswanto dari Puskesmas Abung Semuli, Tokoh masyarakat Bpk Noto dan Sekcam Bpk Sapto melaksanakan himbauan larangan berkumpul/membuat keramain untuk mencegah penularan Covid-19 kepada warga a.n Mbah Marjo Dusun Jatayu RT/RW 004/004 Desa Semuli Jaya Kec Abung Semuli yang akan mengadakan walimatul khitanan cucunya rencana akan dilaksanakan pada hari Kamis 2 April 2020. Dalam pertemuan tersebut sepakat tidak melaksanakan kegiatan walimatul khitanan cukup keluarga dan tidak mengundang warga masyarakat sekitar cuma membagikan/mengantar makanan/berkat kepada warga masyarakat sekitar.

Dalam penyampaiannya Danramil mewakili Forkopimcam Abung Semuli menyampaikan bahwa himbauan pemerintah agar tidak melaksanakan kegiatan hajatan, pernikahan atau yang lainnya guna mencegah penularan Covid-19. Kami mengucapkan terimakasih kepada Mbah Marjo telah mengikuti perkembangan nasional sehingga paham tentang himbauan tersebut, ujarnya.#faril.

DANRAMIL 412-11/ABUNG SEMULI IKUT SERTA MENGHADIRI PEMBENTUKAN GUGUS TUGAS PENCEGAHAN COVID-19


LAMPUNG UTARA, ABUNG SEMULI.
Pembentukan Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 Kecamatan Abung Semuli turut hadir Danramil 412-11/Abung Semuli (Senin 30 Maret 2020 pukul 09.00 wib).

Lampung Utara. Kapten Inf Gus Amirul Danramil 412-11/Abung Semuli menghadiri Undangan Rapat Pembentukan Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 Kecamatan Abung Semuli dan sekaligus pembentukan Desa Siaga Covid-19 se_Kecamatan Abung Semuli. Hadir dalam acara tersebut sbb : Camat Abung Semuli Bpk Rohim Fauzi, S.H., M.M., Danramil 412-11/Abung Semuli Kapten Inf Gus Amirul, Kapolsek Abung Semuli AKP Tarwidi, Kepala Puskesmas Abung Semuli Ibu dr May Madinah, Para Kades, Sekdes dan Ketua BPD sekitar 27 org.

Dalam sambutannya Camat menyampaikan bahwa himbauan dari Bupati LU  bertujuan agar warga masyarakat mengerti dan memahami aturan dan pembatasan, sosial distancing dan karantina mandiri 14 hari apabila ada warga yang datang dari daerah/wilayah epidemi Covid-19. Surat tugas Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 Kecamatan Abung Semuli akan disebarkan secepatnya, ujarnya.

Dalam Sambutannya dr May Madinah Kepala Puskesmas Abung Semuli menyampaikan bahwa wabah Covid-19 perlu ditangani secara serius oleh semua elemen masyarakat karena tampa peran aktif warga masyarakat kita tidak akan mudah menahan penularan Covid-19 ini. Mari kita saling bahu membahu menyampaikan informasi kepada warga masyarakat tentang pentingnya pula hidup sehat dan pola makan sehat, ujarnya.

Dalam sambutannya Danramil menyampaikan bahwa kita semua wajib mengikuti aturan dan ketentuan yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk itu mari sikapi dengan Arip dan bijaksana. Sosial Distancing mari kita terapkan jangan sampai hanya sebagai slogan saja, mari kita cegah dari sekarang dari pada mengobati. Kemudian untuk ketentuan kegiatan agama agar mengikuti anjuran dan edaran dari Kementerian agama, pungkasnya.#FRL.

SERANGAN COVID-19 DANRAMIL 412-11/ABUNG SEMULI HADIRI PEMBENTUKAN GUGUS TUGAS PENCEGAHAN


LAMPUNG UTARA, ABUNG SEMULI.
Danramil 412-11/Abung Semuli menghadiri Undangan Pembentukan Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 Kecamatan Abung Semuli (Senin 30 Maret 2020 pukul 09.00 wib).

Lampung Utara. Kapten Inf Gus Amirul Danramil 412-11/Abung Semuli menghadiri Undangan Rapat Pembentukan Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 Kecamatan Abung Semuli dan sekaligus pembentukan Desa Siaga Covid-19 se_Kecamatan Abung Semuli. Hadir dalam acara tersebut sbb : Camat Abung Semuli Bpk Rohim Fauzi, S.H., M.M., Danramil 412-11/Abung Semuli Kapten Inf Gus Amirul, Kapolsek Abung Semuli AKP Tarwidi, Kepala Puskesmas Abung Semuli Ibu dr May Madinah, Para Kades, Sekdes dan Ketua BPD sekitar 27 org.

Dalam sambutannya Camat menyampaikan bahwa himbauan dari Bupati LU  bertujuan agar warga masyarakat mengerti dan memahami aturan dan pembatasan, sosial distancing dan karantina mandiri 14 hari apabila ada warga yang datang dari daerah/wilayah epidemi Covid-19.

Dalam Sambutannya dr May Madinah Kepala Puskesmas Abung Semuli menyampaikan bahwa wabah Covid-19 perlu ditangani secara serius oleh semua elemen masyarakat karena tampa peran aktif warga masyarakat kita tidak akan mudah menahan penularan Covid-19 ini. Mari kita saling bahu membahu menyampaikan informasi kepada warga masyarakat tentang pentingnya pula hidup sehat dan pola makan sehat, ujarnya.

Dalam sambutannya Danramil menyampaikan bahwa kita semua wajib mengikuti aturan dan ketentuan yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk itu mari sikapi dengan Arip dan bijaksana. Sosial Distancing mari kita terapkan jangan sampai hanya sebagai slogan saja, mari kita cegah dari sekarang dari pada mengobati. Kemudian untuk ketentuan kegiatan agama agar mengikuti anjuran dan edaran dari Kementerian agama, pungkasnya.#Faril.

28 Maret 2020

"TEGAS" PEMBUBARAN ORANG BERKUMPUL DI SURAKARTA



LAMPUNG UTARA, SURAKARTA.
kegiatan Koramil 08/ABT pd hari ini sabtu 28 - 03 -2020 Melaksanakan pembubaran  tempat hajatan di rumah bapak Alek di desa tatakarya kec abung surakartaB Bersama dgn pihak kepolian dalam hal ini  anggota polres  dan polsek abung timur serta seluruh anggota koramil 08/ABT dipimpin oleh pelda sadeli arifin Kegiatan berjalan aman tertib dan lancar Dari arahan pihak polres lampung utara yg di sampaikan oleh kanit  


Dari pihak keluarga yg punya hajat dapat menerima  dg lapang dada dan dpt menyadari adanya aturan bahwa merebahnya virus corona dan salah satunya mencegah dan memutus  mata rantai  penularan dg tdk mengadakan kontak langsung dgn lawan bicara apalagi sudah berdekatan serta membuat acara tempat berkumpulnya orang banyak

Senada juga disampaikan  langsung di  tempat hajatan bpk H. Wulamarnan. Desa penagan Kec. abung timur Acara pembubaran berjalan dg aman tertib dan lancar semoga kita terhindar dari Pandemi/Wabah Virus Corona Covid-19 pungkasnya.#frl.

27 Maret 2020

STERILISASI PERKEMBANGAN COVID-19 PARA FORKOPIMCAM KOTABUMI SELATAN PERANGI CORONA BERSAMA WARGA



LAMPUNG UTARA, KOTABUMI SELATAN.
Koramil 412-04 Kotabumi adakan Kegiatan Pembersihan penyemprotan dalam rangka pencegahan penyebaran virus CORONA COVID -19 Kec.Kotabumi selatan Kab.LU.


Jumat, 27/3/2020 Pkl 09.00 Wib Telah Dilaksanakan Pembersihan Penyemprotan Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Virus Corona COVID - 19 Oleh Koramil 412-04 Kotabumi Di desa Mulang Maya,Desa Curup,Karang Kagungan kec.Kotabumi selatan Kab LU.

Adapun yang hadir dalam Pembersihan Penyemprotan Pencegahan Penyebaran Virus CORONA COVID - 19 Sbb : Camat Kotabumi selatan Bpk Harihusin, Danramil 412-04 Lettu Inf Jauhari, Wakapolsek Kotabumi Utara Iptu Farikin, Kades Desa Mulang maya Bpk Aluan, Kades Desa Curup guruh kangungan Bpk Nizom, Kepala desa karang  agung Bpk Banistri, Ka Puskesmas Kotabumi selatan.



Adapun Fasilitas umum yang dilakukan penyemportan Sbb :
- Kantor camat Kotabumi selatan.
- Kantor Desa Mulang Maya.
- Mesjid Muslimin Desa Mulang Maya.
- Masjid Al- iklas Desa Karang agung
- Masjid didesa Curup guruh kagungan.

Sambutan Danramil 412-04 Kotabumi Lettu inf Jauhari Sbb :
- Kita melaksanakan Pembersihan Penyemprotan ini untuk mencegah dan mengantisipasi penyebaran Virus Corona atau COVID -19.

- Karna kita sudah tau semua bahwa virus ini sangat berbahaya ini untuk kepentingan bersama demi kesehatan masyarakat.

- Apabila mendengar ada warga yang baru datang dari luar yg selama ini mencari Nabkah diprovinsi lain, mak segera melaporkan diri kepihak kesehatan/Puskesmas setempat agar segera di cek kesehatan.#frl

STERILISASI CEGAH TANGKAL COVID-19 PERSONEL KORAMIL 412-08/ABT LAKS PENYEMPROTAN

 

Lampung Utara, Abung Timur.
Kegiatan penyemprotan Personel Koramil 412-08/ABT bekerja sama dgn puskesmas  desa tatakarya kec abung surakarta cegah Tangkal Covid-19.Yang di hadiri :

- camat abung surakarya bpk m Nur
- bpk kapolsek abung timur iptu tarmuji  
- bersama  dg bpk kepala desa tatakarya bpk tasrip mz
- anggota puskes ahli gizi bpk m. ALi 
- Seluruh anggota koramil 08/ABT

Sasaran

1. Pasar  desa tatakarya kec abung surakarta
2. Kantor desa tatakarya 
3. Kantor desa bandar saktu
4. Kantor desa karya sakti



#(arsipmil412-08/ABT)

Perangi Covid-19 Koramil 412-11/Abung Semuli bersama Forkopimcam Abung Semuli melaksanakan kegiatan Penyemprotan Disinfektan


Perangi Covid-19 Koramil 412-11/Abung Semuli bersama Forkopimcam Abung Semuli melaksanakan kegiatan Penyemprotan Disinfektan ( Jum'at 27 Maret 2020 pukul 09.00 Wib ).

Lampung Utara, Koramil 412-11/Abung Semuli bersama Forkopimcam Abung Semuli melaksanakan kegiatan penyemprotan disinfektan ditempat keramaian wilayah kecamatan Abung Semuli. Turut hadir dalam acara tersebut sbb : Camat Abung Semuli Bpk Rohim Fauzi, S.H., M.M. beserta staf, Danramil 412-11/Abung Semuli Kapten Inf Gus Amirul beserta Babinsa, Kapolsek Abung Semuli AKP Tarwidi beserta anggota dan Kepala Puskesmas Abung Semuli Ibu dr. May Madinah beserta staf.

Adapun sasaran penyemprotan  antara lain Kantor Abung Semuli, Kantor Koramil 412-11/Abung Semuli, Masjid Al Muhajirin Desa Semuli Jaya, Masjid Nurul Islam Desa Semuli Jaya, Masjid Baiturahman Desa Semuli Jaya, Balai Desa Semuli Jaya, Pasar Semuli Jaya, Masjid Nurul Huda Desa Sukamaju, Masjid Al Furqon Desa Sukamaju, Balai Desa Sukamaju, Balai Desa Semuli Raya, Kantor Polsek Abung Semuli, Pasar Semuli Raya dan Puskesmas Abung Semuli.


Dalam sambutannya Camat Abung Semuli menyampaikan terimakasih atas kehadiran bapak/ibu/saudara yang telah menyempatkan waktu untuk melaksanakan kegiatan penyemprotan disinfektan ditempat keramaian umum wilayah kecamatan Abung Semuli guna mencegah wabah Covid-19, ujarnya.

Dalam sambutannya Danramil menyampaikan bahwa tujuan dari penyemprotan ini adalah sebagai salah satu upaya untuk memutus mata rantai penularan virus Covid-19. Untuk itu kami selaku Forkopimcam Abung Semuli akan berupaya semaksimal mungkin menghimbau kepada seluruh warga masyarakat kecamatan Abung Semuli untuk menerapkan pola hidup sehat, pola makan sehat dan sosial distance sehingga kita semua terhindar dari wabah Covid-19, pungkasnya#faril

FORKOPIMCAM ABUNG SEMULI CEGAH TANGKAL COVID-19



Koramil 412-11/Abung Semuli bersama Forkopimcam Abung Semuli melaksanakan kegiatan Penyemprotan Disinfektan ( Jum'at 27 Maret 2020 pukul 09.00 Wib ).

Lampung Utara, Koramil 412-11/Abung Semuli bersama Forkopimcam Abung Semuli melaksanakan kegiatan penyemprotan disinfektan ditempat keramaian wilayah kecamatan Abung Semuli. Turut hadir dalam acara tersebut sbb : Camat Abung Semuli Bpk Rohim Fauzi, S.H., M.M. beserta staf, Danramil 412-11/Abung Semuli Kapten Inf Gus Amirul beserta Babinsa, Kapolsek Abung Semuli AKP Tarwidi beserta anggota dan Kepala Puskesmas Abung Semuli Ibu dr. May Madinah beserta staf.

Adapun sasaran penyemprotan  antara lain Kantor Abung Semuli, Kantor Koramil 412-11/Abung Semuli, Masjid Al Muhajirin Desa Semuli Jaya, Masjid Nurul Islam Desa Semuli Jaya, Masjid Baiturahman Desa Semuli Jaya, Balai Desa Semuli Jaya, Pasar Semuli Jaya, Masjid Nurul Huda Desa Sukamaju, Masjid Al Furqon Desa Sukamaju, Balai Desa Sukamaju, Balai Desa Semuli Raya, Kantor Polsek Abung Semuli, Pasar Semuli Raya dan Puskesmas Abung Semuli.



LIHAT JUGA : KLIK DISINI YouTube!!!

Dalam sambutannya Camat Abung Semuli menyampaikan terimakasih atas kehadiran bapak/ibu/saudara yang telah menyempatkan waktu untuk melaksanakan kegiatan penyemprotan disinfektan ditempat keramaian umum wilayah kecamatan Abung Semuli guna mencegah wabah Covid-19, ujarnya.

Dalam sambutannya Danramil menyampaikan bahwa tujuan dari penyemprotan ini adalah sebagai salah satu upaya untuk memutus mata rantai penularan virus Covid-19. Untuk itu kami selaku Forkopimcam Abung Semuli akan berupaya semaksimal mungkin menghimbau kepada seluruh warga masyarakat kecamatan Abung Semuli untuk menerapkan pola hidup sehat, pola makan sehat dan sosial distance sehingga kita semua terhindar dari wabah Covid-19, pungkasnya.#frl

26 Maret 2020

CEGAH TANGKAL COVID-19 PARA FORKOPIMCAM ABUNG TIMUR LAKSANAKAN SOSIALISASI DAN KONTROLISASI KE WARGA ABUNG TIMUR


LAMPUNG UTARA, ABUNG SURAKARTA.
Pada hari Kamis 26 Maret 2020 Pkl 09.00 Wib telah dilaksanakan patroli 4 Anggota  Koramil 412-08/ABT DPP. Sertu PURWATNO dan Anggota Polsek Abung Surakarta DPP.Kapolsek Abung Surakarta Iptu TARMUJI Beserta Camat Abung Surakarta Drs M Nur dan Kepala Puskesmas Kecamatan Abung Surakarta menggunakan 3 unit ran roda empat ...dan 2 unit ran roda dua dlm rangka sosialisasi cegah tangkal mewabahnya virus Corona di wil binaan Koramil 412-08/ABT dengan Route  Kantor Cmat Abung Surakarta-Desa Tayakarya- Desa Sukoharjo  - Desa Bumirestu- Desa Bumiharja - Desa Purbasakti- Desa Karyasakti. Kembali ke Kecamatan. 

 Adapun himbauan yang disampaikan adalah sbb :

- Menghimbau masyarakat untuk menyikapi penyebaran wabah corona yang terjadi dgn tetap tenang, dan juga tetap waspada.

- Menghimbau masyarakat untuk membiasakan hidup sehat, mengkonsumsi makanan bergizi, rajin orahraga dan mencuci tangan dengan sabun setiap kali beraktifitas.

- Menghimbau masyarakat untuk membatasi dan menunda kegiatan yang melibatkan banyak orang sampai situasi membaik.

- Menghimbau kepada masyarakat jika mengalami sakit dengan batuk,pilek,dan gangguan pernapasan agar segera periksa ke RS terdekat.

 Kegiatan Patroli dalam rangka sosialisasi cegah tangkal wabah virus corona berlangsung lancar, tertib serta aman.#frl

25 Maret 2020

SEJARAH TNI


SEJARAH TNI

Tentara Nasional Indonesia (TNI) lahir dalam kancah perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan dari ancaman Belanda yang berambisi untuk menjajah Indonesia kembali melalui kekerasan senjata. TNI merupakan perkembangan organisasi yang berawal dari Badan Keamanan Rakyat (BKR). Selanjutnya pada tanggal 5 Oktober 1945 menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan untuk memperbaiki susunan yang sesuai dengan dasar militer international, dirubah menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI).

