SEJARAH
KODIM 0412/ LAMPUNG UTARA
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Umum
a.
Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia merupakan suatu
rangkaian kisah peristiwa- peristiwa yang sangat penting, rangkaian keseluruhan
perjuangan Indonesia yang dimulai sejak bangsa Indonesia ada , yaitu kira- kira
sejak 2500 sebelum Masehi. Didalam perjalanan sejarah perjuangannya ,bangsa
indonesia melalui fase-fase sebagai berikut : ” Dari bangsa yang bebas merdeka
,kemudian menjadi bangsa yang di jajah dan akhirnya menjadi bangsa merdeka lagi
,setelah melalui rentetan perjuangan yang sangat panjang ”. Tujuan perjuangan
bangsa adalah mencapai tingkat kemakmuran yang lebih tinggi dan kebahagiaan
hidup lahir dan batin, dialam yang bebas
merdeka dari penindasan. Dengan tidak mengecilkan peristiwa-peristiwa didalam
sejarah Indonesia yang lain ,masa perjuangan kemerdekaan merupakan sejarah yang
memiliki makna tersendiri.
Di dalam perjungan kemerdekaan sifat khas bangsa
Indonesian terlihat jelas, yaitu sifat-sifat gotong royong, dalam mengusahakan
persatuan dan kesatuan,usaha mandiri dengan cita-cita tidak membedakan
suku,agama,dan faham politik serta bahu- membahu didalam melaksanakan nilai-nilai luhur lainya. Pada dasar nya perjuangan
bangsa Indonesia mempunyai maksud dan tujuan yang sama dalam mencapai kebebasan
dan kemerdekaan dari penjajah,baik itu di daerah Jawa,Sumatra,Kalimantan bahkan
Irian Jaya,termasuk didalam nya daerah Lampung yang merupakan bagian pulau
Sumatera yang berdekatan dengan pulau Jawa.Mengenai sejarah perjuangan
kemerdekaan di Lampung Utara, tidak jauh berbeda dengan perjuangan di wilayah Lampung
lainya atas jajahan Belanda yang sangat berambisi untuk menguasai daerah-daerah
yang ada di Indonesia,hasil dari kegigihan para pahlawan Lampunglah,sehingga
Lampung Utara dapat di kuasai kembali dan sampai terbentuknya Satuan Kodim
0412/Lampung Utara,yang tersimpan sejarah penting di dalamnya.
b.
Sejarah terbentuknya
Kodim 0412/ Lampung Utara
tidak terlepas dari
sejarah
perjuangan di Lampung Utara dan sejarah perjuangan
kemerdekaan bangsa Indonesia secara menyeluruh. Didalam perjungan itu tergambar
adanya : jiwa dan semangat pengabdian. Semangat juang itu perlu kita masukkan
ke dalam rekonstruksi sejarah agar generasi penerus dapat menemukan makna
perjuangan tersebut. Karena generasi berikut tidak mengalami sendiri perjuangan
semacam itu, maka penulisan ini merupakan penyambung kisah perjuangan generasi
kedepan yang tidak sempat mengalami peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian
penting. Kondisi dan situai sekarang jauh berbeda dengan kondisi dan situasi
pada waktu perjuangan tahun 1945 tetapi nilai ’45 tetap di perhatikan yang
dapat di jadikan azas perjuangan dalam menyelenggarakan pembangunan di segala
bidang demi mengisi kemerdekan kita yakni bangsa Indonesia.
2.
Maksud dan Tujuan
a. Maksud. Penulisan
sejarah ini dimaksudkan sebagai gambaran dan pandangan didalam pemahaman
sejarah Kodim 0412/Lampung Utara,dan untuk membentuk sikap bagi generasi
selanjutnya demi menumbuhkan jiwa patriot dan mempertebal rasa cinta dan
kesetiakawanan sosial serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai
jasa para pahlawan.
b.
Tujuan. Sebagai suatu penghormatan kepada para
pejuang kemerdekaan yang telah berkorban demi kepentingan negara dan bangsa
dalam merebut dan mempertahakan kemerdekaan dan memberikan informasi kepada
generasi penerus tentang perjuangan yang di lakukan oleh para pejuang Lampung
sehingga generasi diharapkan dapat meningkatkan jiwa nasionalisme dan
patriotisme khususnya daerah Lampung Utara.
3. Ruang Lingkup dan Tata Urut. Ruang lingkup penulisan sejarah ini
adalah dibatasi pada sejarah Kodim 0412/Lampung Utara sebagai salah satu bahan
bacaan yang penting untuk menambah ilmu pengetahuan tentang sejarah
terbentuknya Kodim 0412/Lampung Utara,secara kronologis bagaimana terbentuknya
Satuan Kodim 0412/Lampung Utara, yang disusun dengan tata urut sebagai berikut
:
a.
Pendahuluan
b.
Profil Daerah Lampung Utara
c.
Sejarah Lampung Utara
d.
Cikal Bakal Terbentuknya Kodim 0412/Lampung Utara
e.
Nilai Historis Yang Diambil
f.
Peristiwa-Peristiwa Penting
g.
Penutup
4. Dasar
a.
Program kerja Kodim 0412/Lampung Utara TA. 2017 bidang
Personel khususnya Tradisi Kejuangan.
b.
Surat Telegram
Danrem 043/Gatam Nomor ST / 191 / 2017
tanggal 22 Maret 2017 tentang pembuatan profil Kodim 0412/Lampung Utara yang
berisi sejarah satuan Kodim 0412/Lampung Utara.
5. Pengertian - Pengertian
a. Sejarah Perjuangan adalah kronologi
perjuangan dalam usaha melawan penjajah untuk melepaskan diri dari penindasan
mencapai kebebasan atau kemerdekaan.
b. Kodim adalah satuan teritorial TNI AD selaku pelaksana
dari Korem 043/Gatam bagian dari kodam II/Swj melaksanakan tugas untuk
menegakkan kedaulatan dan mempertahankan keutuhan NKRI.
BAB II
PROFIL DAERAH LAMPUNG UTARA
6. Umum. Sejarah pemerintahan Lampung Utara tidak dapat
dipisahkan dari sejarah Lampung dan nasional baik dalam hubungannya dengan
sejarah pemerintahan Negara Republik Indonesia pada umumnya maupun sejarah
pemerintahan di Pulau Sumatra pada khususnya. Hal tersebut di karenakan daerah
Lampung Utara adalah bagian dari daerah Provinsi Lampung yang merupakan bagian
dari Pulau Sumatra dan secara lebih luas juga bagian dari wilayah Negara
Republik Indonesia. Sesudah kemerdekaan susunan pemerintahan Kabupaten Lampung Utara didasarkan pada UUD 1945 dan UU
organik atau peraturan pemerintah yang derajatnya dibawah UUD 1945. Atas
perjuangan tokoh-tokoh di Lampung Utara, Lampung Utara terbentuk pada tanggal
15 Juni 1946 dan merupakan kabupaten tertua di Lampung. Dengan demikian secara
ringkas dapat dikatakan bahwa keberhasilan suatu perjuangan kearah peningkatan
status Kabupaten Lampung Utara di capai melalui suatu usaha yang tidak mengenal
lelah dalam perjalanan sejarah perkembangan pemerintahan sipil di Lampung dari
suatu masyarakat tradisional hingga status yang sekarang. Kabupaten Lampung
Utara telah terjadi pemekaran menjadi 6 Kabupaten yaitu:
a. Kabupaten
Lampung Utara
b. Kabupaten
Lampung Barat
c. Kabupaten
Way Kanan
d. Kabupaten
Tulang Bawang
e. Kabupaten
Tulang bawang Barat
f. Kabupaten Mesuji
7. Karakteristik Daerah
a. Geografi. Kabupaten Lampung
Utara terletak pada kedudukan geografis 1040 22’ 21”
BT – 105º 55’ 21” BT
sampai 30 43’ 32” 50 LS - 050 08’ 44” LS. Letaknya pada sistem Grid pada
peta Topografi kedar 1 : 500.000 Batas Kiri + 419.000 Batas Kanan = 602.000
Batas Bawah = 9536 000 Batas Atas = 9590 000 di ujung selatan pulau Sumatra.
Luasnya 14. 568,69 km2. Di Selatan berbatasan dengan dengan Kodim
0411/Lampung Tengah, Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Jawa sebelah Utara
berbatasan dengan Kodim 0427/Way Kanan Sebelah Barat berbatasan dengan Kodim/
0422 Lampung Barat Korem 043/Garuda Hitam.
b. Demografi. Wilayah Kodim 0412/LU merupakan
daerah yang menjadi daya tarik yang sangat kuat, karena hasil ladanya yang
berlimpah ruah, dari latar belakang itulah sejak politik ethnis, Lampung
merupakan daerah perpindahan penduduk yang penting, terutama dengan tumbuhnya
perkebunan-perkebunan besar serta kaya dengan Sumber Daya Alam. Salah satu
kekayaannya dengan keberadaan hasil tambang yang ada di Lampung antara lain :
1) Minyak
bumi, terdapat di dataran rendah timur, tetapi potensinya belum jelas.
2) Uranium,
endapan uranium terdapat di Gedong Surian, Bukit Semuang, Bukit Lematang, Bukit
Arahan, Pulau Tabuan dan sebelah Timur Teluk Betung.
3) Batu bara
mud, terdapat di bagian hulu Tulangbawang (Way Pedada).
4) Mineral
besi, terdapat di dataran Sukadana dan Labuhan Meringgai.
5) Mas dan
Perak, terdapat disebelah Barat Way Semangka, di hulu Way Rilau, Way Pemerintah
dan Bukit Arahan.
c. Kondisi Sosial
1) Sistem kemasyarakatan orang
Lampung Utara. Masyarakat Lampung Utara dewasa ini merupakan campuran
bermacam-macam suku sehingga bersifat ”Bhineka Tunggal Ika”. Di dalam lambang
Propinsi Lampung disebut ”Sang Bumi Ruwa Jurai” juga menggambarkan adanya dua
golongan penduduk, yaitu : penduduk asli Lampung dan pendatang. Masyarat
Lampung dikenal adanya kelompok-kelompok kekerabatan yang disebut keluarga batin,
keluarga ini terdiri dari Ayah, Ibu dan anak-anak yang belum menikah. Mereka
tinggal dalam satu rumah, yang disebut Menyamak. Menyamak adalah urusan
keluarga yang terikat pada suatu tugas yang berorientasi pada dapur kehidupan
keluarga. Ayah mengurus dan memelihara anggota menyamak dengan dibantu oleh ibu
dan anak yang telah dewasa, sistem inilah yang menjadi dasar kekerabatan dan
kemasyarakatan.
Setelah keluarga sai batin menjadi luas maka timbul
istilah radiksakelik maksudnya yang dekat dan terikat. Berdasarkan pada
keluarga sai batin itulah maka sebenarnya seluruh orang Lampung pada dasarnya
berasal dari satu keturunan. Sebagian besar penduduk daerah Lampung bermata
pencarian sebagai petani. Semula dilakukan berladang secara pindah-pindah,
kemudian baru mengenal sistem persawahan dengan datangnya para transmigran
daerah lain. Banyak diantara mereka bertanam tanaman keras (berkebun) seperti
kopi, cengkeh, dan sebagainya. Adanya bahasa Lampung dalam masyarakat yang
beradat, dibedakan Van der Tuuk dalam dua dialek, Dialek Abung dan dialek
Pubiyan. Bahasa Lampung dewasa ini, bersifat bahasa kerabat,karena pemakaiannya
terbatas di lingkungan pemakai atau pendukungnya semata, yakni dirumah ataupun
di lokasi pemukiman pemakainya. Sedangkan dalam pergaulan sehari-hari pada
lingkup yang lebih luas, nasional pada umumnya orang-orang Lampung baik dari
Peminggir maupun Pepadun menggunakan bahasa Indonesia.
2) Pandangan
Hidup Masyarakat Lampung Utara.
