Peresmian kampung Pancasila yang berada di beberapa tiyuh di tubaba, dengan bangunan monumen mini simbolik burung garuda berwarna cat hitam kombinasi hijau loreng, menyimbolkan baju TNI setidaknya menarik untuk menjadi bahan refleksi renungan bagi kita semua. Sekilas melihat dan memandang program kampung Pancasila identik milik institusi TNI dibawah teritorial Kodim 0412/ Lampung Utara.(Jajaran Koramil).
Setiap institusi kelembagaan negara tentu biasa memiliki program pembangunan. Namun bicara Pancasila tentu bersifat universal sebagai konsepsi ideologi negara kebangsaan. Hal ini tak perlu lagi menjadi bahan perdebatan ideoligis konsepsi ideologi kebangsaan. Karna hanya akan menguras tenaga dan pikiran.
Menurut Danramil 412-01/Tuba tengah Kapten Inf Jauhari bhw semua masyarakat Indonesia sudah paham dari yang terdidik maupun tidak bahwa Pancasila merupakan roh napas kebangsaan yang tidak ada lagi yang boleh menggantikannya. Walaupun dalam sejarah keindonesian ada keinginan ideologis untuk menggantikannnya, yang ditandai oleh berbagai macam pemberontakan ( baca : PKI 48 / 65 dan Kartosuwiryo DI/TII 49) namun tetap gagal.
Akan tetapi dalam bentuk isme ideologi pemikiran tentu hal itu tidak mungkin bisa dihilangkan akan selalu ada ditengah kehidupan sosial. Isme pemikiran dalam konsep ideologi keyakinan apapun bentuknya tidak pernah mati. Sebab isme pemikiran itu tertanam dan tersembunyi. Namun jika diplementatifkan dalam bentuk pengorganisasian action tindakan tentu ada aturan hukum yang mengaturnya.
Jika dibentuknya kampung Pancasila merupakan sebuah bentuk membangun ketahan ideologis kebangsaan dari pengaruh paham ideologis isme - isme lain, tentu hal ini perlu mendapatkan dukungan dan memang harus didukung. Sebagai warga negara tentu ini sebuah kewajiban yang harus kita bersama - sama mempertahankan. Tidak sebatas hanya sebuah program pembangunan yang hanya bersifat fisik semata . Malah dalam perjalanan waktu tidak terurus terawat dengan baik terbengkalai begitu saja.
Problem Pancasila hari ini paling mendasar bukan karna adanya gerakan ideologis lain yang ingin menggantikannya. Jika ukurannya ada gerakan ideologis lain ingin merubah Pancasila dalam hitungan jam menit detik bisa diselesaikan dengan mudah. TNI - Kepolisian dan kekuatan masyarakat akan berdiri paling terdepan untuk menyelesaikan secara fisik dengan aturan hukum yang berlalu tentunya.
Problem Pancasila bukan persoalan ideologis kebangsaan simbol negara namun pada dataran implementatif tentang nilai - nilai pancasila. Jika persoalan terletak pada implementatif nilai - nilai pancasila kita semua bisa berdiskusi bertukar pikiran dengan segala macam argumentatif perbedaan. Inilah yang hari ini sesungguhnya yang harus menjadi alam diskusi bebas untuk kita renungkan bersama tentang Pancasila dalam dataran nilai implementatif.
Apakah dalam dataran nilai implementatif dari lima sila Pancasila sudah benar - benar menjadi realitas empiric yang nyata dalam kehidupan kita selama ini. Apakah nilai - nilai Pancasila ada disetiap tindakan dan prilaku kita sehari - hari. Jangan - jangan kita masih sebatas hanya manusia penghapal dari lima sila yang ada dalam Pancasila. Jangan - jangan kita sebatas sibuk membangun monumen fisik Pancasila namun kita sendiri yang sesungguhnya melakukan pengingkaran terhadap nilai - nilai pancasila.
Kita sesungguhnya harus jujur dari hati yang teramat dalam bahwa kita masih berkhianat dalam berpancasila. Kita masih dalam dataran bibir berhenti di dalam ruang tenggorokan kita tentang implememtatif nilai - nilai Pancasila. Ucapan dan tindakan sangat berjarak jauh dengan kenyataan. Setidaknya dengan berdirinya kampung Pancasila di Tubaba di beberapa tiyuh yang ada memberi kita perenungan kembali. Ucapan tindakan prilaku tentang Pancasila harus sejajar bergaris lurus bukan sebaliknya malah berbelok bengkok. Harus menjadi perenungan moralitas..#(Mil 01/05).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.