Dalam perkembangan selanjutnya usaha pemerintah untuk menyempurnakan tentara kebangsaan terus berjalan, seraya bertempur dan berjuang untuk tegaknya kedaulatan dan kemerdekaan bangsa. Untuk mempersatukan dua kekuatan bersenjata yaitu TRI sebagai tentara regular dan badan-badan perjuangan rakyat, maka pada tanggal 3 Juni 1947 Presiden mengesyahkan dengan resmi berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Pada saat-saat kritis selama Perang Kemerdekaan (1945-1949), TNI berhasil mewujudkan dirinya sebagai tentara rakyat, tentara revolusi, dan tentara nasional. Sebagai kekuatan yang baru lahir, disamping TNI menata dirinya, pada waktu yang bersamaan harus pula menghadapi berbagai tantangan, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Dari dalam negeri, TNI menghadapi rongrongan-rongrongan baik yang berdimensi politik maupun dimensi militer. Rongrongan politik bersumber dari golongan komunis yang ingin menempatkan TNI dibawah pengaruh mereka melalui â€Å“Pepolit, Biro Perjuangan, dan TNI-Masyarakat:. Sedangkan tantangan dari dalam negeri yang berdimensi militer yaitu TNI menghadapi pergolakan bersenjata di beberapa daerah dan pemberontakan PKI di Madiun serta Darul Islam (DI) di Jawa Barat yang dapat mengancam integritas nasional. Tantangan dari luar negeri yaitu TNI dua kali menghadapi Agresi Militer Belanda yang memiliki organisasi dan persenjataan yang lebih modern.

Sadar akan keterbatasan TNI dalam menghadapi agresi Belanda, maka bangsa Indonesia melaksanakan Perang Rakyat Semesta dimana segenap kekuatan TNI dan masyarakat serta sumber daya nasional dikerahkan untuk menghadapi agresi tersebut. Dengan demikian, integritas dan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia telah dapat dipertahankan oleh kekuatan TNI bersama rakyat.

Sesuai dengan keputusan Konferensi Meja Bundar (KMB), pada akhir tahun 1949 dibentuk Republik Indonesia Serikat (RIS). Sejalan dengan itu, dibentuk pula Angkatan Perang RIS (APRIS) yang merupakan gabungan TNI dan KNIL dengan TNI sebagai intinya. Pada bulan Agustus 1950 RIS dibubarkan dan Indonesia kembali ke bentuk Negara kesatuan. APRIS pun berganti nama menjadi Angkatan Perang RI (APRI).

Sistem demokrasi parlementer yang dianut pemerintah pada periode 1950-1959, mempengaruhi kehidupan TNI. Campur tangan politisi yang terlalu jauh dalam masalah intern TNI mendorong terjadinya Peristiwa 17 Oktober 1952 yang mengakibatkan adanya keretakan di lingkungan TNI AD. Di sisi lain, campur tangan itu mendorong TNI untuk terjun dalam kegiatan politik dengan mendirikan partai politik yaitu Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IP-KI) yang ikut sebagai kontestan dalam Pemilihan Umum tahun 1955.

Periode yang juga disebut Periode Demokrasi Liberal ini diwarnai pula oleh berbagai pemberontakan dalam negeri. Pada tahun 1950 sebagian bekas anggota KNIL melancarkan pemberontakan di Bandung (pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil/APRA), di Makassar Pemberontakan Andi Azis, dan di Maluku pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS). Sementara itu, DI TII Jawa Barat melebarkan pengaruhnya ke Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Aceh. Pada tahun 1958 Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia/Perjuangan Rakyat Semesta (PRRI/Permesta) melakukan pemberontakan di sebagian besar Sumatera dan Sulawesi Utara yang membahayakan integritas nasional. Semua pemberontakan itu dapat ditumpas oleh TNI bersama kekuatan komponen bangsa lainnya.

Upaya menyatukan organisasi angkatan perang dan Kepolisian Negara menjadi organisasi Angkatan Bersenjata Republika Indonesia (ABRI) pada tahun 1962 merupakan bagian yang penting dari sejarah TNI pada dekade tahun enampuluhan.

Menyatunya kekuatan Angkatan Bersenjata di bawah satu komando, diharapkan dapat mencapai efektifitas dan efisiensi dalam melaksanakan perannya, serta tidak mudah terpengaruh oleh kepentingan kelompok politik tertentu. Namun hal tersebut menghadapi berbagai tantangan, terutama dari Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai bagian dari komunisme internasional yang senantiasa gigih berupaya menanamkan pengaruhnya ke dalam tatanan kehidupan bangsa Indonesia termasuk ke dalam tubuh ABRI melalui penyusupan dan pembinaan khusus, serta memanfaatkan pengaruh Presiden/Panglima Tertinggi ABRI untuk kepentingan politiknya.

Upaya PKI makin gencar dan memuncak melalui kudeta terhadap pemerintah yang syah oleh G30S/PKI, mengakibatkan bangsa Indonesia saat itu dalam situasi yang sangat kritis. Dalam kondisi tersebut TNI berhasil mengatasi situasi kritis menggagalkan kudeta serta menumpas kekuatan pendukungnya bersama-sama dengan kekuatan-kekuatan masyarakat bahkan seluruh rakyat Indonesia.

Dalam situasi yang serba chaos itu, ABRI melaksanakan tugasnya sebagai kekuatan hankam dan sebagai kekuatan sospol. Sebagai alat kekuatan hankam, ABRI menumpas pemberontak PKI dan sisa-sisanya. Sebagai kekuatan sospol ABRI mendorong terciptanya tatanan politik baru untuk melaksanakan Pancasila dan UUD 45 secara murni dan konsekwen.

Sementara itu, ABRI tetap melakukan pembenahan diri dengan cara memantapkan integrasi internal. Langkah pertama adalah mengintegrasikan doktrin yang akhirnya melahirkan doktrin ABRI Catur Dharma Eka Karma (Cadek). Doktrin ini berimplikasi kepada reorganisasi ABRI serta pendidikan dan latihan gabungan antara Angkatan dan Polri. Disisi lain, ABRI juga melakukan integrasi eksternal dalam bentuk kemanunggalan ABRI dengan rakyat yang diaplikasikan melalui program ABRI Masuk Desa (AMD).

Peran, Fungsi dan Tugas TNI (dulu ABRI) juga mengalami perubahan sesuai dengan Undang-Undang Nomor: 34 tahun 2004. TNI berperan sebagai alat negara di bidang pertahanan yang dalam menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara. TNI sebagai alat pertahanan negara, berfungsi sebagai: penangkal terhadap setiap bentuk ancaman militer dan ancaman bersenjata dari luar dan dalam negeri terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa, penindak terhadap setiap bentuk ancaman sebagaimana dimaksud di atas, dan pemulih terhadap kondisi keamanan negara yang terganggu akibat kekacauan keamanan.

Tugas pokok TNI adalah menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.

Tugas pokok itu dibagi 2(dua) yaitu: operasi militer untuk perang dan operasi militer selain perang.

Operasi militer selain perang meliputi operasi mengatasi gerakan separatis bersenjata, mengatasi pemberontakan bersenjata, mengatasi aksi terorisme, mengamankan wilayah perbatasan, mengamankan objek vital nasional yang bersifat strategis, melaksanakan tugas perdamaian dunia sesuai dengan kebijakan politik luar negeri, mengamankan Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarganya, memberdayakan wilayah pertahanan dan kekuatan pendukungnya secara dini sesuai dengan sistem pertahanan semesta, membantu tugas pemerintahan di daerah, membantu Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam rangka tugas keamanan dan ketertiban masyarakat yang diatur dalam undang-undang, membantu mengamankan tamu negara setingkat kepala negara dan perwakilan pemerintah asing yang sedang berada di Indonesia, membantu menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian, dan pemberian bantuan kemanusiaan, membantu pencarian dan pertolongan dalam kecelakaan (search and rescue) serta membantu pemerintah dalam pengamanan pelayaran dan penerbangan terhadap pembajakan, perompakan dan penyelundupan.

Sementara dalam bidang reformasi internal, TNI sampai saat ini masih terus melaksanakan reformasi internalnya sesuai dengan tuntutan reformasi nasional. TNI tetap pada komitmennya menjaga agar reformasi internal dapat mencapai sasaran yang diinginkan dalam mewujudkan Indonesia baru yang lebih baik dimasa yang akan datang dalam bingkai tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahkan, sejak tahun 1998 sebenarnya secara internal TNI telah melakukan berbagai perubahan yang cukup signifikan, antara lain:

Pertama, merumuskan paradigma baru peran ABRI Abad XXI.
Kedua, merumuskan paradigma baru peran TNI yang lebih menjangkau ke masa depan, sebagai aktualisasi atas paradigma baru peran ABRI Abad XXI. 
Ketiga, pemisahan Polri dari ABRI yang telah menjadi keputusan Pimpinan ABRI mulai 1-4-1999 sebagai Transformasi Awal.
Keempat, penghapusan Kekaryaan ABRI melalui keputusan pensiun atau alih status. (Kep: 03/)/II/1999).  
Kelima, penghapusan Wansospolpus dan Wansospolda/Wansospolda Tk-I.
Keenam, penyusutan jumlah anggota F.TNI/Polri di DPR RI dan DPRD I dan II dalam rangka penghapusan fungsi sosial politik. 
Ketujuh, TNI tidak lagi terlibat dalam Politik Praktis/day to day Politics. 
Kedelapan, pemutusan hubungan organisatoris dengan Partai Golkar dan mengambil jarak yang sama dengan semua parpol yang ada.
Kesembilan, komitmen dan konsistensi netralitas TNI dalam Pemilu.
Kesepuluh, penataan hubungan TNI dengan KBT (Keluarga Besar TNI).
Kesebelas, revisi Doktrin TNI disesuaikan dengan Reformasi dan Peran ABRI Abad XXI. 
Keduabelas, perubahan Staf Sospol menjadi Staf Komsos.
Ketigabelas, perubahan Kepala Staf Sosial Politik (Kassospol) menjadi Kepala Staf Teritorial (Kaster). 
Keempatbelas, penghapusan Sospoldam, Babinkardam, Sospolrem dan Sospoldim. 
Kelimabelas, likuidasi Staf Syawan ABRI, Staf Kamtibmas ABRI dan Babinkar ABRI.
Keenambelas, penerapan akuntabilitas public terhadap Yayasan-yayasan milik TNI/Badan Usaha Militer. 
Ketujuhbelas, likuidasi Organisasi Wakil Panglima TNI. 
Kedelapanbelas, penghapusan Bakorstanas dan Bakorstanasda. 
Kesembilanbelas, penegasan calon KDH dari TNI sudah harus pensiun sejak tahap penyaringan; 
Keduapuluh, penghapusan Posko Kewaspadaan;
Keduapuluhsatu, pencabutan materi Sospol ABRI dari kurikulum pendidikan TNI. 
Keduapuluhdua, likuidasi Organisasi Kaster TNI. 
Keduapuluhtiga, likuidasi Staf Komunikasi Sosial (Skomsos) TNI sesuai SKEP Panglima TNI No.21/ VI/ 2005. 
Keduapuluh empat, berlakunya doktrinTNI â€Å“Tri Dharma Eka Karma (Tridek) menggantikan â€Å“Catur Dharma Eka Karma (Cadek) sesuai Keputusan Panglima TNI nomor Kep/2/I/2007 tanggal 12 Januari 2007.
Sebagai alat pertahanan negara, TNI berkomitmen untuk terus melanjutkan reformasi internal TNI seiring dengan tuntutan reformasi dan keputusan politik negara.salinan SITUS TNI Klik Disini!!! #frl

24 Maret 2020

Danramil 412-11/Abung Semuli bersama Forkopimcam melaksanakan Sosialisasi Covid-19.

 

LAMPUNG UTARA, ABUNG SEMULI.
Koramil 412-11/Abung Semuli bersama Forkopimcam Abung Semuli Sosialisasi Covid-19 (Selasa 24 Maret 2020 pukul 09.00 Wib).

Lampung Utara, Koramil 412-11/Abung Semuli bersama Forkopimcam Abung Semuli melaksanakan kegiatan Sosialisasi Covid-19 diwilayah kecamatan Abung Semuli. Turut hadir dalam acara tersebut sbb : Camat Abung Semuli Bpk Rohim Fauzi, S.H., M.M. berserta Staf, Danramil 412-11/Abung Semuli Kapten Inf Gus Amirul beserta Babinsa, Kapolsek Abung Semuli AKP Tarwidi beserta Babinkamtibmas dan Kepala Puskesmas Abung Semuli Ibu dr May Madinah beserta Staf.

Adapun kegiatan Sosialisasi Covid-19 patroli bersama sekitar 30 orang sbb : Apel pengecekan, Patroli bersama star dari Kantor Kecamatan, pasar Semuli Jaya, pasar Semuli Raya, Desa Sukamaju finis di Kantor Kecamatan sekaligus menghimbau warga masyarakat dan Membagikan brosur atau pamflet.


Sambutan Camat Abung Semuli Bpk Rohim Fauzi, S.H., M.M. bahwa tujuan Apel pengecekan ini adalah dalam rangka kita mensosialisasikan tentang Pandemi Covid-19 mari kita menghimbau kepada seluruh warga masyarakat agar peduli dengan pola hidup sehat dan pola makan yang sehat.

Dalam sambutannya Danramil Kapten Inf Gus Amirul menyampaikan bahwa tujuan kita melaksanakan kegiatan patroli gabungan Sosialisasi Covid-19 adalah menghimbau dan mengajak warga masyarakat agar jangan takut dan juga jangan menganggap remeh wabah Covid-19 tetapi kita semua wajib untuk melaksanakan pola hidup sehat yaitu rajin cuci tangan setiap 20 menit dengan sabun,  jaga jarak aman interaksi sosial, gunakan masker, hindari keramaian, makan makanan yang bergizi dan hindari kunjungan wilayah atau negara terinfeksi virus Covid-19 serta yang paling utama berdo'a kepada Allah agar musibah ini cepat selesai, pungkasnya.

MEWAKILI DANRAMIL 412-10/TANJUNG RAJA SERKA YAHDI BESERTA JAJARAN "FORKOPIMCAM" TANJUNG RAJA MELAKSANAKAN SOSIALISASI CEGAH TANGKAL COVID-19.


LAMPUNG UTARA, TANJUNG RAJA.
Pada hari Selasa 24 Maret 2020 Pkl 10.00 Wib telah dilaksanakan patroli 6 orang Anggota  Koramil 412-10/Tjr dipimpin. Serka Yahdi dan Anggota Polsek Tanjung Raja dipimpin Kapolsek ,  Puskesmas. Dan Kecamatan Tanjung raja. menggunakan 2 unit ran roda empat dan 8 unit ran roda dua dlm rangka sosialisasi cegah tangkal mewabahnya virus Corona di wil binaan Koramil 412-10/Tjr dengan Route  Polsek - Desa Tanjung Raja - Desa Srimenanti - Sindang Agung  -  Koramil Tanjung Raja Kembali ke Polsek. tanjung raja



Adapun himbauan yang disampaikan adalah sbb :

- Menghimbau masyarakat untuk menyikapi penyebaran wabah corona yang terjadi dgn tetap tenang, dan juga tetap waspada.

- Menghimbau masyarakat untuk membiasakan hidup sehat, mengkonsumsi makanan bergizi, rajin orahraga dan mencuci tangan dengan sabun setiap kali beraktifitas.

- Menghimbau masyarakat untuk membatasi dan menunda kegiatan yang melibatkan banyak orang sampai situasi membaik.

- Menghimbau kepada masyarakat jika mengalami sakit dengan batuk,pilek,dan gangguan pernapasan agar segera periksa ke RS terdekat.

Pada pkl 11.00 wib Kegiatan Patroli dalam rangka sosialisasi cegah tangkal wabah virus corona berlangsung lancar, tertib serta aman.#frl

DANDIM 0412/LU HADIRI APEL BERSAMA KAPOLRES, DALAM RANGKA PENANGGULANGAN PANDEMI (WABAH PENYAKIT BARU CORONA VIRUS-19)


LAMPUNG UTARA, KOTABUMI.  Dandim 0412/LU, Hadiri Apel Bersama Kapolres, dalam Rangka penanggulangan wabah (Covid-19) di Wilayah Kab.Lampura Selasa 24/3/2020 (07.10 Wib) Telah berlangsung kegiatan Apel Bersama Ops Aman Nusa II thn 2020 Polres LU dalam rangka penanggulangan wabah virus Corona (Covid-19) di wilayah Kab. LU, bertempat di Lapangan Apel Mapolres LU Jl. Tjokoel Soebroto Kel. Kelapa Tujuh Kec. Kotabumi Selatan Kab. LU.
.
Turut Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain :
Plt Bupati LU Hi. Budi Utomo, S.E, M.M, Kapolres LU AKBP Bambang Yudo Martono, S.I.K, Dandim 0412/LU Letkol Inf Krisna Pribudi, Pj. Sekda Kab. LU Hi. Sofyan, S.P, Kadis Kes LU Hj. dr. Maya Metisa, M.Kes, Danyon C Brimob Polda Lampung Kompol. Saifulloh, Kasat Pol PP Kab. LU Firmansyah, Wakapolres LU Hi. Zulkarnain, Para Kapolsek, Kasat, Pa, Ba Jajaran Polres LU, Pasi Intel Kodim 0412/LU Kapten Inf Suroto, Pasi Ops Kodim 0412/LU Lettu Inf Jauhari, Subdenpom Kotabumi Sertu Sugeng, Dalam pelaksanaan Ops Aman II melibatkan 150 personil gabungan dari TNI-POLRI dan Instansi terkait.