Dalam masyarakat Lampung, terdapat pandangan hidup yang yang dipegang dan
dipedomani yang digunakan dalam hidup dan kehidupan sehari-hari yaitu dikenal
dengan istilah Pi’il Pesenggiri yang terdiri atas unsur-unsur :
a) Pi’il
Pesenggiri yang menyangkut harga diri. Dalam hal ini, orang Lampung selalu
bersikap dalam hidup untuk bermoral tinggi, berjiwa besar, tahu diri, tahu
kewajibannya dan bertanggung jawab.
b) Sakai Sambaian, di dalamnya terkandung
suatu keharusan untuk hidup bergotong-royong, berjiwa sosial, dan tanpa pamrih
dalam menolong orang lain.
c) Nemui Nyimah, di dalam prinsip ini
terkandung suatu keharusan bagi orang Lampung untuk selalu berperilaku sopan
santun terhadap sesama anggota masyarakat, terbuka bagi siapa saja baik moral
maupun spiritual.
d) Nengah Nyapur, yaitu suatu keharusan
bagi orang Lampung untuk selalu bergaul didalam masyarakat luas, ikut
memberikan sumbangan pemikiran, pendapat serta inisiatif demi kebaikan hidup
bersama.
e) Bejuluk Beadek, di dalam prinsip ini
terkandung suatu keharusan bahasa orang Lampung harus mempunyai gelar dan
berjuang guna menyempurnakan hidupnya dan juga bersahabat dengan siapa saja
serta tata krama yang baik sesuai dengan julukan yang di milikinya. Pi’il
Pesenggiri yang menjadi falsafah hidup orang Lampung ini merupakan nilai dasar
yang menjiwai setiap pribadi dalam bersikap dan berperilaku dalam rangka
menjaga dan mengangkat harkat pribadi maupun kelompok. Apabila Way of life itu
diterapkan sebagai dasar untuk memperkuat pembangunan nasional (fisik dan
mental), maka dasar falsafah hidup suku Lampung itu sangat positif untuk di
kembangkan secara nasional, tentunya dengan tafsiran dan peninjauan dari sudut
visi yang positif.
8. Dislokasi Satuan Madim 0412/LU
a. Kodim 0412/LU membawahi 2 Kabupaten.
Kabupaten Lampung Utara dengan Ibukota Kotabumi Terdapat 1 Makodim dan 9
Koramil membawahi 23 Kecamatan .
b. Kabupaten Tulang Bawang Barat dengan
Ibukota Panaragan terdapat 2 Koramil membawahi
8 Kecamatan.
BAB III
SEJARAH LAMPUNG UTARA
9. Umum. Sejarah
adalah kontinuitas organik antara generasi yang bersusulan, yang menghubungkan
masa kini dan masa lalu untuk dijadikan gambaran dan pembelajaran bagi generasi
penerus dalam melanjutkan pengabdian dan tugas kedepan sehingga nilai-nilai
yang terkandung didalam peristiwa-peristiwa yang telah terjadi dapat diambil
maknanya dan diaplikasikan di lapangan. Berkaitan dengan itu Lampung Utara
mempunyai sejarah Nasional yang dulunya sudah dikenal pada masa Sriwijaya
bahkan sebelum itu sudah ada pemukiman-pemukiman penduduk, tetapi bukti-bukti
tertulis baru ditemukan pada masa Sriwijaya. Dengan adanya penemuan
prasasti-prasasti Sriwijaya di Lampung Utara, merupakan suatu bukti bahwa
Lampung telah masuk dalam wilayah kebesaran Sriwijaya, seperti Prasasti Ulu
Belu ditemukan di daerah Gunung meraksa (Lampung selatan), Prasasti palas
Pasema di temukan di desa Palas, Kalianda (Lampung Selatan) dan Prasasti Hara
Kuning ditemukan di Liwa (Lampung Barat) serta Prasasti Batu Bedil di temukan
di Pulau Panggung Lampung Selatan. Peninggalan yang membuktikan adanya pengaruh
Sriwijaya di Lampung selain berupa prasasti-prasasti adalah adanya
mantera-mantera yang bercorak Budha dan menyebut tentang nenek moyang Sriwijaya
di Gunung Mahameru.
Pada abad
V Masehi di Lampung terdapat kerajaan yang bernama Tulang Bawang dengan raja
yang bernama Maulano Jadi. Lampung sering diperebutkan oleh penjajah dari
Inggris dan Belanda karena adanya komoditi lada yang besar. Pada tahun 1624 VOC
berusaha menduduki Pulau Sabesi di Teluk Betung. Kejayaan Banten dalam
perdagangan dibawah Pemerintahan Sultan Abdul Kadir (1596-1651) banyak
dikunjungi oleh pedagang dari Portugis, Belanda, Inggris, Perancis dan Denmark termasuk
banyak orang Lampung datang ke Banten dengan membawa hasil bumi terutama Lada
Hitam. Sultan Banten termasuk yang dibenci VOC. Dengan Politik De Vide et
Impera atau Politik Adu Domba VOC dapat memonopoli perdagangan lada di Lampung,
pada tahun 1682 melalui Sultan Banten. Pada Abad 19 VOC mulai runtuh dan Lampung kuat kembali, namun ketika Deandles
berkuasa pada tahun 1808 kesultanan Banten dihapus maka muncullah Radin Intan
II yang dikenal sebagai pahlawan Lampung kemudian mengadakan perlawanan terhadap
penjajah yang ingin menguasai perdagangan wilayah Lampung.
10. Awal Penjajahan di Lampung Utara. Indonesia merupakan komoditi yang
besar dalam penghasilan rempah-rempah salah satunya daerah Lampung yang menjadi
terkenal dengan ladanya, sehingga dengan daya tarik rempah-rempah itulah bangsa
eropa menginjakkan kakinya di Indonesia antara lain bangsa Spanyol, Portugis,
Prancis dan Belanda, yang semua dalih mereka datang ke Indonesia adalah untuk
berdagang tetapi sebenarnya mereka memendam nafsu kekuasaan untuk menjajah.
Latar belakang mereka menguasai Indonesia ada yang bermotif segi ekonomi,
agama, politik dan kebudayaan, ada yang bersemboyan sebagai “Misscion Sacri”
(Misi Suci) untuk membudayakan orang kulit berwarna. Tugas tersebut mereka
anggap sebagai Wheites Men Garden (Kewajiban orang kulit putih untuk
membudayakan orang kulit berwarna) untuk mengelabuhi kita.
11. Pahlawan Daerah Lampung Utara. Pahlawan dari
Lampung Utara yaitu Radin Ryacudu dan Hi Alamsyah Ratu Prawira Negara.
a. Ryacudu. Adalah Pahlawan Lampung khususnya
lampung utara berjuang melawan belanda di bumi Lampung. Namanya diabadikan
sebagai nama Rumah sakit Umum Daerah di Lampung Utara
b. Hi. Alamsyah RPN. Berjuang melawan kolonialisme
Belanda disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :
1) Faktor
Kejiwaan. Alamsyah RPN lahir tanpa
mengenal wajah ayahandanya hal ini sedikit banyak menjadi andil bagi tumbuhnya dendam
hati Alamsyah RPN terhadap pemerintah Hindia Belanda, dan timbul pada dirinya
jiwa pembangkang terhadap pemerintah Hindia Belanda.
2) Faktor
Lingkungan. Seperti diketahui bahwa Alamsyah
RPN lahir dan dibesarkan di tengah-tengah masyarakat suku Lampung yang
merupakan pemeluk kuat agama Islam, sehingga faktor ini mengembangkan jiwa
fanatisme keagamaan, yang akhirnya mengembangkan kepribadian jihad terhadap
unsur pemerasan dan sebaliknya akan mengembangkan kekuatan jiwa pembebas,
”Liberations Hips” yang pendek kata, anti penjajah.
3) Faktor
Kepribadian. Berdasarkan sepak terjang
pendahulunya, kakek dan ayahandanya ternyata berpengaruh besar dalam diri Alamsyah
RPN sehingga tumbuh rasa ketabahan dan keberanian yang mengakar sangat
mendukung timbulnya perlawanan Alamsyah RPN terhadap Hindia Belanda.
4) Faktor
Kepemimpinan. Faktor kepemimpinan
dan keberanian ini tampak jelas terbukti, ketika beliau berani menolak tawanan
Belanda untuk diampuni dan diberi biaya pendidikan oleh Belanda.
5) Semangat
Patriotisme. Alamsyah RPN memiliki
semangat patriotisme yang tinggi, seperti halnya perlawanan Radin Intan II
berbarengan dengan meletusnya pelawanan-perlawanan rakyat di daerah Lampung
lainnya, yaitu dipimpin oleh Alamsyah RPN di Lampung Utara dan sekitarnya yang
cukup merepotkan pemerintah Hindia Belanda, sehingga Belanda sering menawarkan
perdamaian kepadanya akan tetapi setiap tawaran damai selalu ditolaknya
.
6) Faktor
Khusus. Yang menjadi penyebab
khusus bagi bangkitnya perlawanan Alamsyah RPN terhadap pemerintah Belanda
adalah aplikasi politik adu domba dan pecah belah yang dikenal dengan ”Devide
Et Impera”, yaitu usaha pemerintah Belanda untuk mendirikan lembaga-lembaga
administratif dengan sistem ”Marga”. Sistem inilah yang sangat dibencinya karena
hal inilah yang ditakuti Alamsyah RPN, sehingga daripada berpecah belah, lebih
baik hancur melawan Belanda penjajah dan hal ini benar-benar menjadi sebab
khusus bagi perlawanan Alamsyah RPN terhadap pemerintah Belanda, yang
berlangsung dari tahun 1850-1856. Persiapan perang Alamsyah RPN dengan cara
membuat sistem Pemerintahan yang terpusat di Lampung Utara. Sebagai penghormatan terhadap perjuangan. Alamsyah
RPN diangkat sebagai Pahlawan Nasional sejajar dengan Pahlawan-pahlawan lain
diseluruh Nusantara.
12. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di
Lampung Utara
a. Peristiwa
yang terjadi tahun 1945. Pada
tanggal 12 Agustus 1945 Mr. A Abas ketua Syansangkai (Badan Penasehat
Karesidenan) Lampung berangkat ke Jakarta memenuhi panggilan Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia, karena Mr. A. Abas adalah anggota panitia tersebut bersama Dr. Amir
dan Mr. Teuku Mohammad Hasan sebagai wakil PPKI dari Sumatra. Berita tentang
Proklamasi Kemerdekaan di Lampung baru secara resmi diumumkan oleh Mr. A. Abas
pada tanggal 24 Agustus 1945. Hal-hal yang harus di laksanakan di Lampung
adalah pengambil alihan pemerintahan dari tangan Jepang, pembentukan pemerintah
daerah dan Komite Nasional Indonesia Daerah. Pada tanggal 24 Agustus 1945
diadakan pertemuan oleh Mr. A. Abas bersama tokoh-tokoh masyarakat daerah
Lampung di Hotel Juliana, dan pada kesempatan tersebut di umumkan secara resmi
berita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
0
b. Peristiwa
pada tahun 1946. Pada awal
tahun 1946 usaha-usaha perjuangan mempertahankan kemerdekaan diarahkan untuk
mengadakan konsolidasi kekuatan perjuangan dalam bidang pemerintahan dan dalam
bidang kekuatan militer untuk menahan serangan dari luar yang sewaktu-waktu
mengancam kemerdekaan kita. Sekolah Calon Perwira di Langkapura telah menghasilkan
calon-calon perwira yang diberi pangkat. Vanderik, tenaga mereka yang lulus
dari sekolah tersebut di tempatkan di Resimen III, untuk mencukupi kebutuhan
tenaga tingkat pimpinan regu, seksi dan lain-lain. Kemudian pada waktu itu
timbul kelompok-kelompok yang menunjukkan gejala anti revolusi. Kelompok itu
timbul di Kotabumi, Sulusuban di Lampung Tengah. Gerakan mereka bersifat anarkhi
anti republik. Rakyat yang tidak sepaham dengan golongan itu di teror dengan
jalan dibakar rumahnya sampai Februari 1946 telah 11 keluarga yang mengalami
nasib seperti tersebut diatas. Dalam operasi pasukan keamanan kita pada tanggal
19 Februari 1946 berhasil mengadakan pembersihan terhadap gerombolan tersebut
dan tertembak 13 orang, luka-luka 30 orang dan di tangkap 23 orang. Di
Sulusuban pemimpin mereka bernama Kacang Panjang, memerintahkan kepada anak
buahnya melakukan pembunuhan dan perampokan terhadap pejabat pemerintah
orang-orang Cina, upah mereka yang berhasil Rp 10.000,- untuk pejabat biasa dan
Rp 20.000,- untuk pejabat tinggi.