LIHAT JUGA KLIK DISINI YOUTUBE !!!

Adapun fasilitas/tempat umum yang di lakukan pembersihan dan penyemprotan Sbb : Mapolres LU – Jln. Tjokoel Soebroto – Jln. Mayjend Alamsyah RPN – Jln. Jendral Soedirman – Pasar Dekon – Pasar Sentral.

Melaksanakan Oprasi Pasar dan penyemprotan di Pasar Sentral Kotabumi Jl. Soekarno-Hatta Kel. Kota Alam Kec. Kotabumi Selatan Kab. LU. Pasar Pagi Kotabumi Kel. Kotabumi Udik Kec. Kotabumi Kab. LU.

Amanat Kapolri yang di bacakan oleh Kapolres LU AKBP. Bambang Yudo Martono, S. I. K Sbb :
Kapolres Lampung Utara AKBP Bambang Yudo Martono selaku pimpinan apel mengatakan kegiatan apel Nusa II, sebagai tindak-lanjut atas penyakit Covid-19 dalam meningkatkan langkah ekstra, menanggulangi penyakit corona.

Dilihat dari beberapa negara lebih dahulu, dengan Lockdown, ada juga yang mengurangi persebaran virus dengan bertujuan menghambat penyebaran virus Covid 19. pemerintah membentuk gugus tugas penanggulangan penyakit, dan melaksanakan tugas secara efektif hingga ke semua daerah di Indonesia.

Memutus rantai harus diambil langkah, menunda kegiatan yang dalam jumlah banyak, meningkatkan pelayanan Covid 19 secara maksimal, diharapkan dengan kegiatan ini dapat di cegah penyebaran Covid 19. Pada hari ini juga akan dilakukan pengecekan harga di pasar Sentral dan pasar Dekon. Penyemprotan dilakukan di Kotabumi. Kegiatan penyemprotan ini rencananya berlangsung sampai dengan hari sabtu 28-03-2020.
Saat ini kegiatan penyemprotan dan pengecekan 9 bahan pokok di Pasar sentral Lampung Utara sedang berlangsung.red

23 Maret 2020

KORAMIL 412-02/SUNGKAI SELATAN PELDA WAHYUDI BERSAMA KAPOLSEK, DAN KAPUS SUNGKAI SELATAN SOSIALISASIKAN CEGAH TANGKAL VIRUS CORONA(COVID-19)

 

LAMPUNG UTARA, SUNGKAI SELATAN.
  Pada hari Senin 23 Maret 2020 Pkl 09.00 Wib telah dilaksanakan patroli 8 Anggota  Koramil 412-02/SS Dipimpin. Pelda Wahyudi dan Anggota Polsek Sungkai Selatan Dipimpin. Kapolsek dan Puskesmas. Serta Kecamatan sungkai selatan. menggunakan 4 unit ran roda empat dan 8 unit ran roda dua dlm rangka sosialisasi cegah tangkal mewabahnya virus Corona di wil binaan Koramil 412-02/SS dengan Route  Polsek - Desa ketapang  - Desa Kota Agung- Desa Banjar ketapang -  Koramil Sungkai sekatan Kembali ke Polsek. Sungkai selatan

  Adapun himbauan yang disampaikan adalah sbb :

- Menghimbau masyarakat untuk menyikapi penyebaran wabah corona yang terjadi dgn tetap tenang, dan juga tetap waspada.

- Menghimbau masyarakat untuk membiasakan hidup sehat, mengkonsumsi makanan bergizi, rajin orahraga dan mencuci tangan dengan sabun setiap kali beraktifitas.

- Menghimbau masyarakat untuk membatasi dan menunda kegiatan yang melibatkan banyak orang sampai situasi membaik.

- Menghimbau kepada masyarakat jika mengalami sakit dengan batuk,pilek,dan gangguan pernapasan agar segera periksa ke RS terdekat.

Pada pkl 11.00 wib Kegiatan Patroli dalam rangka sosialisasi cegah tangkal wabah virus corona berlangsung lancar, tertib serta aman.#(RAMIL 412-02/SS)

19 Maret 2020

SEJARAH KODIM 0412/LU







SEJARAH KODIM 0412/ LAMPUNG UTARA

BAB I

PENDAHULUAN

1.    Umum

a.        Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia merupakan suatu rangkaian kisah peristiwa- peristiwa yang sangat penting, rangkaian keseluruhan perjuangan Indonesia yang dimulai sejak bangsa Indonesia ada , yaitu kira- kira sejak 2500 sebelum Masehi. Didalam perjalanan sejarah perjuangannya ,bangsa indonesia melalui fase-fase sebagai berikut : ” Dari bangsa yang bebas merdeka ,kemudian menjadi bangsa yang di jajah dan akhirnya menjadi bangsa merdeka lagi ,setelah melalui rentetan perjuangan yang sangat panjang ”. Tujuan perjuangan bangsa adalah mencapai tingkat kemakmuran yang lebih tinggi dan kebahagiaan hidup  lahir dan batin, dialam yang bebas merdeka dari penindasan. Dengan tidak mengecilkan peristiwa-peristiwa didalam sejarah Indonesia yang lain ,masa perjuangan kemerdekaan merupakan sejarah yang memiliki makna tersendiri.

Di dalam perjungan kemerdekaan sifat khas bangsa Indonesian terlihat jelas, yaitu sifat-sifat gotong royong, dalam mengusahakan persatuan dan kesatuan,usaha mandiri dengan cita-cita tidak membedakan suku,agama,dan faham politik serta bahu- membahu  didalam melaksanakan nilai-nilai  luhur lainya. Pada dasar nya perjuangan bangsa Indonesia mempunyai maksud dan tujuan yang sama dalam mencapai kebebasan dan kemerdekaan dari penjajah,baik itu di daerah Jawa,Sumatra,Kalimantan bahkan Irian Jaya,termasuk didalam nya daerah Lampung yang merupakan bagian pulau Sumatera yang berdekatan dengan pulau Jawa.Mengenai sejarah perjuangan kemerdekaan di Lampung Utara, tidak jauh berbeda dengan perjuangan di wilayah Lampung lainya atas jajahan Belanda yang sangat berambisi untuk menguasai daerah-daerah yang ada di Indonesia,hasil dari kegigihan para pahlawan Lampunglah,sehingga Lampung Utara dapat di kuasai kembali dan sampai terbentuknya Satuan Kodim 0412/Lampung Utara,yang tersimpan sejarah penting di dalamnya.
b.    Sejarah  terbentuknya  Kodim  0412/ Lampung  Utara  tidak  terlepas  dari  sejarah
perjuangan di Lampung Utara dan sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia secara menyeluruh. Didalam perjungan itu tergambar adanya : jiwa dan semangat pengabdian. Semangat juang itu perlu kita masukkan ke dalam rekonstruksi sejarah agar generasi penerus dapat menemukan makna perjuangan tersebut. Karena generasi berikut tidak mengalami sendiri perjuangan semacam itu, maka penulisan ini merupakan penyambung kisah perjuangan generasi kedepan yang tidak sempat mengalami peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian penting. Kondisi dan situai sekarang jauh berbeda dengan kondisi dan situasi pada waktu perjuangan tahun 1945 tetapi nilai ’45 tetap di perhatikan yang dapat di jadikan azas perjuangan dalam menyelenggarakan pembangunan di segala bidang demi mengisi kemerdekan kita yakni bangsa Indonesia.
2.    Maksud dan Tujuan
               a.      Maksud.        Penulisan sejarah ini dimaksudkan sebagai gambaran dan pandangan didalam pemahaman sejarah Kodim 0412/Lampung Utara,dan untuk membentuk sikap bagi generasi selanjutnya demi menumbuhkan jiwa patriot dan mempertebal rasa cinta dan kesetiakawanan sosial serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para pahlawan.

               b.      Tujuan.          Sebagai suatu penghormatan kepada para pejuang kemerdekaan yang telah berkorban demi kepentingan negara dan bangsa dalam merebut dan mempertahakan kemerdekaan dan memberikan informasi kepada generasi penerus tentang perjuangan yang di lakukan oleh para pejuang Lampung sehingga generasi diharapkan dapat meningkatkan jiwa nasionalisme dan patriotisme khususnya daerah Lampung Utara.

3.      Ruang Lingkup dan Tata Urut.      Ruang lingkup penulisan sejarah ini adalah dibatasi pada sejarah Kodim 0412/Lampung Utara sebagai salah satu bahan bacaan yang penting untuk menambah ilmu pengetahuan tentang sejarah terbentuknya Kodim 0412/Lampung Utara,secara kronologis bagaimana terbentuknya Satuan Kodim 0412/Lampung Utara, yang disusun dengan tata urut sebagai berikut :

a.        Pendahuluan
b.        Profil Daerah Lampung Utara
c.        Sejarah Lampung Utara
d.        Cikal Bakal Terbentuknya Kodim 0412/Lampung Utara
e.        Nilai Historis Yang Diambil
f.         Peristiwa-Peristiwa Penting
g.        Penutup

4.      Dasar

a.        Program kerja Kodim 0412/Lampung Utara TA. 2017 bidang Personel khususnya Tradisi Kejuangan.
b.         Surat Telegram Danrem 043/Gatam Nomor  ST / 191 / 2017 tanggal 22 Maret 2017 tentang pembuatan profil Kodim 0412/Lampung Utara yang berisi sejarah satuan Kodim 0412/Lampung Utara.

5.      Pengertian - Pengertian
         a.            Sejarah Perjuangan adalah kronologi perjuangan dalam usaha melawan penjajah untuk melepaskan diri dari penindasan mencapai kebebasan atau kemerdekaan.

         b.            Kodim adalah  satuan teritorial TNI AD selaku pelaksana dari Korem 043/Gatam bagian dari kodam II/Swj melaksanakan tugas untuk menegakkan kedaulatan dan mempertahankan keutuhan NKRI.



BAB II
PROFIL DAERAH LAMPUNG UTARA

6.      Umum.  Sejarah pemerintahan Lampung Utara tidak dapat dipisahkan dari sejarah Lampung dan nasional baik dalam hubungannya dengan sejarah pemerintahan Negara Republik Indonesia pada umumnya maupun sejarah pemerintahan di Pulau Sumatra pada khususnya. Hal tersebut di karenakan daerah Lampung Utara adalah bagian dari daerah Provinsi Lampung yang merupakan bagian dari Pulau Sumatra dan secara lebih luas juga bagian dari wilayah Negara Republik Indonesia. Sesudah kemerdekaan susunan pemerintahan Kabupaten  Lampung Utara didasarkan pada UUD 1945 dan UU organik atau peraturan pemerintah yang derajatnya dibawah UUD 1945. Atas perjuangan tokoh-tokoh di Lampung Utara, Lampung Utara terbentuk pada tanggal 15 Juni 1946 dan merupakan kabupaten tertua di Lampung. Dengan demikian secara ringkas dapat dikatakan bahwa keberhasilan suatu perjuangan kearah peningkatan status Kabupaten Lampung Utara di capai melalui suatu usaha yang tidak mengenal lelah dalam perjalanan sejarah perkembangan pemerintahan sipil di Lampung dari suatu masyarakat tradisional hingga status yang sekarang. Kabupaten Lampung Utara telah terjadi pemekaran menjadi 6 Kabupaten yaitu:

a.            Kabupaten Lampung Utara
b.            Kabupaten Lampung Barat
c.            Kabupaten Way Kanan
d.            Kabupaten Tulang Bawang
e.            Kabupaten Tulang bawang Barat
f.             Kabupaten Mesuji    

7.      Karakteristik Daerah
a.            Geografi.       Kabupaten Lampung Utara terletak pada kedudukan geografis 1040   22’ 21” BT – 105º 55’ 21” BT sampai 30 43’ 32” 50 LS - 050  08 44” LS. Letaknya pada sistem Grid pada peta Topografi kedar 1 : 500.000 Batas Kiri + 419.000 Batas Kanan = 602.000 Batas Bawah = 9536 000 Batas Atas = 9590 000 di ujung selatan pulau Sumatra. Luasnya 14. 568,69 km2. Di Selatan berbatasan dengan dengan Kodim 0411/Lampung Tengah, Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Jawa sebelah Utara berbatasan dengan Kodim 0427/Way Kanan Sebelah Barat berbatasan dengan Kodim/ 0422 Lampung Barat Korem 043/Garuda Hitam.

b.            Demografi.   Wilayah Kodim 0412/LU merupakan daerah yang menjadi daya tarik yang sangat kuat, karena hasil ladanya yang berlimpah ruah, dari latar belakang itulah sejak politik ethnis, Lampung merupakan daerah perpindahan penduduk yang penting, terutama dengan tumbuhnya perkebunan-perkebunan besar serta kaya dengan Sumber Daya Alam. Salah satu kekayaannya dengan keberadaan hasil tambang yang ada di Lampung antara lain :

1)         Minyak bumi, terdapat di dataran rendah timur, tetapi potensinya belum jelas.
2)         Uranium, endapan uranium terdapat di Gedong Surian, Bukit Semuang, Bukit Lematang, Bukit Arahan, Pulau Tabuan dan sebelah Timur Teluk Betung.
3)         Batu bara mud, terdapat di bagian hulu Tulangbawang (Way Pedada).
4)         Mineral besi, terdapat di dataran Sukadana dan Labuhan Meringgai.
5)         Mas dan Perak, terdapat disebelah Barat Way Semangka, di hulu Way Rilau, Way Pemerintah dan Bukit Arahan.

c.         Kondisi Sosial
1)         Sistem kemasyarakatan orang Lampung Utara. Masyarakat Lampung Utara dewasa ini merupakan campuran bermacam-macam suku sehingga bersifat ”Bhineka Tunggal Ika”. Di dalam lambang Propinsi Lampung disebut ”Sang Bumi Ruwa Jurai” juga menggambarkan adanya dua golongan penduduk, yaitu : penduduk asli Lampung dan pendatang. Masyarat Lampung dikenal adanya kelompok-kelompok kekerabatan yang disebut keluarga batin, keluarga ini terdiri dari Ayah, Ibu dan anak-anak yang belum menikah. Mereka tinggal dalam satu rumah, yang disebut Menyamak. Menyamak adalah urusan keluarga yang terikat pada suatu tugas yang berorientasi pada dapur kehidupan keluarga. Ayah mengurus dan memelihara anggota menyamak dengan dibantu oleh ibu dan anak yang telah dewasa, sistem inilah yang menjadi dasar kekerabatan dan kemasyarakatan.
Setelah keluarga sai batin menjadi luas maka timbul istilah radiksakelik maksudnya yang dekat dan terikat. Berdasarkan pada keluarga sai batin itulah maka sebenarnya seluruh orang Lampung pada dasarnya berasal dari satu keturunan. Sebagian besar penduduk daerah Lampung bermata pencarian sebagai petani. Semula dilakukan berladang secara pindah-pindah, kemudian baru mengenal sistem persawahan dengan datangnya para transmigran daerah lain. Banyak diantara mereka bertanam tanaman keras (berkebun) seperti kopi, cengkeh, dan sebagainya. Adanya bahasa Lampung dalam masyarakat yang beradat, dibedakan Van der Tuuk dalam dua dialek, Dialek Abung dan dialek Pubiyan. Bahasa Lampung dewasa ini, bersifat bahasa kerabat,karena pemakaiannya terbatas di lingkungan pemakai atau pendukungnya semata, yakni dirumah ataupun di lokasi pemukiman pemakainya. Sedangkan dalam pergaulan sehari-hari pada lingkup yang lebih luas, nasional pada umumnya orang-orang Lampung baik dari Peminggir maupun Pepadun menggunakan bahasa Indonesia.

2)         Pandangan Hidup Masyarakat Lampung Utara.           Dalam masyarakat Lampung, terdapat pandangan hidup yang yang dipegang dan dipedomani yang digunakan dalam hidup dan kehidupan sehari-hari yaitu dikenal dengan istilah Pi’il Pesenggiri  yang terdiri atas unsur-unsur :
a)            Pi’il Pesenggiri yang menyangkut harga diri. Dalam hal ini, orang Lampung selalu bersikap dalam hidup untuk bermoral tinggi, berjiwa besar, tahu diri, tahu kewajibannya dan bertanggung jawab.

b)            Sakai Sambaian, di dalamnya terkandung suatu keharusan untuk hidup bergotong-royong, berjiwa sosial, dan tanpa pamrih dalam menolong orang lain.

c)            Nemui Nyimah, di dalam prinsip ini terkandung suatu keharusan bagi orang Lampung untuk selalu berperilaku sopan santun terhadap sesama anggota masyarakat, terbuka bagi siapa saja baik moral maupun spiritual.

d)            Nengah Nyapur, yaitu suatu keharusan bagi orang Lampung untuk selalu bergaul didalam masyarakat luas, ikut memberikan sumbangan pemikiran, pendapat serta inisiatif demi kebaikan hidup bersama.

e)            Bejuluk Beadek, di dalam prinsip ini terkandung suatu keharusan bahasa orang Lampung harus mempunyai gelar dan berjuang guna menyempurnakan hidupnya dan juga bersahabat dengan siapa saja serta tata krama yang baik sesuai dengan julukan yang di milikinya. Pi’il Pesenggiri yang menjadi falsafah hidup orang Lampung ini merupakan nilai dasar yang menjiwai setiap pribadi dalam bersikap dan berperilaku dalam rangka menjaga dan mengangkat harkat pribadi maupun kelompok. Apabila Way of life itu diterapkan sebagai dasar untuk memperkuat pembangunan nasional (fisik dan mental), maka dasar falsafah hidup suku Lampung itu sangat positif untuk di kembangkan secara nasional, tentunya dengan tafsiran dan peninjauan dari sudut visi yang positif.

8.         Dislokasi Satuan Madim 0412/LU
            a.         Kodim 0412/LU membawahi 2 Kabupaten. Kabupaten Lampung Utara dengan Ibukota Kotabumi Terdapat 1 Makodim dan 9 Koramil membawahi 23 Kecamatan .
            b.         Kabupaten Tulang Bawang Barat dengan Ibukota Panaragan terdapat 2 Koramil membawahi  8 Kecamatan.
             

BAB III
SEJARAH LAMPUNG UTARA

9.         Umum.           Sejarah adalah kontinuitas organik antara generasi yang bersusulan, yang menghubungkan masa kini dan masa lalu untuk dijadikan gambaran dan pembelajaran bagi generasi penerus dalam melanjutkan pengabdian dan tugas kedepan sehingga nilai-nilai yang terkandung didalam peristiwa-peristiwa yang telah terjadi dapat diambil maknanya dan diaplikasikan di lapangan. Berkaitan dengan itu Lampung Utara mempunyai sejarah Nasional yang dulunya sudah dikenal pada masa Sriwijaya bahkan sebelum itu sudah ada pemukiman-pemukiman penduduk, tetapi bukti-bukti tertulis baru ditemukan pada masa Sriwijaya. Dengan adanya penemuan prasasti-prasasti Sriwijaya di Lampung Utara, merupakan suatu bukti bahwa Lampung telah masuk dalam wilayah kebesaran Sriwijaya, seperti Prasasti Ulu Belu ditemukan di daerah Gunung meraksa (Lampung selatan), Prasasti palas Pasema di temukan di desa Palas, Kalianda (Lampung Selatan) dan Prasasti Hara Kuning ditemukan di Liwa (Lampung Barat) serta Prasasti Batu Bedil di temukan di Pulau Panggung Lampung Selatan. Peninggalan yang membuktikan adanya pengaruh Sriwijaya di Lampung selain berupa prasasti-prasasti adalah adanya mantera-mantera yang bercorak Budha dan menyebut tentang nenek moyang Sriwijaya di Gunung Mahameru.
Pada abad V Masehi di Lampung terdapat kerajaan yang bernama Tulang Bawang dengan raja yang bernama Maulano Jadi. Lampung sering diperebutkan oleh penjajah dari Inggris dan Belanda karena adanya komoditi lada yang besar. Pada tahun 1624 VOC berusaha menduduki Pulau Sabesi di Teluk Betung. Kejayaan Banten dalam perdagangan dibawah Pemerintahan Sultan Abdul Kadir (1596-1651) banyak dikunjungi oleh pedagang dari Portugis, Belanda, Inggris, Perancis dan Denmark termasuk banyak orang Lampung datang ke Banten dengan membawa hasil bumi terutama Lada Hitam. Sultan Banten termasuk yang dibenci VOC. Dengan Politik De Vide et Impera atau Politik Adu Domba VOC dapat memonopoli perdagangan lada di Lampung, pada tahun 1682 melalui Sultan Banten. Pada Abad 19 VOC mulai runtuh dan  Lampung kuat kembali, namun ketika Deandles berkuasa pada tahun 1808 kesultanan Banten dihapus maka muncullah Radin Intan II yang dikenal sebagai pahlawan Lampung kemudian mengadakan perlawanan terhadap penjajah yang ingin menguasai perdagangan wilayah Lampung.

10.       Awal Penjajahan di Lampung Utara.     Indonesia merupakan komoditi yang besar dalam penghasilan rempah-rempah salah satunya daerah Lampung yang menjadi terkenal dengan ladanya, sehingga dengan daya tarik rempah-rempah itulah bangsa eropa menginjakkan kakinya di Indonesia antara lain bangsa Spanyol, Portugis, Prancis dan Belanda, yang semua dalih mereka datang ke Indonesia adalah untuk berdagang tetapi sebenarnya mereka memendam nafsu kekuasaan untuk menjajah. Latar belakang mereka menguasai Indonesia ada yang bermotif segi ekonomi, agama, politik dan kebudayaan, ada yang bersemboyan sebagai “Misscion Sacri” (Misi Suci) untuk membudayakan orang kulit berwarna. Tugas tersebut mereka anggap sebagai Wheites Men Garden (Kewajiban orang kulit putih untuk membudayakan orang kulit berwarna) untuk mengelabuhi kita.

11.       Pahlawan Daerah Lampung Utara.       Pahlawan dari Lampung Utara yaitu Radin Ryacudu dan Hi Alamsyah  Ratu Prawira Negara.

a.         Ryacudu.      Adalah Pahlawan Lampung khususnya lampung utara berjuang melawan belanda di bumi Lampung. Namanya diabadikan sebagai nama Rumah sakit Umum Daerah di Lampung Utara

            b.         Hi. Alamsyah RPN.             Berjuang melawan kolonialisme Belanda disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :
1)         Faktor Kejiwaan.      Alamsyah RPN lahir tanpa mengenal wajah ayahandanya hal ini sedikit  banyak menjadi andil bagi tumbuhnya dendam hati Alamsyah RPN terhadap pemerintah Hindia Belanda, dan timbul pada dirinya jiwa pembangkang terhadap pemerintah Hindia Belanda.

2)         Faktor Lingkungan. Seperti diketahui bahwa Alamsyah RPN lahir dan dibesarkan di tengah-tengah masyarakat suku Lampung yang merupakan pemeluk kuat agama Islam, sehingga faktor ini mengembangkan jiwa fanatisme keagamaan, yang akhirnya mengembangkan kepribadian jihad terhadap unsur pemerasan dan sebaliknya akan mengembangkan kekuatan jiwa pembebas, ”Liberations Hips” yang pendek kata, anti penjajah.

3)         Faktor Kepribadian. Berdasarkan sepak terjang pendahulunya, kakek dan ayahandanya ternyata berpengaruh besar dalam diri Alamsyah RPN sehingga tumbuh rasa ketabahan dan keberanian yang mengakar sangat mendukung timbulnya perlawanan Alamsyah RPN terhadap Hindia Belanda.

4)         Faktor Kepemimpinan.       Faktor kepemimpinan dan keberanian ini tampak jelas terbukti, ketika beliau berani menolak tawanan Belanda untuk diampuni dan diberi biaya pendidikan oleh Belanda.

5)         Semangat Patriotisme.        Alamsyah RPN memiliki semangat patriotisme yang tinggi, seperti halnya perlawanan Radin Intan II berbarengan dengan meletusnya pelawanan-perlawanan rakyat di daerah Lampung lainnya, yaitu dipimpin oleh Alamsyah RPN di Lampung Utara dan sekitarnya yang cukup merepotkan pemerintah Hindia Belanda, sehingga Belanda sering menawarkan perdamaian kepadanya akan tetapi setiap tawaran damai selalu ditolaknya
.
6)         Faktor Khusus.         Yang menjadi penyebab khusus bagi bangkitnya perlawanan Alamsyah RPN terhadap pemerintah Belanda adalah aplikasi politik adu domba dan pecah belah yang dikenal dengan ”Devide Et Impera”, yaitu usaha pemerintah Belanda untuk mendirikan lembaga-lembaga administratif dengan sistem ”Marga”. Sistem inilah yang sangat dibencinya karena hal inilah yang ditakuti Alamsyah RPN, sehingga daripada berpecah belah, lebih baik hancur melawan Belanda penjajah dan hal ini benar-benar menjadi sebab khusus bagi perlawanan Alamsyah RPN terhadap pemerintah Belanda, yang berlangsung dari tahun 1850-1856. Persiapan perang Alamsyah RPN dengan cara membuat sistem Pemerintahan yang terpusat di Lampung Utara.  Sebagai penghormatan terhadap perjuangan. Alamsyah RPN diangkat sebagai Pahlawan Nasional sejajar dengan Pahlawan-pahlawan lain diseluruh Nusantara.
12.       Peristiwa-peristiwa yang terjadi di Lampung Utara
a.         Peristiwa yang terjadi tahun 1945.        Pada tanggal 12 Agustus 1945 Mr. A Abas ketua Syansangkai (Badan Penasehat Karesidenan) Lampung berangkat ke Jakarta memenuhi panggilan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, karena Mr. A. Abas adalah anggota panitia tersebut bersama Dr. Amir dan Mr. Teuku Mohammad Hasan sebagai wakil PPKI dari Sumatra. Berita tentang Proklamasi Kemerdekaan di Lampung baru secara resmi diumumkan oleh Mr. A. Abas pada tanggal 24 Agustus 1945. Hal-hal yang harus di laksanakan di Lampung adalah pengambil alihan pemerintahan dari tangan Jepang, pembentukan pemerintah daerah dan Komite Nasional Indonesia Daerah. Pada tanggal 24 Agustus 1945 diadakan pertemuan oleh Mr. A. Abas bersama tokoh-tokoh masyarakat daerah Lampung di Hotel Juliana, dan pada kesempatan tersebut di umumkan secara resmi berita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
0
b.         Peristiwa pada tahun 1946.         Pada awal tahun 1946 usaha-usaha perjuangan mempertahankan kemerdekaan diarahkan untuk mengadakan konsolidasi kekuatan perjuangan dalam bidang pemerintahan dan dalam bidang kekuatan militer untuk menahan serangan dari luar yang sewaktu-waktu mengancam kemerdekaan kita. Sekolah Calon Perwira di Langkapura telah menghasilkan calon-calon perwira yang diberi pangkat. Vanderik, tenaga mereka yang lulus dari sekolah tersebut di tempatkan di Resimen III, untuk mencukupi kebutuhan tenaga tingkat pimpinan regu, seksi dan lain-lain. Kemudian pada waktu itu timbul kelompok-kelompok yang menunjukkan gejala anti revolusi. Kelompok itu timbul di Kotabumi, Sulusuban di Lampung Tengah. Gerakan mereka bersifat anarkhi anti republik. Rakyat yang tidak sepaham dengan golongan itu di teror dengan jalan dibakar rumahnya sampai Februari 1946 telah 11 keluarga yang mengalami nasib seperti tersebut diatas. Dalam operasi pasukan keamanan kita pada tanggal 19 Februari 1946 berhasil mengadakan pembersihan terhadap gerombolan tersebut dan tertembak 13 orang, luka-luka 30 orang dan di tangkap 23 orang. Di Sulusuban pemimpin mereka bernama Kacang Panjang, memerintahkan kepada anak buahnya melakukan pembunuhan dan perampokan terhadap pejabat pemerintah orang-orang Cina, upah mereka yang berhasil Rp 10.000,- untuk pejabat biasa dan Rp 20.000,- untuk pejabat tinggi.
Kacang Panjang terbunuh dalam operasi pembersihan yang dilakukan TKR. Opersi juga dilakukan di Bukit Kemuning dan Labuhan Maringgai.

c.         Peristiwa pada tahun 1947.         Pada tanggal 10 November 1947 Martapura jatuh ketangan Belanda, maka untuk membendung lajunya tentara Belanda yang ingin menduduki Lampung oleh Komandan Brigade Garuda Hitam diadakan konsolidasi pertahanan dan siasat dibentuk tiga batalyon pertempuran dan tiga Front pertahanan yaitu Pertahanan Front Barat (Lambar) Batalyon pertempuran 22 dibawah pimpinan Mayor Harun Hadimarto dengan daerah pertahanan Front Utara dan Tengah (Lamut dan Lamteng), Batalyion pertempuran 23 dipimpin oleh Kapten Laut C. Souhoka. Batalyon 24 dipimpin M Sukardi Hamdani dengan daerah pertahanan Front Selatan. Panglima TNI Komandan Sumatra /Wakil Panglima Besar Letjen R. Soehardjo dengan surat keputusan No.36/PN/47 tanggal 28 November 1947 menetapkan bahwa Daerah Lampung dan Sumatra Selatan menjadi daerah militer dan sekaligus mengangkat :
            1)         Kolonel Syamaun Gaharu Komandan Brigade Garuda Hitam menjadi Komandan daerah Militer Lampung dan Palembang Selatan.
            2)         Wan Abdul Rachman wakil ketua Dewan Pertahanan Daerah Lampung menjadi wakil Komandan dengan pangkat Letnan Kolonel Tituler.
            3)         Narsid Alamsyah Caropaboka. Patih diperbantukan pada Residen menjadi Panitera dengan pangkat Mayor Tituler.



            Pelaksanaan penghentian tembak menembak yang telah diturunkan oleh pemerintah RI dan pimpinan tentara Belanda tanggal 4 Agustus 1947 baru terlaksana sesudah di tandatangani persetujuan perjanjian Renville tanggal 17 Januari 1948, isi perjanjian Renville :

1)            10 pasal persetujuan genjatan senjata.
2)            12 pasal prinsip politik.
3)            6 pasal prinsip tambahan dari KTN.

d.         Peristiwa pada tahun 1948.         Pada awal April 1948, wakil Presiden Mohammad Hatta ke Bukit Tinggi diikuti oleh Baharuddin, pengusul rasionalisasi, tujuannya memberi penjelasan kepada politisi dan laskar di Sumatra, menurut kepentingan rasionalisasi itu, daerah Sumatra dijadikan sentra teritorium , yang dikepalai oleh Panglima Teritorium di Sumatra.

e.         Peristiwa pada tahun 1949.         Tentara Belanda dari Palembang menyerang pertahanan-pertahanan di kilometer 20. Setelah beberapa Front dapat ditembus oleh Belanda akhirnya Kota Baturaja jatuh ketangan Belanda pada tanggal 25 Juli 1949. Markas Komando Batalyon VI telah dipindahkan dari Penyandingan kemudian ke Simpang Martapura pada tanggal 24 Juli 1949. Setelah menduduki Baturaja tentara Belanda menyerang Martapura pada tanggal 25 Juli 1949. Pasukan Batalyon VI terpecah-pecah setelah Belanda menduduki Baturaja. Kompi 2 dibawah Letnan Sai Sohar bergerilya di Martapura yaitu di Pracak. Ketika diadakan serangan balasan ke Bturaja pada tanggal 30 Juli 1949 oleh pasukan Mayor Nurdin, pasukan Mayor Nurdin berhasil menyerang stasiun kereta api yang menewaskan tentara Belanda dan mendapatkan beberapa pucuk senjata.

13.       Perang Kemerdekaan
            a.         Agresi Militer I (Tahun 1947).       Agresi Militer Belanda ke-l dimulai tanggal 21 Juli 1947,tetapi daerah Sumatra Selatan dan daerah Lampung tidak diduduki/diserang. Tetapi setelah kota Baturaja diduduki Belanda, maka Resimen IX Lampung membentuk Front yang disebut “Front Lampung Utara”, yang bermarkas di Desa Kampung Baru 2 Km sebelum Martapura, sebelah Barat pulau Komering. Batalyon Ismail Husin yang diperkuat 1 Kompi dari Kompi Supomo, menguasai sepanjang jalan raya yang menghubungkan Baturaja ke jurusan Muara Dua/Krui disebut Front sayap kiri.