Kacang Panjang terbunuh dalam operasi pembersihan yang
dilakukan TKR. Opersi juga dilakukan di Bukit Kemuning dan Labuhan Maringgai.
c. Peristiwa
pada tahun 1947. Pada
tanggal 10 November 1947 Martapura jatuh ketangan Belanda, maka untuk
membendung lajunya tentara Belanda yang ingin menduduki Lampung oleh Komandan
Brigade Garuda Hitam diadakan konsolidasi pertahanan dan siasat dibentuk tiga
batalyon pertempuran dan tiga Front pertahanan yaitu Pertahanan Front Barat
(Lambar) Batalyon pertempuran 22 dibawah pimpinan Mayor Harun Hadimarto dengan
daerah pertahanan Front Utara dan Tengah (Lamut dan Lamteng), Batalyion
pertempuran 23 dipimpin oleh Kapten Laut C. Souhoka. Batalyon 24 dipimpin M
Sukardi Hamdani dengan daerah pertahanan Front Selatan. Panglima TNI Komandan
Sumatra /Wakil Panglima Besar Letjen R. Soehardjo dengan surat keputusan
No.36/PN/47 tanggal 28 November 1947 menetapkan bahwa Daerah Lampung dan
Sumatra Selatan menjadi daerah militer dan sekaligus mengangkat :
1) Kolonel Syamaun Gaharu Komandan Brigade
Garuda Hitam menjadi Komandan daerah Militer Lampung dan Palembang Selatan.
2) Wan Abdul Rachman wakil ketua Dewan
Pertahanan Daerah Lampung menjadi wakil Komandan dengan pangkat Letnan Kolonel
Tituler.
3) Narsid Alamsyah Caropaboka. Patih
diperbantukan pada Residen menjadi Panitera dengan pangkat Mayor Tituler.
Pelaksanaan
penghentian tembak menembak yang telah diturunkan oleh pemerintah RI dan
pimpinan tentara Belanda tanggal 4 Agustus 1947 baru terlaksana sesudah di
tandatangani persetujuan perjanjian Renville tanggal 17 Januari 1948, isi
perjanjian Renville :
1)
10 pasal persetujuan genjatan senjata.
2)
12 pasal prinsip politik.
3)
6 pasal prinsip tambahan dari KTN.
d. Peristiwa
pada tahun 1948. Pada awal
April 1948, wakil Presiden Mohammad Hatta ke Bukit Tinggi diikuti oleh
Baharuddin, pengusul rasionalisasi, tujuannya memberi penjelasan kepada
politisi dan laskar di Sumatra, menurut kepentingan rasionalisasi itu, daerah
Sumatra dijadikan sentra teritorium , yang dikepalai oleh Panglima Teritorium
di Sumatra.
e. Peristiwa
pada tahun 1949. Tentara
Belanda dari Palembang menyerang pertahanan-pertahanan di kilometer 20. Setelah
beberapa Front dapat ditembus oleh Belanda akhirnya Kota Baturaja jatuh
ketangan Belanda pada tanggal 25 Juli 1949. Markas Komando
Batalyon VI telah dipindahkan dari Penyandingan kemudian ke Simpang Martapura
pada tanggal 24 Juli 1949. Setelah menduduki Baturaja tentara Belanda menyerang
Martapura pada tanggal 25 Juli 1949. Pasukan Batalyon VI terpecah-pecah setelah
Belanda menduduki Baturaja. Kompi 2 dibawah Letnan Sai Sohar bergerilya di
Martapura yaitu di Pracak. Ketika diadakan serangan balasan ke Bturaja pada
tanggal 30 Juli 1949 oleh pasukan Mayor Nurdin, pasukan Mayor Nurdin berhasil
menyerang stasiun kereta api yang menewaskan tentara Belanda dan mendapatkan beberapa
pucuk senjata.
13. Perang Kemerdekaan
a. Agresi Militer I (Tahun 1947). Agresi Militer
Belanda ke-l dimulai tanggal 21 Juli 1947,tetapi daerah Sumatra Selatan dan
daerah Lampung tidak diduduki/diserang. Tetapi setelah kota Baturaja diduduki
Belanda, maka Resimen IX Lampung membentuk Front yang disebut “Front Lampung
Utara”, yang bermarkas di Desa Kampung Baru 2 Km sebelum Martapura, sebelah
Barat pulau Komering. Batalyon Ismail Husin yang diperkuat 1 Kompi dari Kompi
Supomo, menguasai sepanjang jalan raya yang menghubungkan Baturaja ke jurusan
Muara Dua/Krui disebut Front sayap kiri.
Kompi
Suratmin dan Kompi Abdul Haq menguasai sepanjang jalan kereta api dan jalan
raya yang menghubungkan Baturaja ke jurusan Martapura terus ke Lampung disebut
Front sayap kanan. Front sayap kiri/Batalyon Ismail Husin dan Kompi Supomo,
mengalami sebelas kali kontak senjata dengan musuh. Beberapa orang yang gugur
seorang Perwira Pertama Tukiran, seorang Bintara Serma Sairin dan 5 orang
Tamtama seorang diantaranya ialah Kopral Sampun. Sampun ini adalah bekas Heiho
asal Singapura yang akan pulang ke Jawa tetapi ditahan di Tanjung Karang, lalu
masuk TKR Batalyon Ismail Husin, Kompi Sastro Sumedhi. Setelah kota Martapura
jatuh diduduki musuh, maka sebagai akibatnya jalan raya yang menghubungkan kota
Martapura dan Muaradua, sebagai urat nadi perhubungan sayap kiri ke Front Sayap
Kanan, dan Komando Front Lampung Utara Resimen XI diputus total. Oleh karena
itu dengan disponsori oleh satu regu TKR dari Kompi Letnan I Sastro Sumedhi,
dibuatlah jalan terobosan untuk menghubungkan daerah Palembang Selatan ke
Daerah Lampung melintasi Bukit Ringkih (Termasuk Bukit Barisan). Dalam
pelaksanaannya dibantu sepenuhnya oleh rakyat, ditanjakkan bagian timur oleh rakyat
dari dusun/Marga Jagaraga, sedangkan ditanjakkan bagian barat oleh rakyat dari
Marga Tebing Bulan dan Tanjung Kurung. Dibagian timur rakyat dari Palembang
Selatan, dan dibagian Barat oleh rakyat
dari Lampung Utara. Pekerjaan tersebut baru selesai setelah makan waktu satu
minggu dengan partisipasi rakyat Palembang Selatan dan Lampung Utara yang rela
bekerja siang malam tanpa pamrih. Mereka membawa bekal makan sendiri dipimpin
oleh pamong marganya. Bulan Januari 1948 ada perintah gencatan senjata karena
adanya perundingan Renville. Pada wal Maret 1948 seluruh pasukan/kekuatan
berangsur-angsur di tarik ke induk pasukan Resimen XI Tanjung Karang Lampung
dan berakhir sampai dengan awal bulan April 1948. Resimen 41 ( Garuda Hitam)
membenahi diri menyusun kekuatan dan mengatur strategi untuk menghadapi musuh
dengan taktik perang gerilya yaitu :
1)
Membentuk
satu Batalyon pasukan inti yang disebut Batalyon Mobil. Personil dan
persenjataannya mengambil/memilih dari kesatuan-kesatuan/Batalyon dalam jajaran
Resimen Garuda Hitam. Sebagai Komandan Kapten Nurdin Panji, sedangkan kepala
stafnya Lettu Ahmad Ibrahim.
2)
Menciptakan kesatuan Teritorial Karesidenan Lampung
dibagi menjadi tiga daerah/distrik militer yaitu : Lampung Utara, Lampung
Tengah dan Lampung Selatan. Sebagai Komandannya disebut Perwira Distrik Militer
(PDM). Setiap daerah/distrik dibagi lagi
menjadi beberapa wilayah/Order Distrik disingkat (PODM) yang personil dan
persenjataannya sisa yang tidak masuk dalam Batalyon Mobil.
b. Agresi Militer II (tahun 1948). Kira-kira pertengahan tahun 1948
kesatuan-kesatuan Teritorial, Distrik dan Order Distrik Militer mendapat
perintah untuk menduduki daerah dan wilayah masing-masing yang telah ditentukan
dengan perbekalan dan persenjataan: Semangat/jiwa pengabdian terhadap negara
dan bangsa. Pada waktu itu Sastro Semedi mendapat tugas sebagai PODM diwilayah
paling ujung dari Distrik Lampung Selatan, tepatnya yaitu Kawedanan Kalianda.
Aksi Militer Belanda II di mulai tanggal 1 Januari 1949 dengan menyerang dari
bagian Selatan, yaitu melalui pelabuhan Panjang, pada saat itulah pertama
kalinya tentara Belanda menginjakkan kakinya di daerah Lampung. Dua hari
berturut-turut Belanda mengadakan pengeboman terhadap kota Tanjungkarang-Telukbetung,
disusul dengan pendaratan pasukannya melalui laut,mempergunakan 2 buah kapal
perang dan 2 buah kapal terbang model capung. Kejadian tersebut dapat dilihat
dari pantai Kalianda secara jelas. Setelah Tanjungkarang-Telukbetung sebagai
pusat Komando diduduki oleh tentara Belanda, maka hubungan antara daerah
Kalianda Komando Order Distrik Militer (KODM) Kawedanan Kalianda. Dengan
demikian daerah Kawedanan merupakan sebuah daerah terpencil yang harus sanggup
mempertahankan diri dalam mempertahankan kemerdekaan Negara Republik Indonesia.
Menyadari
akan keadaan tersebut dan sebagai langkah selanjutnya guna menghadapi situasi
dan segala kemungkinan yang tak terduga yang menurut perhitungan pasti akan
terjadi, maka sesuai petunjuk/instruksi terakhir dari pemerintah Karesidenan,
oleh pimpinan Pemerintah Kawedana atau instansi Militer (ODM) yang masih ada di
Kalianda, dibentuklah suatu badan yang dinamakan ”Gerakan 1 Januari”. Tugas
badan ini menghimpun seluruh potensi pertahanan rakyat yang terdiri dari Badan
Perjuangan (Laskar rakyat dan prajurit YNI yang berada di daerah Kalianda).
Sebagai pucuk pimpinan dari ”Gerakan 1 Januari” ini ialah Kepala pemerintah
Kawedanan Kalianda sendiri, Abduk Kadir Kusuma Ratu, dibantu oleh pimpinan
Kepolisian Inspektur I Batin Putera dan pihak militer Komandan ODM letnan I
Sastro Sumedi. Selanjutnya sebagai realisasi dari tujuan pokok gerakan 1
Januari tersebut dibentuklah badan Kelaskaran Pertahanan Rakyat, yang terdiri
dari beberapa sektor sesuai dengan pembagian daerah yang antara lain sebagai
berikut :
1)
Sektor I: Dibawah pimpinan Wedana Kalianda sendiri,
meliputi daerah pantai Barat kalianda mulai dari Suwak sampai Marga Pesisir.
2)
Sektor II: Dibawah pimpinan Letnan I sastro Semedi mulai
dari Suwak sampai daerah Marga Katibung.
3)
Sektor III: Dibawah pimpinan Inspektur Polisi Batin
Putera meliputi daerah pantai Timur Kalianda (Marga Ratu dan Dantaran). Anggota
TNI dari Batalyon II yang sedang cuti berada di daerah Kalianda dan tidak dapat
bergabung di kesatuannya, tetapi berada di Kalianda dan kepada mereka ditugasi
untuk memimpin pasukan laskar selaku pimpinan regu. Mereka itu yang terdiri
dari para Bintara antara lain: Sersan Murod, Sersan Hidup, Sersan Yusuf, Sersan
Rohani, Sersan A. Karim, Sersan Manaf dan Sersan Yahya, sedangkan Sersan Harun
Rasyid ditugaskan pada bagian staf pertahanan yang dipimpin oleh Temenggung
Sulaiman.
Dengan aktifnya wedana pada tampuk pimpinan pertahanan
gerilya, maka pimpinan pemerintahan sipil diserahkan kepada camat M. Yusuf yang
bertindak selaku wakil beliau dalam menjalankan tugas wedana sehari-hari.
Wedana Kalianda Abdul Kadirkusuma Ratu, pada tanggal 6 Januari 1949 yang
memimpin laskar rakyat mengadakan penghadangan terhadap konvoi pasukan patroli
Belanda didaerah Sukatinggi. Kompi Belanda yang terdiri dari 2 truk senjata
lengkap datang dari arah Telukbetung menuju Kalianda. Pertempuran terjadi
dimana Belanda mempergunakan senjata berat serba otomatis sedangkan dipihak
kita hanya memakai beberapa senjata ringan yang terdiri dari senapan locok dan
beberapa pucuk Achterlaad dan Karaben. Pasukan patroli Belanda karena kewalahan
menghadapi penghadangan dari pihak kita, kembali ke Telukbetung dan ditengah
perjalanan pulang sempat membakar 14 rumah rakyat di Babatan, dan 2 orang
rakyat tertembak mati. Dalam penghadangan dipihak kita tidak ada korban.