                        Kompi Suratmin dan Kompi Abdul Haq menguasai sepanjang jalan kereta api dan jalan raya yang menghubungkan Baturaja ke jurusan Martapura terus ke Lampung disebut Front sayap kanan. Front sayap kiri/Batalyon Ismail Husin dan Kompi Supomo, mengalami sebelas kali kontak senjata dengan musuh. Beberapa orang yang gugur seorang Perwira Pertama Tukiran, seorang Bintara Serma Sairin dan 5 orang Tamtama seorang diantaranya ialah Kopral Sampun. Sampun ini adalah bekas Heiho asal Singapura yang akan pulang ke Jawa tetapi ditahan di Tanjung Karang, lalu masuk TKR Batalyon Ismail Husin, Kompi Sastro Sumedhi. Setelah kota Martapura jatuh diduduki musuh, maka sebagai akibatnya jalan raya yang menghubungkan kota Martapura dan Muaradua, sebagai urat nadi perhubungan sayap kiri ke Front Sayap Kanan, dan Komando Front Lampung Utara Resimen XI diputus total. Oleh karena itu dengan disponsori oleh satu regu TKR dari Kompi Letnan I Sastro Sumedhi, dibuatlah jalan terobosan untuk menghubungkan daerah Palembang Selatan ke Daerah Lampung melintasi Bukit Ringkih (Termasuk Bukit Barisan). Dalam pelaksanaannya dibantu sepenuhnya oleh rakyat, ditanjakkan bagian timur oleh rakyat dari dusun/Marga Jagaraga, sedangkan ditanjakkan bagian barat oleh rakyat dari Marga Tebing Bulan dan Tanjung Kurung. Dibagian timur rakyat dari Palembang Selatan, dan dibagian Barat  oleh rakyat dari Lampung Utara. Pekerjaan tersebut baru selesai setelah makan waktu satu minggu dengan partisipasi rakyat Palembang Selatan dan Lampung Utara yang rela bekerja siang malam tanpa pamrih. Mereka membawa bekal makan sendiri dipimpin oleh pamong marganya. Bulan Januari 1948 ada perintah gencatan senjata karena adanya perundingan Renville. Pada wal Maret 1948 seluruh pasukan/kekuatan berangsur-angsur di tarik ke induk pasukan Resimen XI Tanjung Karang Lampung dan berakhir sampai dengan awal bulan April 1948. Resimen 41 ( Garuda Hitam) membenahi diri menyusun kekuatan dan mengatur strategi untuk menghadapi musuh dengan taktik perang gerilya yaitu :
1)    Membentuk satu Batalyon pasukan inti yang disebut Batalyon Mobil. Personil dan persenjataannya mengambil/memilih dari kesatuan-kesatuan/Batalyon dalam jajaran Resimen Garuda Hitam. Sebagai Komandan Kapten Nurdin Panji, sedangkan kepala stafnya Lettu Ahmad Ibrahim.
2)    Menciptakan kesatuan Teritorial Karesidenan Lampung dibagi menjadi tiga daerah/distrik militer yaitu : Lampung Utara, Lampung Tengah dan Lampung Selatan. Sebagai Komandannya disebut Perwira Distrik Militer (PDM). Setiap daerah/distrik  dibagi lagi menjadi beberapa wilayah/Order Distrik disingkat (PODM) yang personil dan persenjataannya sisa yang tidak masuk dalam Batalyon Mobil.

            b.         Agresi Militer II (tahun 1948).       Kira-kira pertengahan tahun 1948 kesatuan-kesatuan Teritorial, Distrik dan Order Distrik Militer mendapat perintah untuk menduduki daerah dan wilayah masing-masing yang telah ditentukan dengan perbekalan dan persenjataan: Semangat/jiwa pengabdian terhadap negara dan bangsa. Pada waktu itu Sastro Semedi mendapat tugas sebagai PODM diwilayah paling ujung dari Distrik Lampung Selatan, tepatnya yaitu Kawedanan Kalianda. Aksi Militer Belanda II di mulai tanggal 1 Januari 1949 dengan menyerang dari bagian Selatan, yaitu melalui pelabuhan Panjang, pada saat itulah pertama kalinya tentara Belanda menginjakkan kakinya di daerah Lampung. Dua hari berturut-turut Belanda mengadakan pengeboman terhadap kota Tanjungkarang-Telukbetung, disusul dengan pendaratan pasukannya melalui laut,mempergunakan 2 buah kapal perang dan 2 buah kapal terbang model capung. Kejadian tersebut dapat dilihat dari pantai Kalianda secara jelas. Setelah Tanjungkarang-Telukbetung sebagai pusat Komando diduduki oleh tentara Belanda, maka hubungan antara daerah Kalianda Komando Order Distrik Militer (KODM) Kawedanan Kalianda. Dengan demikian daerah Kawedanan merupakan sebuah daerah terpencil yang harus sanggup mempertahankan diri dalam mempertahankan kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

                        Menyadari akan keadaan tersebut dan sebagai langkah selanjutnya guna menghadapi situasi dan segala kemungkinan yang tak terduga yang menurut perhitungan pasti akan terjadi, maka sesuai petunjuk/instruksi terakhir dari pemerintah Karesidenan, oleh pimpinan Pemerintah Kawedana atau instansi Militer (ODM) yang masih ada di Kalianda, dibentuklah suatu badan yang dinamakan ”Gerakan 1 Januari”. Tugas badan ini menghimpun seluruh potensi pertahanan rakyat yang terdiri dari Badan Perjuangan (Laskar rakyat dan prajurit YNI yang berada di daerah Kalianda). Sebagai pucuk pimpinan dari ”Gerakan 1 Januari” ini ialah Kepala pemerintah Kawedanan Kalianda sendiri, Abduk Kadir Kusuma Ratu, dibantu oleh pimpinan Kepolisian Inspektur I Batin Putera dan pihak militer Komandan ODM letnan I Sastro Sumedi. Selanjutnya sebagai realisasi dari tujuan pokok gerakan 1 Januari tersebut dibentuklah badan Kelaskaran Pertahanan Rakyat, yang terdiri dari beberapa sektor sesuai dengan pembagian daerah yang antara lain sebagai berikut :

1)            Sektor I: Dibawah pimpinan Wedana Kalianda sendiri, meliputi daerah pantai Barat kalianda mulai dari Suwak sampai Marga Pesisir.
2)                  Sektor II: Dibawah pimpinan Letnan I sastro Semedi mulai dari Suwak sampai daerah Marga Katibung.
3)                  Sektor III: Dibawah pimpinan Inspektur Polisi Batin Putera meliputi daerah pantai Timur Kalianda (Marga Ratu dan Dantaran). Anggota TNI dari Batalyon II yang sedang cuti berada di daerah Kalianda dan tidak dapat bergabung di kesatuannya, tetapi berada di Kalianda dan kepada mereka ditugasi untuk memimpin pasukan laskar selaku pimpinan regu. Mereka itu yang terdiri dari para Bintara antara lain: Sersan Murod, Sersan Hidup, Sersan Yusuf, Sersan Rohani, Sersan A. Karim, Sersan Manaf dan Sersan Yahya, sedangkan Sersan Harun Rasyid ditugaskan pada bagian staf pertahanan yang dipimpin oleh Temenggung Sulaiman.

Dengan aktifnya wedana pada tampuk pimpinan pertahanan gerilya, maka pimpinan pemerintahan sipil diserahkan kepada camat M. Yusuf yang bertindak selaku wakil beliau dalam menjalankan tugas wedana sehari-hari. Wedana Kalianda Abdul Kadirkusuma Ratu, pada tanggal 6 Januari 1949 yang memimpin laskar rakyat mengadakan penghadangan terhadap konvoi pasukan patroli Belanda didaerah Sukatinggi. Kompi Belanda yang terdiri dari 2 truk senjata lengkap datang dari arah Telukbetung menuju Kalianda. Pertempuran terjadi dimana Belanda mempergunakan senjata berat serba otomatis sedangkan dipihak kita hanya memakai beberapa senjata ringan yang terdiri dari senapan locok dan beberapa pucuk Achterlaad dan Karaben. Pasukan patroli Belanda karena kewalahan menghadapi penghadangan dari pihak kita, kembali ke Telukbetung dan ditengah perjalanan pulang sempat membakar 14 rumah rakyat di Babatan, dan 2 orang rakyat tertembak mati. Dalam penghadangan dipihak kita tidak ada korban.

Pada awal Februari 1949 Wedana Abdul Kadir dengan bersenjata Karaben Jepang dan FN Kaliber 32, beserta 10 orang pengikutnya yang bersenjata 3 pucuk senjata berburu Doble dan Enkel Loop sedangkan lainnya bersenjata tajam/pusaka dengan lambaian tangan dan pekik merdeka langsung menuju Front. Pasukan patroli Belanda yang akan menuju Kalianda, setibanya dipinggir dusun Pardasuka di cegat oleh pejuang yang dipimpin oleh WdanaAbdul Kadir Kusuma Ratu dan Sertu Murod dari Kodim kemudian terjadilah tembak menembak kurang lebih 5 menit, pihak kita tidak ada korban. Pada pertengahan Mei 1949 para gerilyawan kita mengadakan taktik pencegatan disepanjang jalan dusun Pardasuka sampai Tarahan bahkan sampai Batu Serampok, sekalipun belum bertemu dengan musuh. Melihat peristiwa-peristiwa penyergapan tentara Belanda di tempat para gerilyawan bersembunyi dan terjadi selalu diatas jam 24.00 sampai menjelang subuh yang merugikan pihak kita menimbulkan kecurigaan adanya mata-mata musuh yang mengetahui tempat para gerilyawan bersembunyi. Gerilyawan kita tiga kali kena sergap, kerugian dua orang tamtama yaitu pratu Sukir dan Sutarno berikut dua pucuk senjatanya hilang. Juga adanya laporan Letnan Muda Syahbudin, wakil PODM yang melaporkan bahwa menjelang subuh dengan lewat laut musuh mendarat dan langsung menyergap pos CPM. Tiga orang anggota CPM gugur termasuk serda Hasim. Pada tanggal 29 Maret jam 23.00 Belanda mendarat dengan tentaranya sekitar 50 orang di pantai masir Kalianda. Tanggal 21 Maret 1949 terjadi pertempuran hebat di kampung Way Urang Kalianda yang di pimpin Komandan Seksi Pertahanan Kalianda Letnan Muda Makmun Rasyid. Dengan semangat menyala-nyala laskar TNI bertempur namun tentara Belanda dapat maju sampai Way Kyai Kalianda dan di kampung Karet Kalianda yang pada akhirnya kota Kalianda dapat diduduki oleh musuh. Wedana Kalianda selaku Komandan Front pertahanan daerah Kalianda telah diliputi oleh perasaan ragu-ragu dan pesimis serta-merta telah melepaskan tanggung jawabnya selaku pimpinan perjuangan. Pada tanggal 11 Agustus 1949 Wedana Kalianda menyerahkan tanggung jawabnya kepada Komandan seksi pertahanaan Kalianda Letnan Muda Makmun Rasyid.

Tanggal 13 Agustus 1949 dengan resmi Wedana Kalianda menyerahkan diri kepada tentara Belanda di Kalianda juga disertai penyerahan kekuasaan pemerintah RI, sejak penyerahan itu seluruh potensi pertahanan Kalianda di bubarkan dan pasukan TNI tidak ada, tetapi para pejuang beserta rakyat yang berpendirian teguh dan optimis terhadap perjuangan kita tidak dapat menerima pernyataan tersebut tidak dapat menggeser patokan dan tekad semula. Demikian masing-masing pihak telah mengambil jalannya sendiri menurut kepentingan perhitungan masing-masing. Namun bagi para patriot bagaimanapun dengan perhitungan yang masih ada masing-masing pribadi pejuang, maju terus dan bila perlu mundur setapak dengan penuh perhitungan untuk maju kedepan menuju kemenangan dan kemerdekaan abadi.untuk meneruskan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan RI selaku PODM menarik seluruh anggotanya dan memutuskan akan meninggalkan wilayah Kalianda. Dan pada waktu Kotabumi diserang dan diduduki oleh Belanda, pasukan Sastro Semedi mundur ke Utara kira-kira 15 km dari Kotabumi. Akhirnya pasukan bekas ODM Kalianda pimpinan Letnan I Sastro Semedi tersebut turut serta memperkuat pasukan yang akan menerima pengakuan kemerdekaan RI dari pemerintah Belanda pada tanggal 29 Desember 1949 di Kotabumi.

BAB IV
CIKAL BAKAL TERBENTUKNYA KODIM 0412/LAMPUNG UTARA

14.       Umum
            a.         Dalam jaman penjajahan Jepang (1942-1945), sejak Jepang mulai mengalami kekalahan dalam perang Asia Timur Raya melawan Sekutu ditahun 1943, maka Jepang berusaha untuk menambah kekuatan pasukan tentaranya. Untuk keperluan ini Jepang antara lain mengadakan pendidikan kemiliteran bagi pemuda-pemuda Indonesia, antara lain yang disebut dengan nama Heiho dan Giyugun.

            b.         Di Sumatra bagian Selatan pendidikan Giyugun ini diadakan di Pagaralam, yang diikuti pula oleh para pemuda dari daerah Lampung. Para perwira lulusan pendidikan militer Giyugun inilah yang nantinya setelah kita memasuki zaman kemerdekaan yang di proklamasikan tanggal 17 Agustus 1945 menjadi tenaga inti angkatan bersenjata di Sumatra bagian Selatan, termasuk di Lampung.

            c.         Selama perang kemerdekaan dari tahun 1945 sampai 1949 tenaga yang berintikan para perwira bekas Giyugun tersebut ditambah dengan tenaga lain dari bekas Heiho dan berbagai laskar rakyat seperti dari lembaga perjuangan API< Hizbullah, Sabilillah, pelopor dan lain-lainnya itulah bersama-sama dan saling bahu-membahu melawan tentara Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan Negara kita yang akhirnya kita berhasil memperoleh kemenangan.

            d.         Sejarah pertumbuhan ABRI di Lampung sejak meletusnya perang kemerdekaan tahun 1945 hingga berakhirnya aksi militer Belanda tahun 1949 tidak dapat dipisahkan dan mempunyai hubungan dengan pertumbuhan ABRI di Lampung memang serempak dengan lahirnya ABRI di daerah-daerah lain di Sumatra bagian Selatan seperti Bengkulu, Jambi, Palembang dan juga Bangka Belitung.

            e.         Demikian pula dengan pertumbuhan ABRI di Lampung dari sejak masih bernama Panjaga Keamanan Rakyat (PKR) sampai menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan juga perubahan-perubahan bentuk organisasi dari Resimen III sampai menjadi Brigade Garuda Hitam, masih berhubungan dengan pertumbuhan ABRI di daerah-daerah tersebut dan akhirnya terbentuk Kodim-Kodim diantaranya Kodim 0412/LU

15.       TKR DI LAMPUNG.                        Jalannya Sejarah pertumbuhan ABRI di Lampung, selama perang kemerdekaan (1945-1949) yang disertai dengan perubahan-perubahan akan di uraikan secara kronologis sebagai berikut :


            a.         Latar Belakang Lahirnya Badan Perjuangan Bersenjata di Lampung.
            1)         Perwira-perwira Giyugun.            Sebagaimana telah disebutkan dalam bagian terdahulu, bahwa didalam zaman penjajahan Jepang (1942-1945) sejak tahun 1943 untuk menambah pasukaan tentaranya Jepang mengadakan pendidikan dibidang kemiliteran, antara lain adalah Heiho yaitu pendidikan Calon Bintara dan Giyugun yaitu pendidikan Calon Perwira. Di Sumatera bagian Selatan berpangkat Syoiu (setingkat letnan II). Para perwira lulusan Giyugun inilah nantinya di daerah-daerah termasuk Lampung yang menjadi tenaga inti bagi terbentuknya badan Perjuangan Bersenjata dan Tentara Nasional Indonesia di Lampunng.
            Peserta pendidikan Giyugun Pagaralam dari Lampung sekitar 50 orang atara lain sebagai berikut :
  a)         Emir Muhammad Nur       z)         M. Saleh
  b)         Iwan Supardi                   aa)      Mukhyin
  c)         Ismail Husin                     bb)      Supangat
  d)         Sukardi Hamdani             cc)       Sono Imam Turus
  e)         R.M. Riacudu                   dd)      Akhmad Herry
  f)          Akhmad Ibrahim              ee)      Mohd. Amir. M
  g)         Supomo                             ff)        Akhmad Rasyid
  h)        Kiswoto                             gg)      Adenan
  i)          Margono                          hh)      A.M. As’ari
  j)          Slamet                               ii)         M. Amin
 k)         M. Hasan                            jj)         Rd. Slaiman. P
  l)          Azadin                              kk)       M.Amir. 
 m)        Baheram                            ll)         Taniran
 n)        Alamsyah                         mm)    Kasdono
 o)         Abdulhak                           nn)      Supardi
 p)         Suratmin                            oo)      A. Marzuki
 q)         Mas Adi                              pp)      Supadi
 r)          Ahmad Rupi                      qq)      Subandi
 s)         A. Salim Batubara              rr)        Musran
 t)          Ismail Latif                        ss)       Subki
 u)        Barmoamijoyo                     tt)         Sulaiman Sanjaya
 v)        Gustam Ramsi                   vv)       Suprimo
 w)         Akhyarruddin                   ww)     Suparman
 y)         Sastrosemedi                    xx)       M. Muin

                        Beberapa perwira lulusan Giyugun Pagaralam pada minggu terakhir bulan Juli pernah mengadakan rapat untuk melaksanakan pemberontakan terhadap Jepang. Wakil dari Lampung Utara waktu itu ialah Ryacudu dan Alamsyah RPN. Rencana pemberontakan ini sebenarnya berlatar belakang pertanggung jawaban terhadp nusa dan bangsa yang pernah di ikrarkan di piagam bulan Januari 1945. hal tersebut di samping akibat dari kesengsaran yang diderita oleh rakyat Indonesia, termasuk rakyat di daerah Sumatra bagian selatan dan Lampung, kesengsaraan dibawah tekanan kompetai Jepang. Namun disamping kesengsaraan dan penderitaan yang memilukan pada masa kekuasaan Jepang. Kegiatan-kegiatan yang dialami dan pelajaran-pelajaran yang didapat, juga merupakan suatu kesatuan peristiwa penting dalam rangkaian sejarah perjuangan rakyat Lampung Utara terutama dalam pertumbuhan dan perkembangan keprajuritan.

            2)         Terbentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Penjaga Keamanan Rakyat (PKR).            Pada awal jaman kemerdekaan negara kita yang secara resmi teks Proklamasinya baru diketahui masyarakat Lampung pada tanggal 24 Agustus 1945, maka Mr. A. Abbas sebagai Residen Lampung yang pertama segera membentuk Komite Nasional Daerah Lampung sebagai pelaksanaan salah satu keputusan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dalam sidangnya tanggal 22 Agustus 1945 di Jakarta. Salah satu keputusan PPKI yang lain adalah pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) baik ditingkat pusat maupun di tingkat daerah. Di Lampung BKR ini dibentuk baru pada tanggal 9 September 1945. kedalam BKR yang bukan tentara ini terhimpun para bekas Heiho, Keisatsu (Polisi) Seinenan, Kaibodan dan lain-lain, terutama dipelopori oleh para perwira bekas Giyugun. Menurut Kapten Sukardi Hamdani yang pernah menjabat Dandim 0412/Lampung Utara tanggal 9 September 1948 ini dijadikan sebagai hari lahirnya Komando Distrik Militer (Kodim) 0412 di Lampung Utara. Selanjutnya pada tanggal 11 September 1945 nama BKR itu diubah menjadi PKR (Penjaga Keamanan Rakyat). Markas besar PKR Pusat Lampung dibekas Percetakan Krakatau (di jalan Pemuda), adapun susuna personalia perguruan PKR Lampung adalah sebagai berikut :

 a)  Markas (Pusat) di Tanjungkarang :
      (1)       Ketua                                    : Pangeran Emir Moh. Nur
      (2)       Wakil ketua                           : Margono
      (3)       Panitera I                               : Akhmad Ibrahim
      (4)       Panitera II                              : Subandi
      (5)       Panitera III                             : Warsokusumo
      (6)       Perlengkapan                        : Sudarjo
 b)         Cabang Tanjungkarang         :
      (1)       Ketua                                     : Ismail Husin
      (2)       Pembantu-pembantu            : Sastrosemedi
                                                                Alimudin Umar
                                                                Memed E. Royani
                                                                Ahmad Rupi
                                                                Zainudin Hamzah
                                                                Yusuf Rakhman
c)         Cabang Telukbetung              :
     (1)       Ketua                                 : Ismail Latif
     (2)       Pembantu-pembantu         : Suripno
                                                             Zulkipli AC
d)         Cabang Talangpadang                  :
     (1)       Ketua                                     : Azaddin
     (2)       Pembantu                             : Akhyarudin
 e)         Cabang Kota Agung                       :
     (1)       Ketua                                    : M. Sukardi Hamdani
     (2)       Pembantu                             : Abdul Muin
 f)          Cabang Kalianda                            :
     (1)       Ketua                                     : E. Suratmin
     (2)       Pembantu                              : Makmun Rasyid
                                                                Tamimi Rakhman
g)         Cabang Kotabumi                           :
    (1)       Ketua                                     : RM. Riyacudu/Alamsyah
    (2)       Pembantu                             : Muhyin Bastari
                                                               Gustam Ramli
h)        Cabang Blambangan Umpu         :
   (1)       Ketua                                     : Abdulhak
   (2)       Pembantu                             : Effendi
                                                              Bursya
 i)          Cabang Menggala                           :
   (1)       Ketua                                     : Mas Adi
   (2)       Pembantu                             : A. Herny
                                                             Raden Sulaiman
                                                             As’ari  Amir
 j)          Cabang Sukadana                          :
   (1)       Ketua                                     : Akhmad Rasyid
   (2)       Pembantu                             : Adenan Sangjaya
                                                              RM. Amir  Arifin R. I
k)         Cabang Metro                                   :
    (1)       Ketua                                     : Supangat
    (2)       Pembantu                              : S. I. Tarus
                                   
l)          Cabang Gunung Sugih                 :
    (1)       Ketua                                     : M. Hasan
    (2)       Pembantu                              : Subki
                                                               M. Yusuf Ali
m)        Cabang Pringsewu                         :
    (1)       Ketua                                     : Supomo
    (2)       Pembantu                              : -

                        Dalam pada itu di Lampung terbentuk pula PKR laut sejak bulan Oktober 1945 dibawah pimpinan H.M. Haidar. Pimpinan yang lain: C. Souhaka, KL. Tobing, Dadang Efendi dan Didit Jmaludin. Pada umumnya mereka berasal dari bermacam-macam kesatuan antara lain: Kaigun, Heiho, Jawa Unko Kaishadan unsur-unsur maritim lainnya. PKR laut itu menguasai pelabuhan Panjang, Kalianda, Way Ratai dan pelabuhan Kota Agung. Dalam kegiatan PKR laut selain secara teratur mengadakan latihan-latihan kemiliteran juga mengadakan patroli-patroli laut.

b.         Pertumbuhan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia di Lampung
            1)         Pertumbuhan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Lampung
            a)         Terbentuknya Tentara Keamana Rakyat (TKR) di Lampung. Dengan sebuah maklumat pada tanggal 5 Oktober 1945 pemerintah RI membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Maklumat yang sangat singkat dan di tanda tangani oleh Presiden Soekarno itu berbunyi sebagai berikut :
”Untuk memperkuat perasaan keamanan umum, maka diadakan satu Tentara Keamanan Rakyat”. Di Lampung, Pangeran emir Moh. Nur pendiri Angkatan Pemuda Indonesia (API) Lampung dan juga ketua PKR markas pusat Lampung di Tanjungkarang dalam bulan Oktober 1945 itu menerima kawat dari menteri Keamanan Rakyat Kabinet I RI tentang pengangkatannya sebagai ”Panglima TKR Sumatera Selatan”.

Berdasarkan kawat tersebut dan untuk menyusun organisasi TKR yang teratur dan sempurna, pada tanggal 14 Oktober 1945 Emir Moh. Nur mengadakan pertemuan di Pagaralam dengan para bekas perwira Giyugun seperti M. Simbolon, Hasan Kasim, Abunjani, Ruslan, Iskandar, Nefa. Sanaf, Alamsyah, Abdulhakdan lain-lain. Hadir juga komisaris Polisi Mursodo dan bastari. Susunan organisasi dan personalia TKR Sumatera selatan yang terbentuk hasil rapat tersebut adalah sebagai berikut :

(1)       Panglima                                       : Mayor Jenderal Emir
 Moh. Nur
(2)       Kepala Staf                                   : Kolonel M. Nuh
(3)       Komandan Devisi Lampung          : Kolonel R. Suharjo. H
(4)       Komandan Devisi Bengkulu          : Letkol Barlia
(5)       Komandan Devisi jambi & Riau     : Letkol Abunjani
(6)       Komandan Devisi Palembang Ilir   : Kolonel Hasan kasim
(7)     Komandan Devisi Palembang Ulu   : Kolonel M. Simbolon

Setelah pembentukan organisasi TKR ini, Emir Moh. Nur di Palembang di tangkap atas perintah Dr. A.K. Gani selaku Residen Palembang, dengan tuduhan bahwa pembentukan TKR Sumatera Selatan itu tidak di musyawarahkan dengan dia. Mengenai hal ini menurut Emir Moh. Nur tidak benar, karena laporan telah dikirim kepada Residen Palembang, tetapi karena sulitnya komunikasi, laporan itu datangnya terlamat.


2)         Terbentuknya Resimen XI Devisi Garuda SUBKOSS TRI Lampung
            Perlu diketahui bahwa nama TKR pernah dipakai dalam dua macam kepanjangan, yaitu TKR yang berarti Tentara Keamanan Rakyat yang dibentuk tanggal 5 Oktober 1945, dan TKR yang berarti Tentara Keselamatan Rakyat yaitu perubahannya pada tanggal 10 Januari 1946. Tetapi kemudian sejak tanggal 10 Februari 1946 TKR itu di rubah lagi menjadi TRI yang berarti Tentara Republik Indonesia. Konferensi di Bukit Tinggi tanggal 17 Mei 1946 meutuskan, bahwa kekuatan militer di Sumatera Selatan adalah satu Sub Komandemen yaitu Sub Komandemen Sumatera selatan (SUBKOSS) yang membawahi Devisi I Garuda dan Devisi II Garuda. Keputusan ini berlaku surut sejak 1 Januari 1946.
a)            Susunan organisasi SUBKOSS adalah :
(1)       SUBKOSS bermarkas di Tanjung Enim, Komandan pertama ialah Kolonel M. Simbolon.
(2)         Devisi I Garuda bermarkas di Lahat, komandannya Kolonel Barlian.
(3)          Devisi II Garuda bermarkas di Palembang, komandannya Kolonel bambang Utoyo.

b)            Devisi I/Garuda Lahat terbagi atas 4 Resimen, yaitu :
(1)          Resimen XI Tanjungkarang (Lampung)
(2)          Resimen XII Baturaja
(3)          Resimen XIII Lahat, dan
(4)          Resimen XIV Bengkulu

c)            Susunan personalia Resimen XI Devisi Garuda TRI Lampung selengkapnya sebagai berikut :
(1)       Komandan Resimen XI      : Letkol Iwan Supardi (ke-I)
                                                          Letkol Arif (ke-II)
(2)       Ajudan                                  : Letda Ja’far (ke-I)
                                                           Letda Muin (ke-II)
(3)       Kepala Staf                        : Kapten Salim Batubara (ke-II)
                                                          Mayor Nurdin (ke-II)
(4)       Operasi (Organisasi)           : Kapten Mukhizar
            Intendance                            : Letnan Sudarjo
            Siasat                                     : Letnan I Karim Kadir
            Polisi Tentara                       : 1. Letnan I Suparman
                                                              2. Kapten Daud
(5)       Pengangkutan                     : Kapten Margono
            Sekretariat                             : Letda Kgs. Badaruddin
            Penghubung Masyarakat     : Letda A. Herni

d)            Selanjutnya Resimen XI terdiri atas 3 Batalyon, yaitu :
(1)          Komandan Yon I Tjk./T. betung :
Kapten Ismail Husin
(2)          Komandan Yon II Metro :
Kapten Salim Batubara (ke-I)
Kapten Harun Hadimarto (ke-II)
(3)          Komandan Yon III Kotabumi :
Kapten Hasan (ke-I)
Kapten Supomo (ke-II)

3)         Terbentuknya Resimen 41 Devisi VIII Garuda TRI Lampung
Sebagaimana diketahui bahwa setelah pertempuran 5 hari 5 malam di Palembang melawan Belanda berakhir, maka sebagai hasil perundingan dengan Belanda TRI terpaksa harus mengundurkan sejauh 20 km dari radius kota Palembang/Talang Betutu. Untuk menghadapi serangan Belanda selanjutnya pada tanggal 10 Januari 1947 dianggap perlu diadakan reformasi/reorganisasi TRI di Sumatera Selatan. Sub Komandemen dihapuskan dan dijadikan satu devisi yang dinamai DEVISI GARUDA VIII, yang membawahi 3 Resimen, satu Brigade Pertempuran Garuda Merah ditambah Batalyon istimewa Garuda Merah.
a)            Tiga Resimen tersebut adalah :
(1)          Resimen 41 Tanjungkarang (Lampung)
(2)          Resimen 42 Bengkulu
(3)          Resimen 43 Jambi

b)            Susunan Personalia Resimen 41 Devisi VIII Garuda Tanjungtkarang adalah :
(1)       Komandan Resimen 41     : Letkol M. Arif
(2)       Ajudan                                   : Letnan II Maris
(3)       Kepala staf                            : Myor Nurdin
(4)       Siasat                                     : Letnan II Kasim
(5)       Organisasi/Operasi              : Kapten Mukhrizar
(6)       Sekretaris                              : Letnan II R. A. Badarudin
(7)       Detasemen                           : Letnan II Maris
(8)       Intendence                            : Kapten M. Hasan
(9)       Polisi Tentara                       : 1. Kapten Rusnawi
                                                          2. Kapten Daud

c)         Resimen 41 Devisi VIII Garuda terdiri dari 3 Batalton yaitu :
(1)       Danyon I Tanjungkarang   : Mayor Ismail Husin
(2)       Danyon II Kotabumi           : Mayor Harun Hadimarto
(3)       Danyon III Baturaja            : Mayor Sukardi Hamdani

4)         Terbentuknya Brigade Garuda Hitam Devisi VIII TNI Lampung
a)         Perubahan TRI menjadi TNI.         Pada tangal 2 Februari 1947 Panglima Tertinggi Presiden RI Ir. Soekarno mengumumkan perintah Gencatan Senjata (Cease Feri Order). Perintah ini ditaati oleh seluruh Angkatan perang termasuk di Sumatera Selatan. Namun dalam pada itu TRI tetap waspada dan mempertinggi mutu serta keterampilannya.
Pada tanggal 3 Juni 1947 sebenarnya dikeluarkan Dekrit presiden yang memerintahkan perubahan TRI dan peleburan laskar-laskar menjadi Tentara Nasional Indonesia atau TNI. Namun perubahan itu di Sumatera Selatan nantinya baru dapat dilaksanakan pada tanggal 27 Oktober 1947. Hal ini disebabkan adanya kesibukan-kesibukan pertempuran-pertempuran sebagai akibat dari terjadinya Aksi Militer Belanda (Clash I) yang dimulai pada tanggal 21 Juli 1947 dan telah menyerang seluruh garis pertahanan terdepan di Sumatera Selatan.

b)         Terbentuknya Brigade Garuda Hitam TNI Lampung.    Untuk membendung kemajuan tentara Belanda sejak dimulainya agresi I tanggal 21 Juli 1947 maka pada tanggal 1 Juni 1948 struktur organisasi di ubah lagi sehigga Devisi VIII Garuda menjadi sebagai berikut :

(1)       Devisi VIII Garuda terdiri dari 5 Brigade yang masing-masing komandannya sebagai berikut :
(a)       Devisi VIII Garuda, Komandannya Kolonel M. Simbolon
(b)       Brigade Garuda Mas, Komandannya Kolonel Berlian
(c)        Brigade Garuda Hitam, Komandannya Kolonel Syamuan Gaharu
(d)       Brigade Garuda Putih, Komandannya Kolonel Abujani
(e)       Brigade Garuda Merah, Komandannya Kolonel Bambang Utoyo
(f)        Brigade Garuda Dempo, Komandannya Kolonel Hasan Kasim

(2)       Susunan Personalia Brigade Garuda Hitam TNI Lampung sebagai berikut :
(a)       Dan Brigade Gatam : Kol Syamaun Gaharu
(b)       Ajudan                       : -
(c)        Kepala Staf               : Mayor Nurdin
(d)          Operasi (organisasi) : Kapten A. Ibrahim
(e)          Siasat                         : Kapten Sumarto
  Lettu Tambuh Semendawai
(f)        Intendance                : Kapten Hasan
(g)       Perhubungan           : Lettu Busni
(h)       Angkutan                  : Kapten Mas Adi
(i)         Sekretariat                 : Letda Kgs Badaruddin
(m)      Datasemen               : Lettu Ali mansyur

(3)       Selanjutnya Brigade Garuda Hitam terbagi atas 3 Batalyon yang masing-masing Komandannya sebagai berikut :
(a)       Danyon 21 Telukbetung    : Mayor Ismail Husin
(b)       Danyon 22 Kotabumi        : Mayor Harun
                                                         Hadimarto
(c)        Danyon 23 Tanjungkarang : Mayor Sukardi
                                                          Hamdani
5)         Terbentuknya Batalyon Mobil.   Pada akhir 1948 situasi nasional maupun regional sudah semakin gawat, karena Belanda selalu melanggar persetujuan yang telah dibuat. Untuk daerah Lampung diperkirakan Belanda akan menyerbu kedaerah ini, maka diadakan persiapan-persiapan pertahanan dan keamanan.
            Dibentuknya oleh Sub Teritorial Lampung suatu Batalyon Mobil yang memiliki persenjataan yang memadai. Seperti diketahui devisi VIII Garuda yang dibentuk pada tanggal 21 Januari 1947 dengan personalia sebagai berikut : komandan Devisi VIII Garuda: M. Simbolon Kolonel, Brigade  Garuda Hitam Lampung dengan Komandan Syamaun Gaharu, Letnan Kolonel, terdiri atas 3 Batalyon :
a)            Batalyon 21 Telukbetung, Komandan Ismail Husin, Mayor.
b)      Batalyon 22 Kotabumi, Komandan Harun Hadimarto, Mayor.
c)      Batalyon 23 Tanjungkarang, Komandan Sukardi Hamdani, Mayor.
Kompi Supomo masuk ke dalam formasi Batalyon 21

Pada tanggal 1 Juli 1948 di bentuk SUBKOSS dengan membawahi :
a)            Sub Teritorial Jambi (STJ) berkedudukan di Jambi
b)            Sub Teritorial Bengkulu (STB) berkedudukan di Bengkulu
c)            Sub Teritorial Lampung (STL) berkedudukan di Lampung
d)            Sub Teritorial Palembang (STP) berkedudukan di Palembang

Sub Teritorial Lampung terdiri atas :
a)            Komando Distrik Militer (KDM) Tanjungkarang, Batalyon 21, Komandan Kapten Ismail Husin.
b)            Komando Distrik Militer (KDM) Metro, Batalyon 24, Komandan Kapten Harun Hadimarto.
c)            Komando Distrik Militer (KDM) Kotabumi, Batalyon 22, Komandan Kapten Sukardi Hamdani.
d)            Komando Distrik Militer (KDM) Tanjungkarang Telukbetung, Mayor N. S Efendy.