Pada awal Februari 1949 Wedana Abdul Kadir dengan
bersenjata Karaben Jepang dan FN Kaliber 32, beserta 10 orang pengikutnya yang
bersenjata 3 pucuk senjata berburu Doble dan Enkel Loop sedangkan lainnya
bersenjata tajam/pusaka dengan lambaian tangan dan pekik merdeka langsung
menuju Front. Pasukan patroli Belanda yang akan menuju Kalianda, setibanya
dipinggir dusun Pardasuka di cegat oleh pejuang yang dipimpin oleh WdanaAbdul
Kadir Kusuma Ratu dan Sertu Murod dari Kodim kemudian terjadilah tembak
menembak kurang lebih 5 menit, pihak kita tidak ada korban. Pada pertengahan
Mei 1949 para gerilyawan kita mengadakan taktik pencegatan disepanjang jalan
dusun Pardasuka sampai Tarahan bahkan sampai Batu Serampok, sekalipun belum
bertemu dengan musuh. Melihat peristiwa-peristiwa penyergapan tentara Belanda
di tempat para gerilyawan bersembunyi dan terjadi selalu diatas jam 24.00
sampai menjelang subuh yang merugikan pihak kita menimbulkan kecurigaan adanya mata-mata
musuh yang mengetahui tempat para gerilyawan bersembunyi. Gerilyawan kita tiga
kali kena sergap, kerugian dua orang tamtama yaitu pratu Sukir dan Sutarno
berikut dua pucuk senjatanya hilang. Juga adanya laporan Letnan Muda Syahbudin,
wakil PODM yang melaporkan bahwa menjelang subuh dengan lewat laut musuh
mendarat dan langsung menyergap pos CPM. Tiga orang anggota CPM gugur termasuk
serda Hasim. Pada tanggal 29 Maret jam 23.00 Belanda mendarat dengan tentaranya
sekitar 50 orang di pantai masir Kalianda. Tanggal 21 Maret 1949 terjadi
pertempuran hebat di kampung Way Urang Kalianda yang di pimpin Komandan Seksi
Pertahanan Kalianda Letnan Muda Makmun Rasyid. Dengan semangat menyala-nyala
laskar TNI bertempur namun tentara Belanda dapat maju sampai Way Kyai Kalianda
dan di kampung Karet Kalianda yang pada akhirnya kota Kalianda dapat diduduki
oleh musuh. Wedana Kalianda selaku Komandan Front pertahanan daerah Kalianda
telah diliputi oleh perasaan ragu-ragu dan pesimis serta-merta telah melepaskan
tanggung jawabnya selaku pimpinan perjuangan. Pada tanggal 11 Agustus 1949
Wedana Kalianda menyerahkan tanggung jawabnya kepada Komandan seksi pertahanaan
Kalianda Letnan Muda Makmun Rasyid.
Tanggal 13 Agustus 1949 dengan resmi
Wedana Kalianda menyerahkan diri kepada tentara Belanda di Kalianda juga
disertai penyerahan kekuasaan pemerintah RI, sejak penyerahan itu seluruh
potensi pertahanan Kalianda di bubarkan dan pasukan TNI tidak ada, tetapi para
pejuang beserta rakyat yang berpendirian teguh dan optimis terhadap perjuangan
kita tidak dapat menerima pernyataan tersebut tidak dapat menggeser patokan dan
tekad semula. Demikian masing-masing pihak telah mengambil jalannya sendiri
menurut kepentingan perhitungan masing-masing. Namun bagi para patriot
bagaimanapun dengan perhitungan yang masih ada masing-masing pribadi pejuang,
maju terus dan bila perlu mundur setapak dengan penuh perhitungan untuk maju
kedepan menuju kemenangan dan kemerdekaan abadi.untuk meneruskan perjuangan
mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan RI selaku PODM menarik seluruh
anggotanya dan memutuskan akan meninggalkan wilayah Kalianda. Dan pada waktu
Kotabumi diserang dan diduduki oleh Belanda, pasukan Sastro Semedi mundur ke
Utara kira-kira 15 km dari Kotabumi. Akhirnya pasukan bekas ODM Kalianda pimpinan
Letnan I Sastro Semedi tersebut turut serta memperkuat pasukan yang akan
menerima pengakuan kemerdekaan RI dari pemerintah Belanda pada tanggal 29
Desember 1949 di Kotabumi.
BAB IV
CIKAL BAKAL TERBENTUKNYA KODIM 0412/LAMPUNG UTARA
14. Umum
a. Dalam jaman penjajahan Jepang
(1942-1945), sejak Jepang mulai mengalami kekalahan dalam perang Asia Timur
Raya melawan Sekutu ditahun 1943, maka Jepang berusaha untuk menambah kekuatan
pasukan tentaranya. Untuk keperluan ini Jepang antara lain mengadakan
pendidikan kemiliteran bagi pemuda-pemuda Indonesia, antara lain yang disebut
dengan nama Heiho dan Giyugun.
b. Di Sumatra bagian Selatan pendidikan
Giyugun ini diadakan di Pagaralam, yang diikuti pula oleh para pemuda dari
daerah Lampung. Para perwira lulusan pendidikan militer Giyugun inilah yang
nantinya setelah kita memasuki zaman kemerdekaan yang di proklamasikan tanggal
17 Agustus 1945 menjadi tenaga inti angkatan bersenjata di Sumatra bagian
Selatan, termasuk di Lampung.
c. Selama perang kemerdekaan dari tahun
1945 sampai 1949 tenaga yang berintikan para perwira bekas Giyugun tersebut
ditambah dengan tenaga lain dari bekas Heiho dan berbagai laskar rakyat seperti
dari lembaga perjuangan API< Hizbullah, Sabilillah, pelopor dan lain-lainnya
itulah bersama-sama dan saling bahu-membahu melawan tentara Belanda untuk
mempertahankan kemerdekaan Negara kita yang akhirnya kita berhasil memperoleh
kemenangan.
d. Sejarah pertumbuhan ABRI di Lampung
sejak meletusnya perang kemerdekaan tahun 1945 hingga berakhirnya aksi militer
Belanda tahun 1949 tidak dapat dipisahkan dan mempunyai hubungan dengan
pertumbuhan ABRI di Lampung memang serempak dengan lahirnya ABRI di
daerah-daerah lain di Sumatra bagian Selatan seperti Bengkulu, Jambi, Palembang
dan juga Bangka Belitung.
e. Demikian pula dengan pertumbuhan ABRI
di Lampung dari sejak masih bernama Panjaga Keamanan Rakyat (PKR) sampai
menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan juga perubahan-perubahan bentuk
organisasi dari Resimen III sampai menjadi Brigade Garuda Hitam, masih
berhubungan dengan pertumbuhan ABRI di daerah-daerah tersebut dan akhirnya
terbentuk Kodim-Kodim diantaranya Kodim 0412/LU
15. TKR
DI LAMPUNG. Jalannya
Sejarah pertumbuhan ABRI di Lampung, selama perang kemerdekaan (1945-1949) yang
disertai dengan perubahan-perubahan akan di uraikan secara kronologis sebagai
berikut :
a. Latar Belakang Lahirnya Badan
Perjuangan Bersenjata di Lampung.
1) Perwira-perwira Giyugun. Sebagaimana telah disebutkan dalam
bagian terdahulu, bahwa didalam zaman penjajahan Jepang (1942-1945) sejak tahun
1943 untuk menambah pasukaan tentaranya Jepang mengadakan pendidikan dibidang
kemiliteran, antara lain adalah Heiho yaitu pendidikan Calon Bintara dan
Giyugun yaitu pendidikan Calon Perwira. Di Sumatera bagian Selatan berpangkat
Syoiu (setingkat letnan II). Para perwira lulusan Giyugun inilah nantinya di
daerah-daerah termasuk Lampung yang menjadi tenaga inti bagi terbentuknya badan
Perjuangan Bersenjata dan Tentara Nasional Indonesia di Lampunng.
Peserta
pendidikan Giyugun Pagaralam dari Lampung sekitar 50 orang atara lain sebagai
berikut :
a) Emir Muhammad Nur z) M.
Saleh
b) Iwan
Supardi aa) Mukhyin
c) Ismail
Husin bb) Supangat
d) Sukardi Hamdani cc) Sono
Imam Turus
e) R.M.
Riacudu dd) Akhmad Herry
f) Akhmad
Ibrahim ee) Mohd. Amir. M
g) Supomo ff) Akhmad Rasyid
i) Margono hh) A.M. As’ari
k) M.
Hasan jj) Rd.
Slaiman. P
l) Azadin kk) M.Amir.
m) Baheram ll) Taniran
p) Suratmin oo) A. Marzuki
r) Ahmad
Rupi qq) Subandi
s) A. Salim Batubara rr) Musran
t) Ismail
Latif ss) Subki
u) Barmoamijoyo tt) Sulaiman Sanjaya
v) Gustam Ramsi vv) Suprimo
w) Akhyarruddin ww) Suparman
y) Sastrosemedi xx) M. Muin
Beberapa
perwira lulusan Giyugun Pagaralam pada minggu terakhir bulan Juli pernah
mengadakan rapat untuk melaksanakan pemberontakan terhadap Jepang. Wakil dari
Lampung Utara waktu itu ialah Ryacudu dan Alamsyah RPN. Rencana pemberontakan
ini sebenarnya berlatar belakang pertanggung jawaban terhadp nusa dan bangsa
yang pernah di ikrarkan di piagam bulan Januari 1945. hal tersebut di samping
akibat dari kesengsaran yang diderita oleh rakyat Indonesia, termasuk rakyat di
daerah Sumatra bagian selatan dan Lampung, kesengsaraan dibawah tekanan
kompetai Jepang. Namun disamping kesengsaraan dan penderitaan yang memilukan
pada masa kekuasaan Jepang. Kegiatan-kegiatan yang dialami dan
pelajaran-pelajaran yang didapat, juga merupakan suatu kesatuan peristiwa
penting dalam rangkaian sejarah perjuangan rakyat Lampung Utara terutama dalam
pertumbuhan dan perkembangan keprajuritan.
2) Terbentuknya Badan Keamanan Rakyat
(BKR) dan Penjaga Keamanan Rakyat (PKR). Pada
awal jaman kemerdekaan negara kita yang secara resmi teks Proklamasinya baru
diketahui masyarakat Lampung pada tanggal 24 Agustus 1945, maka Mr. A. Abbas
sebagai Residen Lampung yang pertama segera membentuk Komite Nasional Daerah
Lampung sebagai pelaksanaan salah satu keputusan Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia (PPKI) dalam sidangnya tanggal 22 Agustus 1945 di Jakarta. Salah satu
keputusan PPKI yang lain adalah pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) baik
ditingkat pusat maupun di tingkat daerah. Di Lampung BKR ini dibentuk baru pada
tanggal 9 September 1945. kedalam BKR yang bukan tentara ini terhimpun para
bekas Heiho, Keisatsu (Polisi) Seinenan, Kaibodan dan lain-lain, terutama
dipelopori oleh para perwira bekas Giyugun. Menurut Kapten Sukardi Hamdani yang
pernah menjabat Dandim 0412/Lampung Utara tanggal 9 September 1948 ini
dijadikan sebagai hari lahirnya Komando Distrik Militer (Kodim) 0412 di Lampung
Utara. Selanjutnya pada tanggal 11 September 1945 nama BKR itu diubah menjadi
PKR (Penjaga Keamanan Rakyat). Markas besar PKR Pusat Lampung dibekas Percetakan
Krakatau (di jalan Pemuda), adapun susuna personalia perguruan PKR Lampung
adalah sebagai berikut :
a) Markas (Pusat) di Tanjungkarang :
(1) Ketua : Pangeran
Emir Moh. Nur
(2) Wakil
ketua : Margono
(3) Panitera
I : Akhmad Ibrahim
(4) Panitera
II : Subandi
(5) Panitera
III :
Warsokusumo
(6) Perlengkapan : Sudarjo
b) Cabang
Tanjungkarang :
(2) Pembantu-pembantu : Sastrosemedi
(2) Pembantu-pembantu : Suripno
(2) Pembantu : Akhyarudin
e) Cabang
Kota Agung :
(1) Ketua :
M. Sukardi Hamdani
(2) Pembantu : Abdul Muin
(2) Pembantu : Makmun Rasyid
(1) Ketua : RM.