Selain itu Batalyon Mobil dengan Komandan Kapten Nurdin, yang terdiri atas :
a)         Kompi I                       : Komandan Lettu Abdulhak
b)         Kompi II                      : Komandan Lettu Endro Suratmin
c)         Kompi III                     : Komandan Lettu Supomo
d)         Kompi IV                    : Komandan Lettu Baheram (masih dalam persiapan)

Pejabat didalam Kompi III antara lain :
a)         Kepala administrasi             : Letda Masno Asmono
b)         Komandan Seksi Mortir      : Letda Barmo Atmijoyo
c)         Komandan seksi SM           : Letda Darto

Markas Batalyon dan asrama Kompi di Kedaton (Gedung Perumahan PTP) sekarang. Markas asrama itu di tempati dari bulan Juli-Desember 1948. kegiatan kesatuan adalah latihan kesatuan dan melengkapi kesatuan dengan pakaian seragam, persenjataan dan angkutan. Perlengkapan persenjataan selain senapan mesin juga mortir buatan Banten. Pakaian hijau dan sepatu lapangan lengkap. Komandan Kompi mendapat sepeda motor BSA yang masih baru. Waktu percobaan mortir buatan Banten, terjadi suatu tragedi, karena pelurunya meledak di dalam suatu laras/tabungnya dan menewaskan penembaknya. Berdasarkan penembakan umum Brigade Garuda Hitam/Sub Teritorial Lampung, maka Batalyon Mobil itu dipersiapkan untuk menjadi pasukan tempur yang memperkuat Batalyon. Batalyon teritorial di KDM-KDM yang memerlukan untuk menghadapi kemungkinan serangan Belanda dari laut (di Selatan) maupun dari Utara (Martapura). Hal ini diperkirakan oleh Kapten Supomo dengan adanya perintah operasi gerakan di Kotabumi. Gerakan dilaksanakan secara bertahap, yang pertama kompi bertahan di Tegineneng dan Bekri, karena gencarnya serangan Belanda terhadap Tigeneneng dan Bekri, maka Kompi III Batalyon Mobil dengan tetap memberi perlawanan menjalankan operasi gerakan ke belakang dan bertahan di Haji Pemanggilan.

16.       Karesidenan.           Berita kekalahan Jepang atas sekutu meskipun dirahasiakan pihak Jepang bocor lagi. Berita tersebut di susul pula dengan berita mengenai Proklamasi Kemerdekaan RI dari Jakarta melalui radio oleh Kepala Penerangan Karesidenan Lampung, Amir Hasan. Mr. A .Abas sendiri yang ikut dalam sidang-sidang PPKI kembali ke Lampung disamping membawa berita mengenai Proklamasi juga membawa teks Proklamasi pada tanggal 23 Agustus 1945. sebagai tindak lanjut Mr. Abas mengadakan pertemuan di rumah kediaman beliau di perempatan Enggal Tanjung Karang. Beliau oleh Pemerintah Pusat ditunjuk sebagai Residen Lampung Pertama. Segera dibentuk Komite Nasional Daerah Lampung (KNID), kemudian KNI-KNI Kawedanan dan Kecamatan. Di bentuk pula jawatan-jawatan atau instansi pemerintah untuk mengganti yang tadinya dipegang Jepang untuk digantikan oleh orang Indonesia. Sebagai ketua KNID adalah Wan Abdurahman dan sebagai kepala Penerangan ditunjuk Amir Hasan. Setelah terbentuknya Pemerintah Karesidenan Lampung, maka mulai tanggal 24 Agustus diadakan Upacara Bendera secara resmi di lapangan samping bioskop King Tanjung Karang dan dikibarkan bendera Merah Putih serentak seluruh Lampung pada tanggal 24 Agustus 1945. karesidenan Lampung dibagi atas 3 Kabupaten, yaitu Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Lampung Tengah dan Kabupaten Lampung Utara. Sedang pembentukan pemerintah ditingkat bawah lebih banyak merupakan inisiatif pemuka masyarakat setempat. Sebagai Residen Lampung, Mr. A. Abas dalam mengambil alih pemerintah Jepang menghendaki jalan damai, bukan dengan jalan kekerasan. Pada umumnya pengambil alihan Pemerintahan dari pihak Jepang berjalan lancar, meskipun sering juga terpaksa terjadi bentrokan bersenjata dengan Jepang. Hal ini karena Jepang merasa bahwa penyerahan mereka bukan kepada rakyat Indonesia,tetapi kepada sekutu. Sedangkan kita sejak Proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 merasa yang berkuasa. Karena adanya perbedaan sikap kedua pihak, sering terjadi juga bentrokan bersenjata yang sebenarnya merugikan kedua belah pihak.

            Bentrokan di Bandar Lampung segera dapat diatasi setelah diadakan perundingan antara Residen Lampung Mr. Abas dengan Kolonel Taisa, dimana pihak Jepang akhirnya bersedia menyerahkan kekuasaan kepada kita. Di Bukit Kemuning juga tak terjadi bentrokan senjata sedangkan di Kotabumi pihak Jepang bersedia menyerahan kekuasaan, karena kita sudah merdeka. Tetapi Pemerintah Karesidenan Lampung mau menyerahkan sisa-sisa tentara Jepang yang telah dilucuti senjatanya untuk dikirim ke Palembang guna dikembalikannya ke Jepang oleh pihak sekutu. Residen Mr. A. Abas berhasil membebaskan R. Suharjo Harjo Wardoyo yang diculik oleh Angkatan Pemuda Indonesia (API). Semula akan dibunuh karena dituduh bekerjasama dengan Jepang. Tuduhan itu hanya fitnah.

            API di Lampung pada tahun 1946 terbagi atas 3 kelompok laskar yaitu PERSINDO, Laskar Rakyat dan Hizbullah. Tetapi kemudian disatukan kedalam TKR. Keadaan Pemerintahan Karesidenan Lampung, terutama di bidang Keamanan pada tahun 1946 adalah tenang pada bulan September 1946 terjadi peristiwa pengambil alihan kekuasaan Residen Mr. A. Abas secara tidak syah, melalui aksi-aksi dari apa yang mereka namakan dirinya ”Panitia Perbaikan Masyarakat” yang dipimpin Zainal Abidin Keneron. Peristiwa itu mula-mula terjadi pada tanggal 9 September 1946 dengan menempelkan pamflet-pamflet di kota Tanjung Karang Teluk Betung yang menuntut agar 15 orang pejabat yang duduk dalam pemerintah Karesidenan Lampung, termasuk didalamnya Residen Lampung Mr. A. Abas diberhentikan karena tidak cakap. Mereka kemudian mengadakan rapat raksasa di Lapangan Enggal. Gerakan ini rupanya mendapat dukungan, bahkan didalami oleh Komandan Resimen Letnan Kolonel Arif. Kemudian mereka berdemonstrasi ke DPRD dengan mengarak Dr. Batril Munirdan Ismail sebagai Residen dan Wakil Residen Lampung. Pada tanggal 12 September 1946 malam Dr. Batril Munir, Ismail, Letkol Arif dan A. A. Cinderbumi mendatangi Residen Mr. A. Abas untuk menyerahkan kekuasaan, tetapi ditolak karena dipandang melanggar Undang-undang.

            Pada tanggal 17 September 1946 Pemerintah Karesidenan Lampung diambil alih oleh Resimen XI tanpa sepengetahuan Residen Lampung. Peristiwa tersebut dilaporkan oleh Mr. A. Abas selaku Residen Lampung kepada Gubernur Sumatera lewat kawat pada tanggal 23 September 1946. dan berdasarkan laporan tersebut dikeluarkan maklumat delegasi pemerintah pusat yang berkunjung ke Sumatera untuk mengakhiri kekacauan Pemerintahan di Karesidenan Lampung. Kedua delegasi ditugaskan untuk mengambil alih Jabatan Residen Mr. A. Abas dan semua pegawai yang karena sesuatu hal tak bekerja untuk membereskan pekerjaannya dan kalau perlu mengoperkan pekerjaannya kepada orang lain yang di tunjuk oleh Instansi yang bersangkutan. Delegasi akan mengoperkan pekerjaannya pada Residen yang ditunjuk oleh Presiden. Dengan adanya maklumat tersebut kekalutan Pemerintahan di Karesidenan Lampung dapat di selesaikan. Kelambatan tindakan Pemerintah karena menghadapi suasana yang makin panas akibat pendaratan tentara sekutu dan NICA. Mr. A. Abbas kemudian digantikan oleh Dr. Batril Munir dan sebagai wakilnya Ismail. Dr. Batir Munir disetujui sebagai Residen, tetapi wakilnya di tunjuk R. A. Rasid. Ternyata Dr. Batir Munir kesehatannya terganggu dan kemudian kemelut didalam pemerintahan daerah di Lampung diselesaikan oleh Mr. Hermani dari Pemerintahan Pusat. Diangkat sebagai Residen adalah RM. Sukadi Wiryo Harjo, sebagai wakil Residen RA. Basyid. Keadaan itu berlangsung hingga agresi Belanda II di Lampung tanggal 1 Januari 1949. karena RM Rukadi tidak keluar dari kota Tanjung Karang, maka lalu dibentuk Pemerintah darurat karesidenan dengan Mr. Gele Harun sebagai Residen dan RA Basyid sebagai wakil Residen. Sedangkan Mr. A. Abas kembali ke Sumatera Utara, isterinya Prof. Ani Abbas manopo menjadi dosen di Universitas Sumatera Utara.

17.       Hari Jadi Kodim/Lampung Utara
a.         Latar belakang.       Kemerdekaan Negara RI yang di Proklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno Hatta atas nama Bangsa Indonesia, baru disebarluaskan di daerah Lampung pada tanggal 24 Agustus 1945 setelah Bapak Mr. Abas sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia kembali dari Jakarta, lewat Palembang dengan membawa teks Proklamasi 17 Agustus 1945. Untuk mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan RI tersebut seluruh pejuang/rakyat dari daerah Lampung menghimpun dan membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada tanggal 9 September 1945. adapun perkembangan secara kronologis sbb :

1)         Tanggal 9 September 1945.           Dimulai perjuangan di Lampung, para pemuda dan pemudi dengan kesadaran dan tekad untuk mempertahankan dan menegakkan Proklamasi 17 Agustus 1945, mereka berkumpul di Tanjung Karang Lampung, dipelopori oleh Ex Perwira Cyugun, Bitara HAIHO, tujuan untuk menyumbangkan tenaga dengan menghimpun dan menyusun kekuatan, didalam satu wadah/badan yang bernama “BADAN KEAMANAN RAKYAT” (BKR) yang semula tugasnya dibidang “Keamanan saja” kemudian berubah menjadi organisasi tentara, dibawah satu Komando dan diberi nama “BADAN KEAMANAN RAKYAT” (BKR). Dengan demikian, BKR merupakan awal dari TNI-ABRI, atau dengan kata lain BKR merupakan embrio dari TNI/ABRI yang lahir sebagai wadah semangat perjuangan Rakyat.

2)         Tanggal 11 September 1945.        Didalam perkembangan BKR di daerah Lampung ini, berubah menjadi PENJAGA KEAMANAN RAKYAT (PKR) dan seterusnya berkembang sesuai dengan Perjuangan Rakyat Indonesia.

3)         Tanggal 5 Oktober 1945.    Pemerintah RI mengeluarkan maklumat tentang pembentukan tentara yang diberi nama Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pembentukan ini disambut gembira oleh segenap lapisan/badan dan segera pula para pemuda masuk menjadi TKR, demikian juga pemuda-pemuda yang militan daerah Lampung ikut masuk menjadi TKR.

4)         Tanggal 14 Oktober 1945.  berdasarkan hasil rapat masyarakat dan para perwira Cyugun dan Heiho di Pagar Alam Sumatera Selatan maka daerah Lampung masuk susunan Divisi V dan berkedudukan di Lahat, Lampung masuk Resimen III berkedudukan di Tanjung Karang dipimpin oleh Letnan Kolonel Iwan Supardi dengan membawahi 4 Batalyon diantaranya Batalyon IV di Kotabumi dipimpin oleh kapten Masadi

5)         tanggal 26 Januari 1946.   Perubahan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) dan selanjutnya menjelang Agresi Belanda II dimana segenap kekuatan bersenjata disaat itu telah disatukan dalam satu wadah Tentara Nasional Indonesia (TNI) penyatuan ini terjadi pada tanggal 3 Juni 1947 berdasarkan Dekrit Presiden/Panglima Tertinggi tanggal 15 Mei 1947.

6)         Tanggal 17 Mei 1946.         Terjadi perubahan, semula Daerah Lampung masuk Devisi V kemudian masuk Divisi I Lahat, susunan kekuatan yaitu Resimen XI di Tanjung Karang dipimpin Letnan Kolonel Iwan Supardi dengan membawahi 3 Batalyon termasuk Batalyon III di Kotabumi dipimpin oleh Kapten Hasan
7)         Tanggal 10 Januari 1947.  Sub Komandemen Sumatera Selatan diubah menjadi Divisi Komandan VIII, daerah Lampung menjadi Resimen 41 dipimpin Letnan kolonel Arif membawahi 3 Batalyon diantaranya Batalyon di Kotabumi dipimpin oleh Mayor Harun Hadinarto.

8)         Tanggal 3 juni 1947.           Tentara Keamanan Rakyat ( TKR ) yang telah berubah menjadi Tentara Republik Indonesia ( TRI ) kemudian disatukan menjadi satu wadah Tentara Nasional Indonesia ( TNI ). Penyatuan ini terjadi berdasarkan Dekrit Presiden/ Panglima tertinggi tanggal 15 Mei 1947.

9)         Tanggal 2 september 1947.           Resimen 41 berubah menjadi Brigade Garuda Hitam di pimpin oleh Letnan Kolonel Samaun Gaharu.Hari inilah merupakan Tonggak awal sejarah nama Garuda Hitam menjaga wilayah kesatuan RI khusus nya di wilayah Lampung.

10)      Tanggal 1 Juni 1948.          dengan adanya Perubahan Brigade Garuda VIII menjadi Sub Komandemen Sumatera Selatan yang membawahi Sub Teritorial, maka daerah Lampung disingkat STL yang di pimpin oleh Letnan Kolonel Samaun Gaharu dengan 3 Distrik Militer dan 3 Batalyon Mobil yang termasuk distrik Militer Lampung Utara di Kotabumi dipimpin oleh Kapten Sukardi Hamdani. Sedangkan Danyon mobil dijabat oleh Acting Kapten M. Nurdin membawahi 3 Kompi  Yaitu  :
a)         Kompi Acting Lettu Abdul Hak
b)         Kompi Acting Lettu Hendro Suratmin
c)         Kompi Acting Lettu Supomo

11)      Untuk memperbaiki lini pertahanan Lampung Utara dan menghambat penerobosan pasukan Belanda dari Belitan Baturaja, Danyon mobil Kapten M. Nurdin Mmemerintahkan peleton I Kompi 2 dipimpin Letda Bursak menuju Lampung Utara dan berkedudukan di Pakuan Ratu 
12)      Selanjutnya pada tanggal 31 Desember 1948 malam, 2 Kompi dari Yon mobil diberangkatkan ke Lampung Utara
            a)         Kompi I Lettu Abdul Hak akan ditempatkan di Way Tuba        Blambangan Umpu

b)         Kompi II Lettu Endro Suratmin di tempatkan diperbatasan Lampung Utara dan lampung tengah yaitu di Way Subik dan Terbanggi 
Besar

 13)     Masa perang kemerdekaan II (pada tanggal 1 Januari 1949 pada pada malam hari diadakan rapat yang dihadiri Danyon Mobil Kapten Nurdin Bupati Lampung Utara Ahmad Akuan dan tokoh-tokoh masyarakat serta para pimpinan partai politik, dibentuklah pemerintahan karesidenan Lampung di Kotabumi dan Ahmad Akuan Bupati Lampung Utara ditunjuk sebagai Residen Darurat Lampung, sambil menunggu berita lebih lanjut dari Dansub Teritorial Lampung di  Lampung Selatan.

14)      Tanggal 19 September 1948.        Belanda melakukan Agresi Militer ke II Sub Teritorial Lampung dibawah Letnan Kolonel Samaun Gaharu dan Batalyon Mobil dipimpin Kapten Nurdin serta kesatuan lainnya mengadakan perlawanan dengan melakukan perang Gerilya.

15)      Pada tanggal 17 Januari 1949 Pemerintah darurat Keresidenan Lampung di Kotabumi dibubarkan setelah diangkatnya Mr. Gele Harun Nasution sebagai Residen darurat Keresidenan Lampung dan R.A Basyid sebagai wakil keresidenan Lampung.
16.       Pada bulan Maret 1949 diputuskan untuk mencetak uang darurat Kapten Nurdin Komandan Front Utara dan Bupati Lampung Utara Ahmad Akuan. Keputusan diambil karena pada waktu itu kesulitan mendapatkan uang sebagai alat bayar yang sah. Uang darurat tersebut di cetak di kantor Bupati Lampung Utara yang lokasinya sekarang di gedung juang ’45 dijalan Jend Sudirman no 28 Kotabumi. Sedangkan bangunan asli kantor Bupati Lampung Utara dibumi hanguskan Belanda pada saat menyerbu pada tanggal 23 Mei 1949.

17)      Pada bulan Mei belanda menyerang kedudukan pasukan Letnan Dua Adnan Sangjaya di Kampung Labuhan Dalam dan Surakarta ditepi Way Rarem. Dalam pertempuran Letnan Adnan Sangjaya Gugur.
18)      Pada tanggal 23 Mei 1949 hampir 5 bulan pendaratan Belanda di Panjang dan Teluk Betung pada januari 1949 akhirnya Belanda berhasil merebut dan menduduki Lampung Utara.