Riyacudu/Alamsyah
(2) Pembantu : Muhyin Bastari
Gustam
Ramli
h) Cabang
Blambangan Umpu :
Bursya
i) Cabang
Menggala :
As’ari Amir
j) Cabang
Sukadana :
(1) Ketua : Akhmad
Rasyid
(2) Pembantu : Adenan Sangjaya
(2) Pembantu : S. I. Tarus
M. Yusuf Ali
m) Cabang
Pringsewu :
Dalam pada itu di Lampung terbentuk
pula PKR laut sejak bulan Oktober 1945 dibawah pimpinan H.M. Haidar. Pimpinan
yang lain: C. Souhaka, KL. Tobing, Dadang Efendi dan Didit Jmaludin. Pada
umumnya mereka berasal dari bermacam-macam kesatuan antara lain: Kaigun, Heiho,
Jawa Unko Kaishadan unsur-unsur maritim lainnya. PKR laut itu menguasai
pelabuhan Panjang, Kalianda, Way Ratai dan pelabuhan Kota Agung. Dalam kegiatan
PKR laut selain secara teratur mengadakan latihan-latihan kemiliteran juga
mengadakan patroli-patroli laut.
b. Pertumbuhan
Angkatan Bersenjata Republik Indonesia di Lampung
1) Pertumbuhan Tentara Keamanan Rakyat
(TKR) di Lampung
a) Terbentuknya Tentara Keamana Rakyat
(TKR) di Lampung. Dengan sebuah maklumat pada tanggal 5 Oktober 1945 pemerintah
RI membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Maklumat yang sangat singkat dan di
tanda tangani oleh Presiden Soekarno itu berbunyi sebagai berikut :
”Untuk memperkuat perasaan keamanan umum, maka diadakan satu Tentara
Keamanan Rakyat”. Di Lampung, Pangeran emir Moh. Nur pendiri Angkatan Pemuda
Indonesia (API) Lampung dan juga ketua PKR markas pusat Lampung di
Tanjungkarang dalam bulan Oktober 1945 itu menerima kawat dari menteri Keamanan
Rakyat Kabinet I RI tentang pengangkatannya sebagai ”Panglima TKR Sumatera
Selatan”.
Berdasarkan kawat tersebut dan untuk menyusun organisasi
TKR yang teratur dan sempurna, pada tanggal 14 Oktober 1945 Emir Moh. Nur
mengadakan pertemuan di Pagaralam dengan para bekas perwira Giyugun seperti M.
Simbolon, Hasan Kasim, Abunjani, Ruslan, Iskandar, Nefa. Sanaf, Alamsyah,
Abdulhakdan lain-lain. Hadir juga komisaris Polisi Mursodo dan bastari. Susunan
organisasi dan personalia TKR Sumatera selatan yang terbentuk hasil rapat
tersebut adalah sebagai berikut :
(1) Panglima : Mayor Jenderal Emir
Moh. Nur
(2) Kepala
Staf :
Kolonel M. Nuh
(3) Komandan
Devisi Lampung : Kolonel R.
Suharjo. H
(4) Komandan
Devisi Bengkulu : Letkol Barlia
(5) Komandan
Devisi jambi & Riau : Letkol
Abunjani
(6) Komandan
Devisi Palembang Ilir : Kolonel Hasan
kasim
(7) Komandan
Devisi Palembang Ulu : Kolonel
M. Simbolon
Setelah pembentukan organisasi TKR ini, Emir Moh. Nur di
Palembang di tangkap atas perintah Dr. A.K. Gani selaku Residen Palembang,
dengan tuduhan bahwa pembentukan TKR Sumatera Selatan itu tidak di
musyawarahkan dengan dia. Mengenai hal ini menurut Emir Moh. Nur tidak benar,
karena laporan telah dikirim kepada Residen Palembang, tetapi karena sulitnya
komunikasi, laporan itu datangnya terlamat.
2) Terbentuknya
Resimen XI Devisi Garuda SUBKOSS TRI Lampung
Perlu diketahui bahwa nama
TKR pernah dipakai dalam dua macam kepanjangan, yaitu TKR yang berarti Tentara
Keamanan Rakyat yang dibentuk tanggal 5 Oktober 1945, dan TKR yang berarti
Tentara Keselamatan Rakyat yaitu perubahannya pada tanggal 10 Januari 1946.
Tetapi kemudian sejak tanggal 10 Februari 1946 TKR itu di rubah lagi menjadi
TRI yang berarti Tentara Republik Indonesia. Konferensi di Bukit Tinggi tanggal
17 Mei 1946 meutuskan, bahwa kekuatan militer di Sumatera Selatan adalah satu
Sub Komandemen yaitu Sub Komandemen Sumatera selatan (SUBKOSS) yang membawahi
Devisi I Garuda dan Devisi II Garuda. Keputusan ini berlaku surut sejak
1 Januari 1946.
a)
Susunan organisasi SUBKOSS adalah :
(1) SUBKOSS bermarkas di Tanjung Enim, Komandan pertama ialah
Kolonel M. Simbolon.
(2) Devisi I Garuda bermarkas di Lahat, komandannya Kolonel
Barlian.
(3)
Devisi II Garuda bermarkas di Palembang, komandannya
Kolonel bambang Utoyo.
b)
Devisi I/Garuda Lahat terbagi atas 4 Resimen, yaitu :
(1)
Resimen XI Tanjungkarang (Lampung)
(3)
Resimen XIII Lahat, dan
c)
Susunan personalia Resimen XI Devisi Garuda TRI Lampung
selengkapnya sebagai berikut :
(1) Komandan Resimen XI : Letkol Iwan Supardi (ke-I)
(2) Ajudan : Letda
Ja’far (ke-I)
(3) Kepala Staf : Kapten Salim
Batubara (ke-II)
(4) Operasi (Organisasi) : Kapten Mukhizar
Intendance : Letnan Sudarjo
Siasat : Letnan I
Karim Kadir
Polisi Tentara : 1. Letnan I Suparman
(5) Pengangkutan : Kapten Margono
Sekretariat : Letda Kgs.
Badaruddin
Penghubung Masyarakat : Letda A. Herni
d)
Selanjutnya Resimen XI terdiri atas 3 Batalyon, yaitu :
(1)
Komandan Yon I Tjk./T. betung :
(2)
Komandan Yon II Metro :
Kapten Salim Batubara (ke-I)
Kapten Harun Hadimarto (ke-II)
(3)
Komandan Yon III Kotabumi :
3) Terbentuknya
Resimen 41 Devisi VIII Garuda TRI Lampung
Sebagaimana diketahui
bahwa setelah pertempuran 5 hari 5 malam di Palembang melawan Belanda berakhir,
maka sebagai hasil perundingan dengan Belanda TRI terpaksa harus mengundurkan
sejauh 20 km dari radius kota Palembang/Talang Betutu. Untuk menghadapi
serangan Belanda selanjutnya pada tanggal 10 Januari 1947 dianggap perlu
diadakan reformasi/reorganisasi TRI di Sumatera Selatan. Sub Komandemen
dihapuskan dan dijadikan satu devisi yang dinamai DEVISI GARUDA VIII, yang
membawahi 3 Resimen, satu Brigade Pertempuran Garuda Merah ditambah Batalyon
istimewa Garuda Merah.
a)
Tiga Resimen tersebut adalah :
(1)
Resimen 41 Tanjungkarang (Lampung)
b)
Susunan Personalia Resimen 41 Devisi VIII Garuda
Tanjungtkarang adalah :
(1) Komandan Resimen 41 : Letkol M. Arif
(2) Ajudan : Letnan II
Maris
(3) Kepala staf : Myor Nurdin
(4) Siasat : Letnan II
Kasim
(5) Organisasi/Operasi : Kapten Mukhrizar
(6) Sekretaris : Letnan II R. A. Badarudin
(7) Detasemen : Letnan II Maris
(8) Intendence : Kapten M. Hasan
(9) Polisi Tentara : 1. Kapten Rusnawi
c) Resimen 41 Devisi VIII
Garuda terdiri dari 3 Batalton yaitu :
(1) Danyon I Tanjungkarang : Mayor Ismail Husin
(2) Danyon II Kotabumi : Mayor Harun Hadimarto
(3) Danyon III Baturaja : Mayor Sukardi Hamdani
4) Terbentuknya Brigade Garuda
Hitam Devisi VIII TNI Lampung
a) Perubahan TRI menjadi TNI. Pada tangal 2 Februari 1947 Panglima
Tertinggi Presiden RI Ir. Soekarno mengumumkan perintah Gencatan Senjata (Cease
Feri Order). Perintah ini ditaati oleh seluruh Angkatan perang termasuk di
Sumatera Selatan. Namun dalam pada itu TRI tetap waspada dan mempertinggi mutu
serta keterampilannya.
Pada tanggal 3 Juni 1947 sebenarnya dikeluarkan Dekrit presiden yang
memerintahkan perubahan TRI dan peleburan laskar-laskar menjadi Tentara
Nasional Indonesia atau TNI. Namun perubahan itu di Sumatera Selatan nantinya
baru dapat dilaksanakan pada tanggal 27 Oktober 1947. Hal ini disebabkan adanya
kesibukan-kesibukan pertempuran-pertempuran sebagai akibat dari terjadinya Aksi
Militer Belanda (Clash I) yang dimulai pada tanggal 21 Juli 1947 dan telah
menyerang seluruh garis pertahanan terdepan di Sumatera Selatan.
b) Terbentuknya Brigade Garuda
Hitam TNI Lampung. Untuk membendung
kemajuan tentara Belanda sejak dimulainya agresi I tanggal 21 Juli 1947 maka
pada tanggal 1 Juni 1948 struktur organisasi di ubah lagi sehigga Devisi VIII
Garuda menjadi sebagai berikut :
(1) Devisi VIII Garuda terdiri
dari 5 Brigade yang masing-masing komandannya sebagai berikut :
(a) Devisi VIII Garuda,
Komandannya Kolonel M. Simbolon
(b) Brigade Garuda Mas,
Komandannya Kolonel Berlian
(c) Brigade Garuda Hitam,
Komandannya Kolonel Syamuan Gaharu
(d) Brigade Garuda Putih,
Komandannya Kolonel Abujani
(e) Brigade Garuda Merah, Komandannya
Kolonel Bambang Utoyo
(f) Brigade Garuda Dempo,
Komandannya Kolonel Hasan Kasim
(2) Susunan Personalia Brigade
Garuda Hitam TNI Lampung sebagai berikut :
(a) Dan Brigade Gatam : Kol Syamaun Gaharu
(c) Kepala Staf : Mayor Nurdin
(d)
Operasi (organisasi) : Kapten A. Ibrahim
(e)
Siasat :
Kapten Sumarto
(f) Intendance : Kapten Hasan
(g) Perhubungan : Lettu Busni
(h) Angkutan : Kapten Mas Adi
(i) Sekretariat : Letda Kgs Badaruddin
(m) Datasemen : Lettu Ali mansyur
(3) Selanjutnya Brigade Garuda
Hitam terbagi atas 3 Batalyon yang masing-masing Komandannya sebagai berikut :
(a) Danyon 21 Telukbetung : Mayor Ismail Husin
(b) Danyon 22 Kotabumi : Mayor Harun
(c) Danyon 23 Tanjungkarang : Mayor Sukardi
5) Terbentuknya Batalyon Mobil. Pada akhir 1948 situasi nasional maupun regional sudah semakin
gawat, karena Belanda selalu melanggar persetujuan yang telah dibuat. Untuk
daerah Lampung diperkirakan Belanda akan menyerbu kedaerah ini, maka diadakan
persiapan-persiapan pertahanan dan keamanan.
Dibentuknya oleh Sub Teritorial
Lampung suatu Batalyon Mobil yang memiliki persenjataan yang memadai. Seperti
diketahui devisi VIII Garuda yang dibentuk pada tanggal 21 Januari 1947 dengan
personalia sebagai berikut : komandan Devisi VIII Garuda: M. Simbolon Kolonel,
Brigade Garuda Hitam Lampung dengan
Komandan Syamaun Gaharu, Letnan Kolonel, terdiri atas 3 Batalyon :
a)
Batalyon 21 Telukbetung, Komandan Ismail Husin, Mayor.
b) Batalyon 22 Kotabumi,
Komandan Harun Hadimarto, Mayor.
c) Batalyon 23 Tanjungkarang,
Komandan Sukardi Hamdani, Mayor.
Kompi Supomo masuk ke dalam formasi Batalyon 21
Pada tanggal 1 Juli 1948 di bentuk SUBKOSS dengan membawahi :
a)
Sub Teritorial Jambi (STJ) berkedudukan di Jambi
b)
Sub Teritorial Bengkulu (STB) berkedudukan di Bengkulu
c)
Sub Teritorial Lampung (STL) berkedudukan di Lampung
d)
Sub Teritorial Palembang (STP) berkedudukan di Palembang
Sub Teritorial Lampung terdiri atas :
a)
Komando Distrik Militer (KDM) Tanjungkarang, Batalyon 21,
Komandan Kapten Ismail Husin.
b)
Komando Distrik Militer (KDM) Metro, Batalyon 24,
Komandan Kapten Harun Hadimarto.
c)
Komando Distrik Militer (KDM) Kotabumi, Batalyon 22,
Komandan Kapten Sukardi Hamdani.
d)
Komando Distrik Militer (KDM) Tanjungkarang Telukbetung, Mayor N. S Efendy.
Selain itu Batalyon Mobil dengan Komandan Kapten Nurdin, yang terdiri atas
:
a) Kompi I : Komandan Lettu Abdulhak
b) Kompi II : Komandan Lettu Endro
Suratmin
c) Kompi III : Komandan Lettu Supomo
d) Kompi IV : Komandan Lettu Baheram (masih
dalam persiapan)
Pejabat didalam Kompi III antara lain :
a) Kepala administrasi : Letda Masno Asmono
b) Komandan Seksi Mortir : Letda Barmo Atmijoyo
c) Komandan seksi SM : Letda Darto
Markas Batalyon dan asrama Kompi di Kedaton (Gedung Perumahan PTP)
sekarang. Markas asrama itu di tempati dari bulan Juli-Desember
1948. kegiatan kesatuan adalah latihan kesatuan dan melengkapi kesatuan dengan
pakaian seragam, persenjataan dan angkutan. Perlengkapan persenjataan selain
senapan mesin juga mortir buatan Banten. Pakaian hijau dan sepatu lapangan
lengkap. Komandan Kompi mendapat sepeda motor BSA yang masih baru. Waktu
percobaan mortir buatan Banten, terjadi suatu tragedi, karena pelurunya meledak
di dalam suatu laras/tabungnya dan menewaskan penembaknya. Berdasarkan
penembakan umum Brigade Garuda Hitam/Sub Teritorial Lampung, maka Batalyon
Mobil itu dipersiapkan untuk menjadi pasukan tempur yang memperkuat Batalyon.
Batalyon teritorial di KDM-KDM yang memerlukan untuk menghadapi kemungkinan
serangan Belanda dari laut (di Selatan) maupun dari Utara (Martapura). Hal ini
diperkirakan oleh Kapten Supomo dengan adanya perintah operasi gerakan di Kotabumi.
Gerakan dilaksanakan secara bertahap, yang pertama kompi bertahan di Tegineneng
dan Bekri, karena gencarnya serangan Belanda terhadap Tigeneneng dan Bekri,
maka Kompi III Batalyon Mobil dengan tetap memberi perlawanan menjalankan
operasi gerakan ke belakang dan bertahan di Haji Pemanggilan.
16. Karesidenan. Berita kekalahan Jepang atas sekutu
meskipun dirahasiakan pihak Jepang bocor lagi. Berita tersebut di susul pula
dengan berita mengenai Proklamasi Kemerdekaan RI dari Jakarta melalui radio
oleh Kepala Penerangan Karesidenan Lampung, Amir Hasan. Mr. A .Abas sendiri
yang ikut dalam sidang-sidang PPKI kembali ke Lampung disamping membawa berita
mengenai Proklamasi juga membawa teks Proklamasi pada tanggal 23 Agustus 1945. sebagai
tindak lanjut Mr. Abas mengadakan pertemuan di rumah kediaman beliau di
perempatan Enggal Tanjung Karang. Beliau oleh Pemerintah Pusat ditunjuk sebagai
Residen Lampung Pertama. Segera dibentuk Komite Nasional Daerah Lampung (KNID),
kemudian KNI-KNI Kawedanan dan Kecamatan. Di bentuk pula jawatan-jawatan atau
instansi pemerintah untuk mengganti yang tadinya dipegang Jepang untuk
digantikan oleh orang Indonesia. Sebagai ketua KNID adalah Wan Abdurahman dan
sebagai kepala Penerangan ditunjuk Amir Hasan. Setelah terbentuknya Pemerintah
Karesidenan Lampung, maka mulai tanggal 24 Agustus diadakan Upacara Bendera
secara resmi di lapangan samping bioskop King Tanjung Karang dan dikibarkan
bendera Merah Putih serentak seluruh Lampung pada tanggal 24 Agustus 1945.
karesidenan Lampung dibagi atas 3 Kabupaten, yaitu Kabupaten Lampung Selatan,
Kabupaten Lampung Tengah dan Kabupaten Lampung Utara. Sedang pembentukan
pemerintah ditingkat bawah lebih banyak merupakan inisiatif pemuka masyarakat
setempat. Sebagai Residen Lampung, Mr. A. Abas dalam mengambil alih pemerintah
Jepang menghendaki jalan damai, bukan dengan jalan kekerasan. Pada umumnya
pengambil alihan Pemerintahan dari pihak Jepang berjalan lancar, meskipun
sering juga terpaksa terjadi bentrokan bersenjata dengan Jepang. Hal ini karena
Jepang merasa bahwa penyerahan mereka bukan kepada rakyat Indonesia,tetapi
kepada sekutu. Sedangkan kita sejak Proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 merasa
yang berkuasa. Karena adanya perbedaan sikap kedua pihak, sering terjadi juga
bentrokan bersenjata yang sebenarnya merugikan kedua belah pihak.
Bentrokan di Bandar Lampung segera
dapat diatasi setelah diadakan perundingan antara Residen Lampung Mr. Abas
dengan Kolonel Taisa, dimana pihak Jepang akhirnya bersedia menyerahkan
kekuasaan kepada kita. Di Bukit Kemuning juga tak terjadi bentrokan senjata
sedangkan di Kotabumi pihak Jepang bersedia menyerahan kekuasaan, karena kita
sudah merdeka. Tetapi Pemerintah Karesidenan Lampung mau menyerahkan sisa-sisa
tentara Jepang yang telah dilucuti senjatanya untuk dikirim ke Palembang guna
dikembalikannya ke Jepang oleh pihak sekutu. Residen Mr. A. Abas berhasil
membebaskan R. Suharjo Harjo Wardoyo yang diculik oleh Angkatan Pemuda
Indonesia (API). Semula akan dibunuh karena dituduh bekerjasama dengan Jepang.
Tuduhan itu hanya fitnah.
API di Lampung pada tahun 1946
terbagi atas 3 kelompok laskar yaitu PERSINDO, Laskar Rakyat dan Hizbullah. Tetapi
kemudian disatukan kedalam TKR. Keadaan Pemerintahan Karesidenan Lampung,
terutama di bidang Keamanan pada tahun 1946 adalah tenang pada bulan September
1946 terjadi peristiwa pengambil alihan kekuasaan Residen Mr. A. Abas secara
tidak syah, melalui aksi-aksi dari apa yang mereka namakan dirinya ”Panitia
Perbaikan Masyarakat” yang dipimpin Zainal Abidin Keneron. Peristiwa itu
mula-mula terjadi pada tanggal 9 September 1946 dengan menempelkan
pamflet-pamflet di kota Tanjung Karang Teluk Betung yang menuntut agar 15 orang
pejabat yang duduk dalam pemerintah Karesidenan Lampung, termasuk didalamnya
Residen Lampung Mr. A. Abas diberhentikan karena tidak cakap. Mereka kemudian
mengadakan rapat raksasa di Lapangan Enggal. Gerakan ini rupanya mendapat
dukungan, bahkan didalami oleh Komandan Resimen Letnan Kolonel Arif. Kemudian
mereka berdemonstrasi ke DPRD dengan mengarak Dr. Batril Munirdan Ismail sebagai
Residen dan Wakil Residen Lampung. Pada tanggal 12 September 1946 malam Dr.
Batril Munir, Ismail, Letkol Arif dan A. A. Cinderbumi mendatangi Residen Mr.
A. Abas untuk menyerahkan kekuasaan, tetapi ditolak karena dipandang melanggar
Undang-undang.
Pada tanggal 17 September 1946
Pemerintah Karesidenan Lampung diambil alih oleh Resimen XI tanpa sepengetahuan
Residen Lampung. Peristiwa tersebut dilaporkan oleh Mr. A. Abas selaku Residen
Lampung kepada Gubernur Sumatera lewat kawat pada tanggal 23 September 1946.
dan berdasarkan laporan tersebut dikeluarkan maklumat delegasi pemerintah pusat
yang berkunjung ke Sumatera untuk mengakhiri kekacauan Pemerintahan di
Karesidenan Lampung. Kedua delegasi ditugaskan untuk mengambil alih Jabatan
Residen Mr. A. Abas dan semua pegawai yang karena sesuatu hal tak bekerja untuk
membereskan pekerjaannya dan kalau perlu mengoperkan pekerjaannya kepada orang
lain yang di tunjuk oleh Instansi yang bersangkutan. Delegasi akan mengoperkan
pekerjaannya pada Residen yang ditunjuk oleh Presiden. Dengan adanya maklumat
tersebut kekalutan Pemerintahan di Karesidenan Lampung dapat di selesaikan. Kelambatan
tindakan Pemerintah karena menghadapi suasana yang makin panas akibat
pendaratan tentara sekutu dan NICA. Mr. A. Abbas kemudian digantikan oleh Dr.
Batril Munir dan sebagai wakilnya Ismail. Dr. Batir Munir disetujui sebagai
Residen, tetapi wakilnya di tunjuk R. A. Rasid. Ternyata Dr. Batir Munir
kesehatannya terganggu dan kemudian kemelut didalam pemerintahan daerah di
Lampung diselesaikan oleh Mr. Hermani dari Pemerintahan Pusat. Diangkat sebagai
Residen adalah RM. Sukadi Wiryo Harjo, sebagai wakil Residen RA. Basyid.
Keadaan itu berlangsung hingga agresi Belanda II di Lampung tanggal 1 Januari
1949. karena RM Rukadi tidak keluar dari kota Tanjung Karang, maka lalu
dibentuk Pemerintah darurat karesidenan dengan Mr. Gele Harun sebagai Residen
dan RA Basyid sebagai wakil Residen. Sedangkan Mr. A. Abas kembali ke Sumatera
Utara, isterinya Prof. Ani Abbas manopo menjadi dosen di Universitas Sumatera
Utara.
17. Hari Jadi Kodim/Lampung Utara
a. Latar belakang. Kemerdekaan Negara RI yang di
Proklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno Hatta atas nama Bangsa
Indonesia, baru disebarluaskan di daerah Lampung pada tanggal 24 Agustus 1945
setelah Bapak Mr. Abas sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia
kembali dari Jakarta, lewat Palembang dengan membawa teks Proklamasi 17 Agustus
1945. Untuk mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan RI tersebut seluruh
pejuang/rakyat dari daerah Lampung menghimpun dan membentuk Badan Keamanan
Rakyat (BKR) pada tanggal 9 September 1945. adapun perkembangan secara
kronologis sbb :
1) Tanggal 9 September 1945. Dimulai perjuangan di Lampung, para
pemuda dan pemudi dengan kesadaran dan tekad untuk mempertahankan dan
menegakkan Proklamasi 17 Agustus 1945, mereka berkumpul di Tanjung Karang
Lampung, dipelopori oleh Ex Perwira Cyugun, Bitara HAIHO, tujuan untuk
menyumbangkan tenaga dengan menghimpun dan menyusun kekuatan, didalam satu
wadah/badan yang bernama “BADAN KEAMANAN RAKYAT” (BKR) yang semula tugasnya
dibidang “Keamanan saja” kemudian berubah menjadi organisasi tentara, dibawah
satu Komando dan diberi nama “BADAN KEAMANAN RAKYAT” (BKR). Dengan demikian,
BKR merupakan awal dari TNI-ABRI, atau dengan kata lain BKR merupakan embrio
dari TNI/ABRI yang lahir sebagai wadah semangat perjuangan Rakyat.