19)      Walaupun Kotabumi sudah diduduki , Namun Perlawanan TNI bersama Pejuang dan Rakyat Lampung terus bergelora. Pertempuran demi pertempuran terus berlangsung dibeberapa tempat.
            a)         Pertempuran di Cempaka pada bulan Mei 1949, Danyon Mobil Kapten M.Nurdin mengangkat Haji A.Rasyid Yasin sebagai kepala Kampung perang Akhir Mei 1949 desa Cempaka diserang pasukan Belanda dibawah pimpinan Rempen Kaligis, 11 orang penduduk Cempaka tewas ditembak Belanda.  Bulan Juni 1949 pasukan Beruang Hitam dibawah Serma Adhar Su’ud menyerang pasukan Belanda dan menduduki desa Cempaka , sejak bulan Oktober 1949 desa Cempaka dikosongkan dari TNI, karena pasukan Belanda sering mengadakan patroli dengan kekuatan besar dan rakyat desa Cempaka jadi sasaran kekejaman pasukan Belanda. Tanggal 19 oktober kepala kampung terpaksa mengungsikan ke luar desanya dan baru kembali setelah pengakuan kedaulan tanggal 27 Desember 1949.

            b)         Pertempuran di Ketapang tanggal 15 Juni 1949.
                        Dalam pertempuran ini 4 anggota TNI gugur yaitu
                        - Kopral Buyung Rusli.
                        - Pratu Pulung.
                        - Pratu Mustopa
                        - Maksum.

c)         Pertempuran di Negara  Ratu, Kopral Mahmud gugur dan Letda Gani Somad luka-luka. Wedana Lukman dan Carrat ditembak waktu naik perahu dan tewas tenggelam.

d)         Pertempuran danperistiwa tragis di Penumangan  suatu kampung yang terletak diantara Menggala dan Pagar Dewa yang pada waktu itu termasuk Kabupaten Lampug Utara. Pada akhir Juli 1949 terjadi pertempuran anatara pasukan Macan Loreng Belanda yang dikenal kejam dan ganas yang sedang berpatroli dengan 2 seksi pasukan TNI (seksi I Seksi Letda Johan Syah dan Seksi II Seksi Pembantu Letnan CPM Manalu) yang berangkat dari Pagar Dewa untuk menyerang tenatara Belanda di Menggala.

20)      Pada tahun 1950.    Salah satu kesatuan di daerah Lampung diubah menjadi Batalyon XXI yang selanjutnya pindah ke Palembang menjadi Batalyon 201 dipimpin oleh Kapten Zin. Batalyon 206 dipimpin Kapten RM. Ryacudu berkedudukan di Baturaja.

21)      Pada bulan Januari 1953. Batalyon 206 dan Brigade IX dipimpin Letkol R. Kritarto dipindahkan dari Baturaja ke Tanjung Karang menjadi Resimen Infanteri Sub Terr-6 Teritorium II Sumatera Selatan. Batalyon 202 dipimpin Mayor Sukondo di Baturaja masuk susunan Sub Terr-6 Teritorium II Sumatera Selatan.

22)      Tahun 1962. Resimen Infanteri Sub Terr-6 Teritorium II Sumatera Selatan diubah menjadi Komando Resor Militer (KOREM) Garuda Hitam, Kodam II/Sriwijaya.

23)      Tahun 1963. Korem Garuda Hitam resmi menjadi Korem 043/Garuda Hitam diimpin Letnan Kolonel Infanteri Animan Ahyat.

24)      Tanggal 13 Desember 1984.         Batalyon Infanteri 143/TWEJ masuk susunan Korem 043/Garuda Hitam.


b.         Tugas Operasi Kodim 0412/Lampung Utara
1)         Operasi DI dan TII
2)         Operasi PRRI

c.         Operasi Penumpasan G 30 S/PKI sbb :
1)         Tahun 1967 Operasi Susuk Gulung
2)         Tahun 1968 Operasi Sapu Jagat
3)         Tahun 1969 Operasi Pamungkas
4)         Tahun 1971 Operasi Intel
5)         Tahun 1980 s/d 1981 Operasi Sapu Jagad
6)         Tahun 1982 Operasi Guntur

d.         Tanggal 13 Juli 1971 dengan dibantu oleh Kesatuan Angkatan Laut, Angkatan Udara, Polri dan Hansip dan Wanra, Kodim/Lampung Utara melaksanakan Operasi BINADHARMA.

e.         Tanggal 18 April 1976 s/d Januari 1977 beberapa anggota Kodim/Lampung Utara bergabung dengan Batalyon Infanteri 143/BS, melaksanakan Operasi Seroja di Timor-Timor.

f.          Tanggal 30 Oktober 1976 timbul gangguan keamanan di daerah Lampung, khususnya di Lampung Utara dari Gerombolan Pengacau Liar (GPL) yang menamakan dirinya Komando Jihad dibawah pimpinan Warman cs.

Untuk mengatasi gangguan Keamanan tersebut oleh Polri telah dilaksanakan Operasi Halilintar I, II dan III yang berakhir pada tanggal 25 Januari 1977. untuk mengimbangi Operasi tersebut, Kodim 0412/Lampung Utara membantu dengan Operasi Intel dengan nama Waspada Yudha. Selanjutnya Polri melaksanakan Operasi Kamtibmas karena situasi dan kondisi Operasi beralih menjadi Operasi Teritorial dan berlanjut menjadi Operasi Por terbatas, yang kemudian ditingkatkan menjadi Operasi Tumpas I, II dan III.

g.         Mulai 1980 Kodim/Lampung Utara sebagai salah satu jajaran TNI/ABRI ikut melaksanakan Operasi Bhakti TNI/ABRI masuk Desa (AMD), yang sampai saat ini telah menyelesaikan tahap-tahap AMD. Yang saat ini telah berubah menjadi TMMD (Tentara Manunggal Masuk Desa).

h.         Tahun 1983 s/d 1988 Kodim/Lampung Utara telah melaksanakan Operasi Bhakti Manunggal Reboisasi I s/d III yang berlokasi di Lampung Utara, Lampung Tengah dan Lampung Selatan seluas 12.050 Hektar.

i.          Tanggal 15 Agustus 1985 telah diberangkatkan Yonif 143/Twej Rem 043/Gatam melaksanakan Operasi ke Timor-timor dengan kekuatan 687 orang.

j.          Untuk memelihara Stabilitas Nasional di daerah Lampung dan dalam rangka mencegah dan menetralisir segala kerawanan telah dilaksanakan :
1)         Operasi Menggala
2)         Operasi Widya Sakti
3)         Operasi Sadar
4)         Operasi Rajabasa
5)         Operasi Seragi
6)         Operasi Guntur

k.         Dengan terjadinya peristiwa berdarah di Lampung Tengah yang mengakibatkan gugurnya Danramil Kecamatan Way Jepara, dan Sek Sidorejo Kecamatan Jabung Lampung Tengah dan anggota TNI/ABRI lainnya oleh Gerakan Pengaacau Keamanan (GPK) pimpinan Warsidi dari Talangsari III Rajabasa lama pada tanggal 6 Februari 1989, Kodim 0412/Lampung Utara melakukan Penumpasan GPK Warsidi dan NII dengan Operasi Teritorial bernama Operasi Garuda yang dimulai tanggal 7 Februari 1989 bersama dengan Instansi Keamanan yang terkait.

l.          Pejabat-Pejabat Komandan Kodim 0412/Lampung Utara
1)         Kapten Sukardi Hamdani                Periode 1948
2)         Kapten Harun Hadi Marto               Periode
3)         Letkol Inf Zulkarnaen                      Periode 1980 s/d 1985
4)         Letkol Inf C.K Pasaribu                   Periode 1985 s/d 1987
5)         Letkol Inf Kamsu Adik.S                 Periode 1987 s/d 1990
6)         Letkol Inf Sutomo                           Periode 1990 s/d 1991
7)         Letkol Kav Said Mujito                    Periode 1991 s/d 1992
8)         Letkol Inf A. Sugiarto                      Periode 1992 s/d 1994
9)         Letkol Inf Sentot Maksum               Periode 1994 s/d 1997
10)      Letkol l Inf Andi Sudarno                 Periode 1997 s/d 1998
11)      Letkol Ctp Deny Tamrin                   Periode 1998 s/d 1999
12)      Letkol  Inf Arwandi                           Periode 1999 s/d 2001
13)      Letkol Inf Herawan                          Periode 2001 s/d 2003
14)      Letkol Arm Dedy Sastrawan           Periode 2003 s/d 2005
15)      Letkol  Kav Feryy Supriyanto          Periode 2005 s/d 2007
16)      Letkol Inf R.l. Simanjuntak              Periode 2007 s/d 2009
17)      Letkol Kav Gigih Nugroho               Periode 2009 s/d 2011
18)      Letkol Inf Lilik Sudaryani                 Periode 2011 s/d 2012
19)      Letkol Inf Ayi Lesmana                    Periode 2012 s/d 2013
20)      Letkol Inf Marzuki                            Periode 2014 s/d 2015
21)      Letkol Inf Mahfud Supriadi              Periode 2015 s/d 2016
22)      Letkol Inf R.D.Bahtiar K,S.IP.          Periode 2016 s/d 2018
23)      Letkol Inf Krisna Pribudi                 Periode 2018 s/d Sekarang

            Tanggal 2 September 1947 merupakan hari bersejarah bagi daerah Lampung karena pada hari itu telah lahir pasukan-pasukan bersenjata di daerah Lampung dibawah satu Komando untuk membela dan mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dan pada intinya pasukan-pasukan itulah merupakan kesatuan yang menjadi cikal bakal Kodim 0412/Lampung Utara.



BAB V
NILAI HISTORIS YANG DIAMBIL

18.       Umum.           Para pejuang kemerdekaan yang telah berkorban demi kepentingan negara dan bangsa dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan bagi para generasi penerus dapat memetik hal-hal positif terutama sifat patriotik dan heroik yang mengandung nilai-nilai kejuangan yang telah dijadikan nilai juang bangsa Indonesia. Dengan adanya sejarah perjuangan kemerdekaan disamping berfungsi menjadi penghubung antara generasi penerus yang hidup dan berjuang mengisi kemerdekaan yang dapat menauladani yang melestarikan dan mengembangkan jiwa, semangat dan nilai 45 dalam menegakkan dan mengisi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada umumnya dan di Propinsi Lampung bersama Kodim 0412/Lampung Utara.

19.       Kepahlawanan.       Kebesaran jiwa dan sikap pantang menyerah para pejuang sebagai pahlawan bangsa dalam memperjuangkan, merebut dan membela serta menegakkan kemerdekaan ditunjukkan oleh Radin Intan I dan Radin Intan II terhadap penjajah yang akan menduduki wilayah Lampung dengan melalui bidang Kapitalisme, impreralisme dan kolonialisme maupun dengan kekuasaan yang dihadapi dengan bentuk perjuangan fisik dan meningkatkan pada pergerakan nasional yang dilanjutkan oleh para pejuang-pejuang lainnya hingga Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang dikenal diantaranya yaitu :
a.            Mayjen Suharjo
b.            Letkol Samaun Gaharu
c.            Letkol Arif
d.            Letkol Iwan Supandi
e.            Kapten Ahmad Ibrahim
f.             Kapten Baheran
g.            Kapten Abdul Hak
h.            Kapten Harun Hadimarto
i.              Letnan A. Army
j.              Kapten Ismail Husin
k.            Mayor Mas Sukardi Hamdani
l.              Kapten RM. Riyacudu
m.           Kapten M. Salim Batubara
n.            Kapten Supomo
o.            Letnan Sastro Sumedi
p.            Kapten Margono
q.            Kapten Masudi
r.             Kapten Nurdin Panji
s.            Kapten Endro Suratmin
t.              Kapten CPM Wily Suratno
u.            Letda Sutrisno
v.            Letnan Warso Kusumo

Bagi generasi penerus bangsa harus terpanggil dan bertanggung jawab dalam mewujudkan sikap pantang menyerah dalam menghadapi segala tantangan yang telah dilakukan oleh para pejuang/pahlawan sebelumnya.

20.       Kepemimpinan.      Sikap dan perilaku kepemimpinan dari para pejuang/pahlawan dalam memimpin memperjuangkan merebut membela dan menegakkan kemerdekaan dengan menyingsingkan lengan baju dan memeras darah dan keringat dalam memperjuangkan kemerdekaan RI patut diteladani bagi generasi penerus dengan menghayati dan mengamalkan semangat perjuangan para pendahulu, sehingga dapat memimpin dan bekerja lebih luas lagi dalam mengisi kemerdekaan RI di Propinsi Lampung. Kebersamaan para pejuang antara yang memimpin dan yang dipimpin dalam memperjuangkan dan memelihara kemerdekaan RI dengan tetap teguh dan konsekuen dalam menjaga keamanan dan keselamatan bangsa dan negara RI. Ikatan batin yang kuat dengan senasib sebangsa dan setanah air untuk mempertahankan negara dan bangsa sangat menunjang semangat perjuangan dalam melaksanakan perjuangan dalam merebut dan mengisi kemerdekaan untuk menyelamatkan negara dan bangsa Indonesia terhadap setiap ancaman dan hambatan yang mungkin datang, baik yang datang dari luar maupun yang datang dari dalam negeri yang mengganggu kedaulatan NKRI.

21.       Nilai Kejuangan.     Dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia khususnya di daerah Lampung dengan keperibadian kuat, semangat kejuangan yang membara dengan sikap pantang menyerah dalam menghadapi tantangan dari para pejuang dapat dijadikan nilai juang yang patut diteladani bagi para prajurit maupun warga negara sesuai dengan profesi dan bidang masing-masing dalam mengisi kemerdekaan Republik Indonesia khususnya di daerah Lampung. Dan menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan serta patriotisme bagi generasi penerus dalam rangka membangun negara di Propinsi Lampung dengan berfalsafah Pancasila. Karena kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah dari penjajah tetapi merupakan hasil perjuangan bangsa sampai titik darah penghabisan. Dengan adanya sejarah perjuangan kemerdekaan daerah Lampung dan sejarah Kodim 0412/Lampung Utara dapat memperkaya nilai-nilai kejuangan dan sejarah perjuangan para prajurit dan bangsa Indonesia.

BAB VI
PENUTUP

22.       Kesimpulan.                        Sebagaimana Sejarah Keberadaannya, TNI adalah :
a.         Dilahirkan dari rakyat yang berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan. TNI bukan tentara bentukan Pemerintah ataupun golongan/perorangan juga bukan tentara bayaran dan bukan pula kumpulan prajurit yang menjual tenaga, jiwa dan raganya untuk sesuap nasi.
b.         Dari proses kelahirannya TNI yang berasal dari rakyat yang memilih perjuangan bersenjata, menjelma menjadi Tentara Keamanan Rakyat, Tentara Keselamatan Rakyat, Tentara Republik dan kemudian Tentara Nasional Indonesia.
c.         Kecenderungan perkembangan lingkungan strategis, kini dan masa mendatang mengakibatkan bahwa tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia tidak semakin ringan. Sifat-sifat kejuangan TNI merupakan salah satu jawaban yang relevan bagi setiap Prajurit agar tetap mampu berperan sebagai penegak Nasionalisme dan sebagai referensi Politik Negara.



d.         Prajurit TNI Kodim 0412/Lampung Utara kedepan diharapkan sebagai bagian dari tatanan nasional dapat memposisikan kembali pada jati dirinya dan menjauhkan diri dari kegiatan politik praktis sehingga prajurit TNI di wilayah Propinsi Lampung yaitu Kodim 0412/Lampung Utara sebagai Komando kewilayahan akan mampu menjadi tulang punggung kesatuan dan persatuan Negara Republik Indonesia.

23.       Saran.            Pembuatan Sejarah Kodim 0412/Lampung Utara sebagian dikutip dari buku sejarah yang berjudul ” Sejarah Perjuangan Kemerdekaan di Lampung” tahun 1994, buku Pengabdian 60 tahun Kodim 0412/Lampung Utara tahun 2006, Dokumentasi, data sejarah Kodim 0412/Lampung Utara, Informasi dan dari Tim Penyusun Sejarah. Kami menyadari sepenuhnya Buku ini masih jauh dari sempurna, untuk itu dengan lapang hati kami menerima berbagai masukan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan Buku ini. Kepada semua pihak yang telah membantu adanya Buku Sejarah Kodim 0412/Lampung Utara ini, kami menyampaikan Terima Kasih. Semoga buku ini bermanfaat bagi generasi yang akan datang maupun kita semua.


Kotabumi,             Maret 2020
Komandan Kodim 0412/Lampung Utara,


Krisna Pribudi
Letnan Kolonel Inf NRP 11010050960680


DAFTAR PUSTAKA

1.            Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Propinsi Lampung, Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Lampung Buku I, diterbitkan Tahun 1994.

2.            Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Propinsi Lampung, Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Lampung Buku II, diterbitkan Tahun 1994.

3.            Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Propinsi Lampung, Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Lampung Buku III, diterbitkan Tahun 1994.

4.            72 Tahun Pengabdian Kodim 0412/Lampung Utara, Tahun 2020

5.            Peranan Lampung Utara dalam penjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan republik Indonesia 1945 - 1949.

6.            Media Informasi dan Komunikasi Kodim 0412/Lampung Utara, Warta Kodim 0412/Lampung Utara, Tahun 2008 s.d. 2020

B. TIM PENYUSUN

1.         Letnan Satu  Inf Basruddin
2.         Pembantu Letnan Dua Yudha Bakti
3.         Sersan Satu Farial
4.         Sersan Dua Harianto
5.         Serda  Surono
6.         Kopda Asep Nugroho
7.         PNS Amrin