2) Tanggal 11 September 1945. Didalam perkembangan BKR di daerah
Lampung ini, berubah menjadi PENJAGA KEAMANAN RAKYAT (PKR) dan seterusnya
berkembang sesuai dengan Perjuangan Rakyat Indonesia.
3) Tanggal 5 Oktober 1945. Pemerintah RI mengeluarkan maklumat tentang
pembentukan tentara yang diberi nama Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pembentukan
ini disambut gembira oleh segenap lapisan/badan dan segera pula para pemuda
masuk menjadi TKR, demikian juga pemuda-pemuda yang militan daerah Lampung ikut
masuk menjadi TKR.
4) Tanggal 14 Oktober 1945. berdasarkan hasil rapat masyarakat dan para
perwira Cyugun dan Heiho di Pagar Alam Sumatera Selatan maka daerah Lampung
masuk susunan Divisi V dan berkedudukan di Lahat, Lampung masuk Resimen III
berkedudukan di Tanjung Karang dipimpin oleh Letnan Kolonel Iwan Supardi dengan
membawahi 4 Batalyon diantaranya Batalyon IV di Kotabumi dipimpin oleh kapten
Masadi
5) tanggal 26 Januari 1946. Perubahan Tentara Keamanan Rakyat (TKR)
menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) dan selanjutnya menjelang Agresi
Belanda II dimana segenap kekuatan bersenjata disaat itu telah disatukan dalam
satu wadah Tentara Nasional Indonesia (TNI) penyatuan ini terjadi pada tanggal
3 Juni 1947 berdasarkan Dekrit Presiden/Panglima Tertinggi tanggal 15 Mei 1947.
6) Tanggal 17 Mei 1946. Terjadi perubahan, semula Daerah
Lampung masuk Devisi V kemudian masuk Divisi I Lahat, susunan kekuatan yaitu
Resimen XI di Tanjung Karang dipimpin Letnan Kolonel Iwan Supardi dengan
membawahi 3 Batalyon termasuk Batalyon III di Kotabumi dipimpin oleh Kapten
Hasan
7) Tanggal 10 Januari 1947. Sub Komandemen Sumatera Selatan diubah menjadi
Divisi Komandan VIII, daerah Lampung menjadi Resimen 41 dipimpin Letnan kolonel
Arif membawahi 3 Batalyon diantaranya Batalyon di Kotabumi dipimpin oleh Mayor
Harun Hadinarto.
8) Tanggal 3 juni 1947. Tentara Keamanan Rakyat ( TKR ) yang
telah berubah menjadi Tentara Republik Indonesia ( TRI ) kemudian disatukan
menjadi satu wadah Tentara Nasional Indonesia ( TNI ). Penyatuan ini terjadi
berdasarkan Dekrit Presiden/ Panglima tertinggi tanggal 15 Mei 1947.
9) Tanggal 2 september 1947. Resimen 41 berubah menjadi Brigade
Garuda Hitam di pimpin oleh Letnan Kolonel Samaun Gaharu.Hari inilah merupakan
Tonggak awal sejarah nama Garuda Hitam menjaga wilayah kesatuan RI khusus nya
di wilayah Lampung.
10) Tanggal 1 Juni 1948. dengan adanya Perubahan Brigade Garuda
VIII menjadi Sub Komandemen Sumatera Selatan yang membawahi Sub Teritorial,
maka daerah Lampung disingkat STL yang di pimpin oleh Letnan Kolonel Samaun
Gaharu dengan 3 Distrik Militer dan 3 Batalyon Mobil yang termasuk distrik
Militer Lampung Utara di Kotabumi dipimpin oleh Kapten Sukardi Hamdani.
Sedangkan Danyon mobil dijabat oleh Acting Kapten M. Nurdin membawahi 3
Kompi Yaitu :
a) Kompi
Acting Lettu Abdul Hak
b) Kompi
Acting Lettu Hendro Suratmin
c) Kompi
Acting Lettu Supomo
11) Untuk memperbaiki lini
pertahanan Lampung Utara dan menghambat penerobosan pasukan Belanda dari
Belitan Baturaja, Danyon mobil Kapten M. Nurdin Mmemerintahkan peleton I Kompi
2 dipimpin Letda Bursak menuju Lampung Utara dan berkedudukan di Pakuan
Ratu
12) Selanjutnya pada tanggal 31
Desember 1948 malam, 2 Kompi dari Yon mobil diberangkatkan ke Lampung Utara
a) Kompi I Lettu Abdul Hak akan ditempatkan di Way Tuba Blambangan Umpu
b) Kompi II Lettu Endro
Suratmin di tempatkan diperbatasan Lampung Utara dan lampung tengah yaitu di
Way Subik dan Terbanggi
Besar
13) Masa
perang kemerdekaan II (pada tanggal 1 Januari 1949 pada pada malam hari diadakan
rapat yang dihadiri Danyon Mobil Kapten Nurdin Bupati Lampung Utara Ahmad Akuan
dan tokoh-tokoh masyarakat serta para pimpinan partai politik, dibentuklah
pemerintahan karesidenan Lampung di Kotabumi dan Ahmad Akuan Bupati Lampung
Utara ditunjuk sebagai Residen Darurat Lampung, sambil menunggu berita lebih
lanjut dari Dansub Teritorial Lampung di
Lampung Selatan.
14) Tanggal 19 September
1948. Belanda melakukan Agresi
Militer ke II Sub Teritorial Lampung dibawah Letnan Kolonel Samaun Gaharu dan
Batalyon Mobil dipimpin Kapten Nurdin serta kesatuan lainnya mengadakan
perlawanan dengan melakukan perang Gerilya.
15) Pada tanggal 17 Januari
1949 Pemerintah darurat Keresidenan Lampung di Kotabumi dibubarkan setelah
diangkatnya Mr. Gele Harun Nasution sebagai Residen darurat Keresidenan Lampung
dan R.A Basyid sebagai wakil keresidenan Lampung.
16. Pada bulan Maret 1949
diputuskan untuk mencetak uang darurat Kapten Nurdin Komandan Front Utara dan
Bupati Lampung Utara Ahmad Akuan. Keputusan diambil karena pada waktu itu
kesulitan mendapatkan uang sebagai alat bayar yang sah. Uang darurat tersebut
di cetak di kantor Bupati Lampung Utara yang lokasinya sekarang di gedung juang
’45 dijalan Jend Sudirman no 28 Kotabumi. Sedangkan bangunan asli kantor Bupati
Lampung Utara dibumi hanguskan Belanda pada saat menyerbu pada tanggal 23 Mei
1949.
17) Pada bulan Mei belanda
menyerang kedudukan pasukan Letnan Dua Adnan Sangjaya di Kampung Labuhan Dalam
dan Surakarta ditepi Way Rarem. Dalam pertempuran Letnan Adnan Sangjaya Gugur.
18) Pada tanggal 23 Mei 1949
hampir 5 bulan pendaratan Belanda di Panjang dan Teluk Betung pada januari 1949
akhirnya Belanda berhasil merebut dan menduduki Lampung Utara.
19) Walaupun Kotabumi sudah
diduduki , Namun Perlawanan TNI bersama Pejuang dan Rakyat Lampung terus
bergelora. Pertempuran demi pertempuran terus berlangsung dibeberapa tempat.
a) Pertempuran di Cempaka pada bulan Mei
1949, Danyon Mobil Kapten M.Nurdin mengangkat Haji A.Rasyid Yasin sebagai
kepala Kampung perang Akhir Mei 1949 desa Cempaka diserang pasukan Belanda
dibawah pimpinan Rempen Kaligis, 11 orang penduduk Cempaka tewas ditembak
Belanda. Bulan Juni 1949 pasukan Beruang
Hitam dibawah Serma Adhar Su’ud menyerang pasukan Belanda dan menduduki desa
Cempaka , sejak bulan Oktober 1949 desa Cempaka dikosongkan dari TNI, karena
pasukan Belanda sering mengadakan patroli dengan kekuatan besar dan rakyat desa
Cempaka jadi sasaran kekejaman pasukan Belanda. Tanggal 19 oktober kepala
kampung terpaksa mengungsikan ke luar desanya dan baru kembali setelah
pengakuan kedaulan tanggal 27 Desember 1949.
b) Pertempuran di Ketapang tanggal 15 Juni
1949.
Dalam
pertempuran ini 4 anggota TNI gugur yaitu
- Kopral
Buyung Rusli.
- Pratu
Pulung.
- Pratu
Mustopa
- Maksum.
c) Pertempuran di
Negara Ratu, Kopral Mahmud gugur dan
Letda Gani Somad luka-luka. Wedana Lukman dan Carrat ditembak waktu naik perahu
dan tewas tenggelam.
d) Pertempuran
danperistiwa tragis di Penumangan suatu
kampung yang terletak diantara Menggala dan Pagar Dewa yang pada waktu itu
termasuk Kabupaten Lampug Utara. Pada
akhir Juli 1949 terjadi pertempuran anatara pasukan Macan Loreng Belanda yang
dikenal kejam dan ganas yang sedang berpatroli dengan 2 seksi pasukan TNI
(seksi I Seksi Letda Johan Syah dan Seksi II Seksi Pembantu Letnan CPM Manalu)
yang berangkat dari Pagar Dewa untuk menyerang tenatara Belanda di Menggala.
20) Pada tahun 1950. Salah satu kesatuan di daerah Lampung diubah
menjadi Batalyon XXI yang selanjutnya pindah ke Palembang menjadi Batalyon 201
dipimpin oleh Kapten Zin. Batalyon 206 dipimpin Kapten RM. Ryacudu berkedudukan
di Baturaja.
21) Pada bulan Januari 1953. Batalyon 206 dan Brigade IX dipimpin Letkol R.
Kritarto dipindahkan dari Baturaja ke Tanjung Karang menjadi Resimen Infanteri
Sub Terr-6 Teritorium II Sumatera Selatan. Batalyon 202 dipimpin Mayor Sukondo
di Baturaja masuk susunan Sub Terr-6 Teritorium II Sumatera Selatan.
22) Tahun 1962. Resimen Infanteri Sub Terr-6 Teritorium II
Sumatera Selatan diubah menjadi Komando Resor Militer (KOREM) Garuda Hitam,
Kodam II/Sriwijaya.
23) Tahun 1963. Korem Garuda Hitam resmi menjadi Korem
043/Garuda Hitam diimpin Letnan Kolonel Infanteri Animan Ahyat.
24) Tanggal 13 Desember 1984. Batalyon Infanteri 143/TWEJ masuk
susunan Korem 043/Garuda Hitam.
b. Tugas Operasi Kodim
0412/Lampung Utara
1) Operasi DI dan TII
2) Operasi PRRI
c. Operasi Penumpasan G 30
S/PKI sbb :
1) Tahun 1967 Operasi Susuk
Gulung
2) Tahun 1968 Operasi Sapu
Jagat
3) Tahun 1969 Operasi
Pamungkas
4) Tahun 1971 Operasi Intel
5) Tahun 1980 s/d 1981 Operasi
Sapu Jagad
6) Tahun 1982 Operasi Guntur
d. Tanggal 13 Juli
1971 dengan dibantu oleh Kesatuan Angkatan Laut, Angkatan Udara, Polri dan
Hansip dan Wanra, Kodim/Lampung Utara melaksanakan Operasi BINADHARMA.
e. Tanggal 18
April 1976 s/d Januari 1977 beberapa anggota Kodim/Lampung Utara bergabung
dengan Batalyon Infanteri 143/BS, melaksanakan Operasi Seroja di Timor-Timor.
f. Tanggal 30
Oktober 1976 timbul gangguan keamanan di daerah Lampung, khususnya di Lampung
Utara dari Gerombolan Pengacau Liar (GPL) yang menamakan dirinya Komando Jihad
dibawah pimpinan Warman cs.
Untuk mengatasi gangguan Keamanan tersebut oleh Polri telah dilaksanakan
Operasi Halilintar I, II dan III yang berakhir pada tanggal 25 Januari 1977.
untuk mengimbangi Operasi tersebut, Kodim 0412/Lampung Utara membantu dengan
Operasi Intel dengan nama Waspada Yudha. Selanjutnya Polri melaksanakan Operasi
Kamtibmas karena situasi dan kondisi Operasi beralih menjadi Operasi Teritorial
dan berlanjut menjadi Operasi Por terbatas, yang kemudian ditingkatkan menjadi
Operasi Tumpas I, II dan III.
g. Mulai 1980
Kodim/Lampung Utara sebagai salah satu jajaran TNI/ABRI ikut melaksanakan
Operasi Bhakti TNI/ABRI masuk Desa (AMD), yang sampai saat ini telah menyelesaikan
tahap-tahap AMD. Yang saat ini telah berubah menjadi TMMD (Tentara Manunggal
Masuk Desa).
h. Tahun 1983
s/d 1988 Kodim/Lampung Utara telah melaksanakan Operasi Bhakti Manunggal
Reboisasi I s/d III yang berlokasi di Lampung Utara, Lampung Tengah dan Lampung
Selatan seluas 12.050 Hektar.
i. Tanggal 15
Agustus 1985 telah diberangkatkan Yonif 143/Twej Rem 043/Gatam melaksanakan
Operasi ke Timor-timor dengan kekuatan 687 orang.
j. Untuk
memelihara Stabilitas Nasional di daerah Lampung dan dalam rangka mencegah dan
menetralisir segala kerawanan telah dilaksanakan :
1) Operasi Menggala
2) Operasi Widya Sakti
3) Operasi Sadar
4) Operasi Rajabasa
5) Operasi Seragi
6) Operasi Guntur
k. Dengan terjadinya
peristiwa berdarah di Lampung Tengah yang mengakibatkan gugurnya Danramil
Kecamatan Way Jepara, dan Sek Sidorejo Kecamatan Jabung Lampung Tengah dan anggota
TNI/ABRI lainnya oleh Gerakan Pengaacau Keamanan (GPK) pimpinan Warsidi dari
Talangsari III Rajabasa lama pada tanggal 6 Februari 1989, Kodim 0412/Lampung
Utara melakukan Penumpasan GPK Warsidi dan NII dengan Operasi Teritorial
bernama Operasi Garuda yang dimulai tanggal 7 Februari 1989 bersama dengan
Instansi Keamanan yang terkait.
l. Pejabat-Pejabat
Komandan Kodim 0412/Lampung Utara
1) Kapten Sukardi Hamdani Periode 1948
2) Kapten Harun Hadi Marto Periode
3) Letkol Inf Zulkarnaen Periode 1980 s/d 1985
4) Letkol Inf C.K Pasaribu Periode 1985 s/d 1987
5) Letkol Inf Kamsu Adik.S Periode 1987 s/d 1990
6) Letkol Inf Sutomo Periode 1990 s/d 1991
7) Letkol Kav Said Mujito Periode 1991 s/d 1992
8) Letkol Inf A. Sugiarto Periode
1992 s/d 1994
9) Letkol Inf Sentot Maksum Periode 1994 s/d 1997
10) Letkol l Inf Andi Sudarno Periode 1997 s/d 1998
11) Letkol Ctp Deny
Tamrin Periode 1998 s/d 1999
12) Letkol Inf Arwandi Periode 1999 s/d 2001
13) Letkol Inf Herawan Periode 2001 s/d 2003
14) Letkol Arm Dedy Sastrawan Periode 2003 s/d 2005
15) Letkol Kav Feryy Supriyanto Periode 2005 s/d 2007
16) Letkol Inf R.l. Simanjuntak Periode 2007 s/d 2009
17) Letkol Kav Gigih Nugroho Periode 2009 s/d 2011
18) Letkol Inf Lilik Sudaryani Periode 2011 s/d 2012
19) Letkol Inf Ayi Lesmana Periode 2012 s/d 2013
20) Letkol Inf Marzuki Periode 2014 s/d 2015
21) Letkol Inf Mahfud Supriadi Periode 2015 s/d 2016
22) Letkol Inf R.D.Bahtiar
K,S.IP. Periode 2016 s/d 2018
23) Letkol Inf Krisna Pribudi Periode 2018 s/d Sekarang
Tanggal 2 September 1947
merupakan hari bersejarah bagi daerah Lampung karena pada hari itu telah lahir
pasukan-pasukan bersenjata di daerah Lampung dibawah satu Komando untuk membela
dan mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dan pada intinya
pasukan-pasukan itulah merupakan kesatuan yang menjadi cikal bakal Kodim
0412/Lampung Utara.
BAB V
NILAI
HISTORIS YANG DIAMBIL
18. Umum. Para pejuang kemerdekaan yang telah
berkorban demi kepentingan negara dan bangsa dalam merebut dan mempertahankan
kemerdekaan bagi para generasi penerus dapat memetik hal-hal positif terutama
sifat patriotik dan heroik yang mengandung nilai-nilai kejuangan yang telah
dijadikan nilai juang bangsa Indonesia. Dengan adanya sejarah perjuangan kemerdekaan
disamping berfungsi menjadi penghubung antara generasi penerus yang hidup dan
berjuang mengisi kemerdekaan yang dapat menauladani yang melestarikan dan
mengembangkan jiwa, semangat dan nilai 45 dalam menegakkan dan mengisi
Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada umumnya dan di
Propinsi Lampung bersama Kodim 0412/Lampung Utara.
19. Kepahlawanan. Kebesaran jiwa dan sikap pantang menyerah para pejuang
sebagai pahlawan bangsa dalam memperjuangkan, merebut dan membela serta
menegakkan kemerdekaan ditunjukkan oleh Radin Intan I dan Radin Intan II
terhadap penjajah yang akan menduduki wilayah Lampung dengan melalui bidang
Kapitalisme, impreralisme dan kolonialisme maupun dengan kekuasaan yang
dihadapi dengan bentuk perjuangan fisik dan meningkatkan pada pergerakan
nasional yang dilanjutkan oleh para pejuang-pejuang lainnya hingga Proklamasi
Kemerdekaan Republik Indonesia yang dikenal diantaranya yaitu :
a.
Mayjen Suharjo
b.
Letkol Samaun Gaharu
c.
Letkol Arif
d.
Letkol Iwan Supandi
e.
Kapten Ahmad Ibrahim
f.
Kapten Baheran
g.
Kapten Abdul Hak
h.
Kapten Harun Hadimarto
i.
Letnan A. Army
j.
Kapten Ismail Husin
k.
Mayor Mas Sukardi Hamdani
l.
Kapten RM. Riyacudu
m.
Kapten M. Salim Batubara
n.
Kapten Supomo
o.
Letnan Sastro Sumedi
p.
Kapten Margono
q.
Kapten Masudi
r.
Kapten Nurdin Panji
s.
Kapten Endro Suratmin
t.
Kapten CPM Wily Suratno
u.
Letda Sutrisno
v.
Letnan Warso Kusumo
Bagi generasi penerus bangsa harus terpanggil dan bertanggung jawab dalam
mewujudkan sikap pantang menyerah dalam menghadapi segala tantangan yang telah
dilakukan oleh para pejuang/pahlawan sebelumnya.
20. Kepemimpinan. Sikap dan perilaku kepemimpinan dari para
pejuang/pahlawan dalam memimpin memperjuangkan merebut membela dan menegakkan
kemerdekaan dengan menyingsingkan lengan baju dan memeras darah dan keringat
dalam memperjuangkan kemerdekaan RI patut diteladani bagi generasi penerus
dengan menghayati dan mengamalkan semangat perjuangan para pendahulu, sehingga
dapat memimpin dan bekerja lebih luas lagi dalam mengisi kemerdekaan RI di
Propinsi Lampung. Kebersamaan para pejuang antara yang memimpin dan yang
dipimpin dalam memperjuangkan dan memelihara kemerdekaan RI dengan tetap teguh
dan konsekuen dalam menjaga keamanan dan keselamatan bangsa dan negara RI.
Ikatan batin yang kuat dengan senasib sebangsa dan setanah air untuk
mempertahankan negara dan bangsa sangat menunjang semangat perjuangan dalam
melaksanakan perjuangan dalam merebut dan mengisi kemerdekaan untuk
menyelamatkan negara dan bangsa Indonesia terhadap setiap ancaman dan hambatan
yang mungkin datang, baik yang datang dari luar maupun yang datang dari dalam
negeri yang mengganggu kedaulatan NKRI.
21. Nilai Kejuangan. Dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik
Indonesia khususnya di daerah Lampung dengan keperibadian kuat, semangat
kejuangan yang membara dengan sikap pantang menyerah dalam menghadapi tantangan
dari para pejuang dapat dijadikan nilai juang yang patut diteladani bagi para
prajurit maupun warga negara sesuai dengan profesi dan bidang masing-masing
dalam mengisi kemerdekaan Republik Indonesia khususnya di daerah Lampung. Dan
menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan serta patriotisme bagi generasi penerus
dalam rangka membangun negara di Propinsi Lampung dengan berfalsafah Pancasila.
Karena kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah dari penjajah tetapi merupakan
hasil perjuangan bangsa sampai titik darah penghabisan. Dengan adanya sejarah
perjuangan kemerdekaan daerah Lampung dan sejarah Kodim 0412/Lampung Utara
dapat memperkaya nilai-nilai kejuangan dan sejarah perjuangan para prajurit dan
bangsa Indonesia.
BAB VI
PENUTUP
22. Kesimpulan. Sebagaimana Sejarah
Keberadaannya, TNI adalah :
a. Dilahirkan dari rakyat yang
berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan. TNI bukan tentara bentukan
Pemerintah ataupun golongan/perorangan juga bukan tentara bayaran dan bukan
pula kumpulan prajurit yang menjual tenaga, jiwa dan raganya untuk sesuap nasi.
b. Dari proses kelahirannya
TNI yang berasal dari rakyat yang memilih perjuangan bersenjata, menjelma
menjadi Tentara Keamanan Rakyat, Tentara Keselamatan Rakyat, Tentara Republik
dan kemudian Tentara Nasional Indonesia.
c. Kecenderungan perkembangan
lingkungan strategis, kini dan masa mendatang mengakibatkan bahwa tantangan
yang dihadapi oleh bangsa Indonesia tidak semakin ringan. Sifat-sifat kejuangan
TNI merupakan salah satu jawaban yang relevan bagi setiap Prajurit agar tetap
mampu berperan sebagai penegak Nasionalisme dan sebagai referensi Politik
Negara.
d. Prajurit TNI Kodim
0412/Lampung Utara kedepan diharapkan sebagai bagian dari tatanan nasional
dapat memposisikan kembali pada jati dirinya dan menjauhkan diri dari kegiatan
politik praktis sehingga prajurit TNI di wilayah Propinsi Lampung yaitu Kodim
0412/Lampung Utara sebagai Komando kewilayahan akan mampu menjadi tulang
punggung kesatuan dan persatuan Negara Republik Indonesia.
23. Saran. Pembuatan
Sejarah Kodim 0412/Lampung Utara sebagian dikutip dari buku sejarah yang
berjudul ” Sejarah Perjuangan Kemerdekaan di Lampung” tahun 1994, buku
Pengabdian 60 tahun Kodim 0412/Lampung Utara tahun 2006, Dokumentasi, data
sejarah Kodim 0412/Lampung Utara, Informasi dan dari Tim Penyusun Sejarah. Kami
menyadari sepenuhnya Buku ini masih jauh dari sempurna, untuk itu dengan lapang
hati kami menerima berbagai masukan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi
kesempurnaan Buku ini. Kepada semua pihak yang telah membantu adanya Buku
Sejarah Kodim 0412/Lampung Utara ini, kami menyampaikan Terima Kasih. Semoga
buku ini bermanfaat bagi generasi yang akan datang maupun kita semua.
Kotabumi, Maret 2020
Komandan Kodim 0412/Lampung Utara,
Krisna Pribudi
Letnan Kolonel Inf NRP 11010050960680
DAFTAR PUSTAKA
1.
Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Propinsi Lampung, Sejarah
Perjuangan Kemerdekaan Lampung Buku I, diterbitkan Tahun 1994.
2.
Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Propinsi Lampung, Sejarah
Perjuangan Kemerdekaan Lampung Buku II, diterbitkan Tahun 1994.
3.
Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Propinsi Lampung, Sejarah
Perjuangan Kemerdekaan Lampung Buku III, diterbitkan Tahun 1994.
4.
72 Tahun Pengabdian Kodim 0412/Lampung Utara, Tahun 2020
5.
Peranan Lampung Utara dalam penjuangan dalam
mempertahankan kemerdekaan republik Indonesia 1945 - 1949.
6.
Media Informasi dan Komunikasi Kodim 0412/Lampung Utara,
Warta Kodim 0412/Lampung Utara, Tahun 2008 s.d. 2020
B. TIM PENYUSUN
1. Letnan Satu Inf Basruddin
2. Pembantu Letnan Dua Yudha Bakti
3. Sersan Satu Farial
4. Sersan Dua Harianto
5. Serda
Surono
6. Kopda Asep
Nugroho
7. PNS Amrin